Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Benarkah Rukun Iman dan Rukun Islam Sunni-Syiah Berbeda?

Pendahuluan: Tabayyun sebagai Jalan Menuju Keadilan Mazhab

Al-Qur’an menegaskan sebuah prinsip yang tidak hanya bersifat moral, tetapi juga epistemologis dan peradaban:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat ini menjadi fondasi dalam memahami perbedaan internal umat Islam, khususnya dalam melihat mazhab Syiah. Banyak tuduhan terhadap Syiah tidak lahir dari kajian ilmiah, melainkan dari transmisi informasi yang tidak diverifikasi. Oleh karena itu, pembahasan tentang rukun iman dan rukun Islam dalam perspektif Syiah harus dikembalikan kepada sumber-sumber otoritatif, bukan kepada polemik ideologis yang miskin rujukan.


Rukun Iman dalam Syiah: Struktur Ushuluddin dan Kesamaan Substansi

Dalam tradisi Syiah Imamiyah, rukun iman dirumuskan dalam lima prinsip utama (ushuluddin):

  1. Tauhid (Keesaan Allah)
  2. Nubuwwah (Kenabian)
  3. Imamah (Kepemimpinan Ilahi)
  4. Al-‘Adl (Keadilan Ilahi)
  5. Ma‘ad (Hari Kebangkitan)

Rumusan ini dapat ditemukan dalam karya-karya teologi klasik seperti Awā’il al-Maqālāt karya Al-Shaykh al-Mufid dan Al-I‘tiqādāt karya Al-Shaykh al-Saduq, serta dalam karya kontemporer seperti Ilāhiyyāt oleh Ja’far Subhani.

Kesamaan dengan Sunni: Fondasi yang Sama

Jika ditelaah secara objektif, tidak ada perbedaan substansial antara Syiah dan Sunnah dalam hal keimanan kepada:

  • Allah
  • Malaikat
  • Kitab-kitab
  • Para nabi dan rasul
  • Hari akhir

Perbedaan yang muncul bukanlah pada isi iman, melainkan pada cara sistematisasi dan penekanan teologis.


Al-‘Adl: Penegasan atas Keadilan Tuhan

Syiah menjadikan al-‘adl sebagai prinsip eksplisit karena menolak segala bentuk atribusi kezaliman kepada Tuhan. Dalam kerangka ini, Tuhan tidak mungkin:

  • Memaksa manusia berbuat dosa
  • Lalu menghukumnya atas perbuatan tersebut

Prinsip ini ditegaskan oleh Nasir al-Din al-Tusi dalam Tajrid al-I‘tiqād, di mana ia menyatakan bahwa keadilan Ilahi merupakan konsekuensi dari kesempurnaan dzat Tuhan.

Menariknya, diskursus ini juga hadir dalam teologi Sunni, khususnya dalam perdebatan antara Asy‘ariyah dan Mu‘tazilah. Dengan demikian, al-‘adl bukanlah konsep eksklusif Syiah, melainkan prinsip Islam yang ditegaskan secara lebih eksplisit.


Imamah: Jantung Teologi Syiah

Jika ada satu konsep yang menjadi pembeda utama antara Syiah dan Sunnah, maka itu adalah Imamah.

Dalam pandangan Syiah, Imamah bukan sekadar institusi politik, melainkan kelanjutan dari misi kenabian dalam bentuk kepemimpinan spiritual dan sosial. Imam bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga penjaga otoritas penafsiran agama.

Dalil Imamah dalam Literatur Syiah

Dalam karya monumentalnya Al-Ghadir, Allama Amini mengumpulkan ratusan riwayat dari sumber Sunni dan Syiah tentang peristiwa Ghadir Khum, di mana Rasulullah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penerusnya.

Selain itu, hadis-hadis seperti:

  • “Engkau bagiku seperti Harun bagi Musa”
  • “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”

menjadi dasar teologis bagi konsep Imamah.


Saqifah: Titik Divergensi Sejarah Islam

Perbedaan teologis ini tidak dapat dilepaskan dari peristiwa historis:

  • Saqifah Bani Saidah

Peristiwa ini dicatat dalam berbagai sumber klasik Sunni seperti:

  • Tarikh al-Tabari karya Al-Tabari
  • Al-Imamah wa al-Siyasah yang dinisbatkan kepada Ibn Qutaybah

Dalam perspektif Syiah, peristiwa ini bukan sekadar pemilihan politik, tetapi pergeseran dari penunjukan Ilahi menuju mekanisme sosial.

Absennya tokoh-tokoh utama seperti Ali bin Abi Thalib, Salman al-Farisi, dan Abu Dzar al-Ghifari memperkuat argumen bahwa keputusan tersebut tidak merepresentasikan keseluruhan umat.


Rukun Islam: Kesatuan yang Tidak Terbantahkan

Berbeda dengan isu Imamah, dalam hal rukun Islam tidak terdapat perbedaan prinsip antara Syiah dan Sunnah.

Semua mazhab sepakat atas lima kewajiban utama:

  1. Syahadat
  2. Salat
  3. Zakat
  4. Puasa Ramadhan
  5. Haji

Kesepakatan ini ditegaskan dalam karya Al-Fiqh ‘ala al-Madhāhib al-Khamsah oleh Muhammad Jawad Mughniyah, yang membandingkan lima mazhab fikih secara objektif.


Variasi Hadis tentang Rukun Islam

Menariknya, dalam literatur hadis terdapat variasi jumlah rukun Islam:

  • Lima rukun dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim
  • Delapan rukun (ditambah amar ma’ruf, nahi munkar, jihad)
  • Tiga atau empat rukun dalam riwayat lain

Variasi ini menunjukkan bahwa formulasi rukun adalah hasil ijtihad dalam merangkum ajaran, bukan batas eksklusif yang menafikan yang lain.


Penegakan Syariat: Perbandingan Mazhab

Dalam masalah pelanggaran kewajiban agama, terdapat perbedaan pendekatan:

  • Mazhab Syafi’i, Maliki, Hanbali: hukuman keras
  • Hanafi: penahanan
  • Syiah Imamiyah: pembinaan bertahap

Pendapat Syiah dapat ditemukan dalam Sharā’i‘ al-Islām karya Al-Muhaqqiq al-Hilli.

Pendekatan ini mencerminkan orientasi tarbiyah (pendidikan), bukan sekadar penghukuman.


Mazhab dan Sejarah: Siapa yang Menentukan Ortodoksi?

Sejarawan Al-Maqrizi dalam Al-Khitat mencatat bahwa dominasi empat mazhab Sunni baru menguat pada abad ke-7 Hijriah.

Artinya:

  • Keragaman mazhab adalah realitas historis
  • Standarisasi ortodoksi terjadi belakangan

Hal ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah umat Islam sebelum itu—yang mengikuti mazhab lain—dianggap menyimpang?


Kesaksian Imam Ahlulbait: Islam sebagai Fondasi Bersama

Dalam hadis yang diriwayatkan dalam Al-Kafi oleh Al-Kulaini, Imam Ja’far al-Sadiq bersabda:

“Selamatlah orang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.”

Hadis ini menegaskan bahwa fondasi Islam adalah satu, dan tidak ada perbedaan dalam prinsip-prinsip dasar tersebut.


Menuju Kesadaran Mazhab yang Dewasa

Perbedaan antara Syiah dan Sunnah bukanlah perbedaan antara iman dan kufur, melainkan perbedaan dalam:

  • Penafsiran otoritas
  • Struktur kepemimpinan
  • Penekanan teologis

Semua Muslim:

  • Bertauhid kepada Allah
  • Mengakui kerasulan Nabi Muhammad
  • Menjalankan kewajiban syariat

Dalam kerangka ini, memahami Syiah bukanlah ancaman, melainkan kebutuhan intelektual untuk membangun kesadaran umat yang lebih adil dan rasional.

Kembali kepada prinsip tabayyun, umat Islam dituntut untuk tidak terjebak dalam prasangka. Sebab sejarah telah menunjukkan: perpecahan sering kali bukan lahir dari perbedaan, tetapi dari ketidakmauan untuk memahami.


Disarikan dari buku Syiah Ditolak Syiah Dicari karya O. Hashem

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.