Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Al-Mahdi: Figur Keadilan Fitrah dan Puncak Reformasi Ilahi

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbaitku. Namanya seperti namaku, dan rupa wajahnya menyerupaiku. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kecurangan dan kezaliman.”

Hadis ini bukan sekadar kabar tentang masa depan, melainkan penegasan prinsip mendasar dalam pandangan Islam tentang sejarah manusia: bahwa keadilan adalah tuntutan fitrah, dan ketika kezaliman mencapai puncaknya, fitrah itu akan menuntut hadirnya figur penyelamat yang merealisasikan keadilan secara sempurna. Figur tersebut dikenal sebagai Imam Mahdi a.s.

Jeritan Keadilan di Dunia yang Timpang

Hari ini, seruan tentang keadilan terdengar hampir di seluruh penjuru bumi. Dari podium politik, forum internasional, hingga gerakan sosial, kata “keadilan” dikumandangkan dengan berbagai wajah dan slogan. Namun kenyataannya, dunia justru semakin jauh dari keadilan itu sendiri. Ketimpangan ekonomi melebar, peperangan terus berkobar, lingkungan dirusak tanpa tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan segelintir elite global.

Fenomena ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil akumulasi panjang dari penyelewengan terhadap hak dan kewajiban manusia. Sebagai khalifah Allah di bumi, manusia seharusnya menjaga keseimbangan: antara individu dan masyarakat, antara pembangunan dan kelestarian alam, antara kekuasaan dan tanggung jawab. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian besar manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sebagai sarana pemakmuran, melainkan sebagai alat dominasi dan penghancuran.

Hipotesis ilmiah yang belum tentu benar dijadikan legitimasi kebijakan, rekayasa pemikiran berbasis akal semata diangkat sebagai kebenaran mutlak, lalu semua itu dibungkus dalam jargon kebijaksanaan global. Ironisnya, arah kebijakan tersebut kerap berpihak pada kepentingan ideologis lama yang berakar pada pemikiran zionisme dan orientalisme, sementara negeri-negeri Muslim dijadikan sasaran tekanan, eksploitasi, dan intervensi.

Kezaliman Global dan Proyek Kekuasaan

Kezaliman global bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak. Ia dijalankan melalui strategi rapi, bertahap, dan sistematis. Banyak analis mencatat bahwa dominasi dunia modern tidak lepas dari proyek ideologis yang dirancang oleh kelompok-kelompok tertentu yang meyakini superioritas dirinya atas bangsa dan agama lain. Dalam literatur mereka sendiri, kejahatan ini bahkan dirumuskan sebagai visi jangka panjang, dengan tujuan akhir menunggu munculnya figur pemimpin agung versi mereka.

Dalam perspektif Islam, figur yang mereka tunggu tidak lain adalah Dajjal, simbol puncak kezaliman, tipu daya, dan penyesatan global. Karena itu, untuk menghentikan proyek kejahatan tersebut, tidak cukup dengan perlawanan parsial atau reformasi setengah hati. Yang dibutuhkan adalah figur keadilan sejati—seorang pemimpin yang bukan hanya adil secara struktural, tetapi juga suci secara fitrah dan ditunjuk langsung oleh Allah SWT.

Figur itu adalah Imam Mahdi a.s., sebagaimana diwartakan Rasulullah ﷺ dalam banyak hadis dan ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui isyarat-isyarat kegaiban dan kepemimpinan Ilahi.

Al-Ghaib dan Iman kepada Keadilan yang Tertunda

Al-Qur’an membuka Surah al-Baqarah dengan ciri utama orang-orang bertakwa:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib…”
(QS. al-Baqarah: 2–3)

Makna al-ghaib tidak terbatas pada perkara metafisik abstrak, tetapi juga mencakup realitas Ilahi yang belum tampak secara kasat mata, termasuk kegaiban Imam Mahdi a.s. Dalam sebuah hadis panjang yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah al-Anshari, Rasulullah ﷺ menjelaskan secara rinci rangkaian para washi (penerus) beliau hingga sampai kepada Imam Hasan al-Askari a.s., lalu kepada putranya, Muhammad bin Hasan al-Mahdi a.s.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setelah Imam Hasan al-Askari, kepemimpinan diteruskan oleh putranya yang bergelar al-Mahdi, al-Qa’im, dan al-Hujjah. Ia akan memasuki masa kegaiban, lalu muncul kembali untuk memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman. Rasulullah ﷺ bahkan menyebutkan keberuntungan bagi mereka yang bersabar di masa kegaiban dan menegakkan kebenaran karena cinta kepada Imam Mahdi.

Dari sini jelas bahwa iman kepada al-ghaib bukan iman pasif. Ia menuntut kesabaran, keteguhan, dan komitmen moral. Orang-orang bertakwa bukan hanya menunggu, tetapi mengisi masa kegaiban dengan perjuangan menegakkan kebenaran.

Keadilan sebagai Keniscayaan Sejarah

Kemunculan Imam Mahdi a.s. bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan keniscayaan sejarah dan fitrah. Ketika hak-hak manusia dirampas, kewajiban dibebankan secara timpang, dan kezaliman menjadi sistem global, maka fitrah manusia menuntut hadirnya figur korektif. Dalam Islam, koreksi ini tidak bersifat kompromistis, tetapi revolusioner dalam makna Ilahi: membongkar struktur rusak dan membangun ulang tatanan yang adil.

Imam Mahdi a.s. akan mengembalikan seluruh hak kepada yang berhak, membebankan kewajiban kepada yang wajib memikulnya, serta menghukum para perusak keadilan. Puncak misinya adalah mengakhiri dominasi kezaliman global dengan membinasakan Dajjal, simbol kebohongan dan penindasan.

Kepemimpinan beliau bukanlah kepemimpinan baru yang asing, melainkan kelanjutan langsung dari kepemimpinan Rasulullah ﷺ. Ajaran yang dibawa sama, hukum yang ditegakkan sama, dan sumber legitimasi pun sama: wahyu Allah SWT.

Satu Hukum, Satu Kepatuhan

Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 83, Allah SWT berfirman:

“Apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya berserah diri semua yang di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”

Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s. menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa ketika al-Qa’im al-Mahdi a.s. muncul, tidak akan terdengar di bumi kecuali seruan tauhid dan kerasulan Muhammad ﷺ. Artinya, pada masa pemerintahan Imam Mahdi, tidak ada lagi pluralisme hukum Ilahi. Seluruh manusia tunduk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.

Hal ini tidak bertentangan dengan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama pada masa sebelumnya. Sebab, masa Imam Mahdi adalah fase final sejarah manusia, ketika kebenaran telah tampak secara sempurna dan hujjah Allah tegak secara total. Penolakan pada fase ini bukan lagi penolakan karena ketidaktahuan, melainkan pembangkangan terhadap kebenaran yang nyata.

Menjadi Penjaga Keadilan di Masa Kegaiban

Zaman kegaiban bukanlah zaman kekosongan tanggung jawab. Justru di masa inilah kualitas iman diuji. Orang-orang yang mencintai Imam Mahdi a.s. bukan hanya mereka yang menunggu kemunculannya, tetapi mereka yang menegakkan keadilan, melawan kezaliman, dan menjaga kesucian fitrah manusia sesuai kemampuan mereka.

Imam Mahdi a.s. adalah figur keadilan fitrah, puncak reformasi Ilahi, dan jawaban atas jeritan manusia yang tertindas. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersabar dalam penantian, teguh dalam kebenaran, dan layak menyambut zaman keadilan universal di bawah kepemimpinan Imam Mahdi a.s.

Allahumma ‘ajjil li-waliyyikal faraj.


Disarikan dari buku Husain Mazahiri – Imam Mahdi Figur Keadilan

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.