Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Peranan Kasih Sayang dalam Kehidupan Rumah Tangga

Rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan madrasah pertama tempat manusia belajar tentang cinta, kesabaran, pengorbanan, dan akhlak. Kehangatan sebuah keluarga tidak dibangun hanya dengan materi atau kekuasaan, tetapi dengan kasih sayang, kelapangan dada, dan kemampuan menahan ego. Dalam pandangan Islam, terutama dalam teladan Ahlulbait as, keluarga adalah taman ruhani yang hanya akan tumbuh subur apabila dipelihara dengan kelembutan dan akhlak mulia.


Nasihat yang Disampaikan dengan Kasih Sayang

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Luqman as menasihati putranya dengan penuh kelembutan:

“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Nasihat yang lahir dari kasih sayang akan lebih mudah menyentuh hati dibandingkan kata-kata kasar dan bentakan. Sikap keras justru sering melahirkan pembangkangan dan memperdalam jarak emosional di dalam keluarga.

Karena itu, ketika terjadi kesalahan dalam rumah tangga, Islam mengajarkan agar nasihat disampaikan dengan cara yang lembut. Bahkan riwayat-riwayat Ahlulbait as yang berisi peringatan moral pun hendaknya disampaikan dengan penuh cinta, bukan dengan amarah. Sebab tujuan nasihat adalah memperbaiki, bukan menjatuhkan.


Sumber Perselisihan: Ego dan Tidak Lapang Dada

Banyak perselisihan rumah tangga sebenarnya tidak lahir dari kesalahan satu pihak semata. Pertikaian sering kali muncul karena ego, keras kepala, dan hilangnya sikap lapang dada.

Islam tidak menuntut suami dan istri memiliki kesamaan dalam seluruh aspek kehidupan. Perbedaan karakter adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting ialah bagaimana kedua belah pihak menyikapi perbedaan itu dengan kedewasaan. Ketika perselisihan muncul, suami dan istri hendaknya menenangkan diri, mencari akar masalah dengan akal sehat, lalu menyelesaikannya tanpa saling menyalahkan.


Kejantanan Sejati adalah Mengakui Kesalahan

Budaya yang menganggap laki-laki tidak boleh mengaku salah merupakan warisan ego yang bertentangan dengan nilai Islam. Imam Khomeini pernah mengatakan bahwa ungkapan “omongan laki-laki hanya satu” bukanlah tanda kejantanan. Laki-laki sejati adalah mereka yang berani mengakui kesalahannya.

Mengakui kesalahan tidak akan menjatuhkan kehormatan seseorang. Justru itulah tanda keluhuran jiwa. Orang yang tunduk kepada kebenaran akan lebih dihormati dibandingkan mereka yang mempertahankan gengsi dengan kebatilan.

Imam Hasan al-Mujtaba as berkata kepada Janadah:

“Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan tanpa keluarga besar, dan menginginkan kewibawaan tanpa kekuasaan, maka hendaklah ia keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan ketaatan kepada Allah SWT.”

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta bagi mereka.” (QS. Maryam: 96)


Pemaaf: Jalan Para Nabi dan Imam

Salah satu akhlak teragung dalam keluarga adalah sifat pemaaf. Para nabi dan Imam Ahlulbait as merupakan teladan tertinggi dalam hal ini.

Diriwayatkan dalam Safinah al-Bihar, jilid 2 halaman 207, bahwa seorang penduduk Syam pernah datang kepada Imam Hasan as dan melontarkan kata-kata kasar akibat propaganda kebencian terhadap Ahlulbait. Namun Imam Hasan as tidak membalas dengan kemarahan. Beliau justru menyambutnya dengan penuh kasih dan menawarkan bantuan. Sikap luhur itu membuat orang tersebut berubah total hingga berkata:

“Sebelumnya tidak ada orang yang paling aku benci selain Hasan bin Ali dan ayahnya. Tetapi sekarang tidak ada orang yang paling aku cintai selain Hasan bin Ali dan ayahnya.” (Safinah al-Bihar, jilid 2, hlm. 207)

Imam Ja‘far ash-Shadiq as berkata:

“Memaafkan ketika memiliki kekuatan adalah termasuk sunnah para nabi dan orang-orang bertakwa.” (Safinah al-Bihar, jilid 2, hlm. 208)

Sementara Imam Ali as bersabda:

“Ketika engkau memiliki kekuatan, maka maafkanlah. Sesungguhnya syukur atas kekuatan itu adalah dengan memaafkan.” (Safinah al-Bihar, jilid 2, hlm. 208)

Sikap pemaaf inilah yang menjaga kehangatan rumah tangga. Ketika kesalahan kecil tidak dibesar-besarkan, maka cinta dan ketulusan akan tumbuh. Sebaliknya, keluarga yang dipenuhi dendam kecil akan mudah retak dan kehilangan ketenteraman.

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nur: 22)


Saling Pengertian dalam Rumah Tangga

Kelezatan hidup berumah tangga lahir dari sikap saling memahami. Rasulullah saw memberikan teladan agung dalam menghadapi kesalahan keluarganya dengan kelembutan dan solusi yang bijak.

Dalam Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 272, diriwayatkan bahwa suatu hari salah satu Ummul Mukminin marah ketika melihat makanan kiriman Shafiyyah untuk Rasulullah saw, lalu melempar wadah makanan tersebut. Rasulullah saw tidak membalas dengan bentakan ataupun kekerasan. Beliau hanya memintanya mengganti makanan dan wadah yang rusak itu.

Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw menyelesaikan masalah keluarga dengan ketenangan, bukan dengan teriakan dan penghinaan.


Berbaik Sangka dan Melihat Kebaikan

Islam juga mengajarkan agar manusia tidak terbiasa berpandangan negatif terhadap keluarga maupun masyarakat. Pandangan buruk hanya akan melahirkan kedengkian, fitnah, dan kebencian. Seseorang yang terus mencari aib orang lain diibaratkan seperti lalat yang hanya tertarik pada kotoran. Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih banyak melihat kebaikan dibandingkan kekurangan orang lain.

Dikisahkan, Nabi Isa as pernah melewati bangkai seekor kijang bersama para sahabatnya. Para sahabat menyebut keburukan bangkai itu, tetapi Nabi Isa as justru berkata:

“Betapa putihnya gigi kijang ini!”

Kisah ini mengajarkan bahwa bahkan pada sesuatu yang buruk sekalipun, seorang mukmin tetap berusaha melihat sisi positifnya.


Akhlak Buruk kepada Keluarga dan Akibatnya

Di dalam sejarah Islam disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah menghadiri pemakaman seorang sahabat yang dikenal saleh. Ibunya berkata bahwa anaknya pasti termasuk orang yang bahagia karena dimakamkan langsung oleh Rasulullah saw. Namun setelah pemakaman selesai, Rasulullah saw bersabda:

“Kuburan sedemikian menghimpitnya sehingga tulang-tulang dadanya patah.”

Para sahabat bertanya:

“Bukankah dia orang yang baik, ya Rasulullah?”

Rasulullah saw menjawab:

“Benar, tetapi akhlaknya buruk terhadap keluarganya.”

Riwayat ini menjadi peringatan bahwa kesalehan sosial tidak cukup apabila seseorang masih menyakiti keluarganya sendiri. Rumah tangga adalah cermin sejati akhlak seseorang.


Penutup

Keluarga yang dibangun di atas kasih sayang, kelapangan dada, dan sikap saling memaafkan akan menjadi surga sebelum surga. Ahlulbait as telah memberikan teladan bahwa kelembutan lebih kuat daripada amarah, dan cinta lebih mampu mengubah manusia dibandingkan kekerasan.

Karena itu, setiap suami dan istri hendaknya berusaha menjadikan rumah tangga mereka sebagai tempat bertumbuhnya cinta, pengertian, dan akhlak mulia. Sebab rumah yang dipenuhi kasih sayang bukan hanya menghadirkan ketenteraman di dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju rahmat Allah SWT di akhirat.


Diolah dari buku karya Husain Mazahiri – Surga Rumah Tangga

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.