Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Abu Fadhl Abbas: Kesetiaan Tanpa Syarat di Jalan Kebenaran

“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan agamaku dan tidak akan meninggalkan Imamku.”

Di antara nama-nama besar Karbala, Abbas bin Ali menempati posisi yang unik. Ia bukan imam, tetapi kehadirannya menjadi penopang imamah. Ia bukan pemimpin pasukan, tetapi tanpanya barisan kebenaran terasa runtuh. Abbas adalah wajah kesetiaan murni—kesetiaan yang tidak menawar, tidak menghitung untung-rugi, dan tidak mundur walau tubuh hancur.

Abbas dilahirkan pada tahun 4 Syakban 28 Hijriah dari pasangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. dan Fathimah binti Hizam bin Khalid, yang dikenal sebagai Ummu Banin. Dari pernikahan ini lahir empat putra: Abbas, Abdullah, Ja‘far, dan Utsman. Abbas adalah yang tertua dari Ummu Banin dan tumbuh dalam rumah yang menjadi pusat iman, ilmu, dan keberanian.

Sejak kecil, Abbas dididik langsung oleh Imam Ali a.s. Ia menyerap nilai tauhid bukan sekadar sebagai konsep, tetapi sebagai komitmen hidup. Diriwayatkan bahwa Imam Ali a.s. pernah memeluk Abbas kecil sambil menangis. Tangisan itu adalah firasat: beliau mengetahui bahwa putranya kelak akan kehilangan kedua tangannya di jalan pembelaan terhadap Imam Husain a.s.

Didikan Ummu Banin: Melahirkan Jiwa Pengorbanan

Peran Ummu Banin dalam membentuk kepribadian Abbas tidak dapat diabaikan. Ia berasal dari kabilah Banu Kilab, yang dikenal dengan keberanian dan keteguhan. Namun keberanian Abbas bukan sekadar warisan darah; ia adalah hasil pendidikan akhlak dan ideologi. Ummu Banin mendidik anak-anaknya untuk hidup demi Ahlul Bait, bukan demi diri sendiri.

Ia tidak membesarkan putra-putranya agar selamat, tetapi agar setia. Tidak agar panjang umur, tetapi agar bermakna. Karena itulah Abbas tumbuh sebagai sosok yang lembut hatinya, tetapi keras sikapnya terhadap kezaliman.

Akhlak dan Keutamaan Abu Fadhl

Abbas dikenal dengan gelar Abu Fadhl—pemilik banyak keutamaan. Ia bertubuh tinggi, gagah, dan berwibawa, hingga dijuluki Qamar Bani Hasyim, Bulannya Bani Hasyim. Namun keindahan sejatinya terletak pada akhlak dan iman.

Ia ikut mendampingi Imam Ali a.s. dalam berbagai peperangan besar, termasuk Jamal, Shiffin, dan Nahrawan. Dalam Perang Shiffin, Abbas tampil sebagai ksatria bercadar yang membuat pasukan musuh gentar. Ketika akhirnya Imam Ali a.s. membuka cadarnya dan menciumnya, tampaklah bahwa ksatria itu adalah putranya sendiri.

Abbas bukan hanya pemberani, tetapi juga penyayang. Ia menangis melihat penderitaan kaum tertindas, dan bangkit melawan para penindas. Ia dermawan, rendah hati, dan selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan Ahlul Bait.

Penjaga Kebenaran di Malam Asyura

Pada malam Asyura, saat para sahabat Imam Husain a.s. menghidupkan malam dengan ibadah, Abbas berkeliling perkemahan dengan pedang terhunus. Ia menjaga keluarga Rasulullah saw. dari ancaman musuh. Malam itu, Abbas menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu berupa rukuk dan sujud, tetapi juga kesiapsiagaan menjaga kebenaran.

Ketika Imam Husain a.s. memberi izin kepada para sahabat untuk meninggalkan Karbala demi keselamatan diri, Abbas adalah orang pertama yang menolak. Baginya, hidup tanpa imam adalah kehinaan, dan keselamatan tanpa kebenaran adalah kebatilan.

Tawaran perlindungan dari Syimmir bin Dzil Jausyan pun ditolak. Meskipun satu kabilah, Abbas memilih darah dan syahadah daripada hidup dalam perlindungan rezim zalim.

Puncak pengorbanan Abbas terjadi pada hari Asyura. Atas izin Imam Husain a.s., ia pergi mencari air bagi anak-anak yang kehausan. Dengan keberanian luar biasa, ia menerobos pasukan musuh hingga mencapai Sungai Efrat.

Ketika air berada di genggamannya, ia teringat Imam Husain a.s. dan anak-anak yang kehausan. Ia menahan diri untuk tidak minum. Ia mengisi qirbah dan kembali menuju perkemahan.

Di tengah perjalanan, tangan kanannya terputus, lalu tangan kirinya. Ia tetap maju, menggigit qirbah agar air tidak jatuh. Namun lembing musuh merobek qirbah itu. Air tumpah di tanah Karbala—dan tak lama kemudian, sebuah lembing menembus dadanya.

Abbas gugur sambil memanggil Imam Husain a.s. Ketika saudaranya tiba, Imam Husain menangis dan berkata, “Sekarang patahlah punggungku.”

Makna Abbas bagi Umat

Abbas bin Ali syahid pada usia 34 tahun. Tubuhnya tercabik hingga sulit diangkat. Ia dimakamkan di tempat ia gugur, sebagai saksi abadi kesetiaan.

Imam Ali bin Husain Zainal Abidin a.s. menyatakan bahwa Abbas memiliki kedudukan di surga yang dirindukan para syuhada. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Abbas bukan sekadar pahlawan Karbala, tetapi teladan lintas zaman.

Abbas mengajarkan bahwa kesetiaan kepada imam adalah inti perjuangan. Bahwa iman bukan hanya diyakini, tetapi dibayar dengan pengorbanan. Selama dunia masih diwarnai penindasan, selama Karbala terus berulang dalam wajah yang berbeda, nama Abbas akan tetap hidup—sebagai panji kesetiaan dan keberanian.

Semoga Allah melimpahkan salam dan rahmat-Nya kepada Abu Fadhl Abbas, pemegang bendera kebenaran, dan menjadikan kita bagian dari barisan mereka yang setia hingga akhir.


Disarikan dari buku Karya Sayyid Musa ash-Shadr – Syuhada Padang Karbala

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT