Tidak diragukan lagi bahwa persoalan perang merupakan salah satu isu paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kompleksitas ini tidak hanya bersumber dari realitas empiris peperangan—yang sarat dengan darah, kehancuran, dan penderitaan—tetapi juga dari cara manusia mempersepsi, menilai,
Dalam tradisi Ahlul Bait, kelahiran seorang Imam tidak pernah dipahami
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan
Dalam kajian-kajian sebelumnya, kita memperoleh gambaran bahwa kepribadian Imam Al-Husain
Tidak diragukan lagi bahwa persoalan perang merupakan salah satu isu paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kompleksitas ini tidak hanya bersumber dari realitas empiris peperangan—yang sarat dengan darah, kehancuran, dan penderitaan—tetapi juga dari cara manusia mempersepsi, menilai,
Dalam tradisi Ahlul Bait, kelahiran seorang Imam tidak pernah dipahami
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan
Dalam kajian-kajian sebelumnya, kita memperoleh gambaran bahwa kepribadian Imam Al-Husain
Tidak diragukan lagi bahwa persoalan perang merupakan salah satu isu paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kompleksitas ini tidak hanya bersumber dari realitas empiris peperangan—yang sarat dengan darah, kehancuran, dan penderitaan—tetapi juga dari cara manusia mempersepsi, menilai,
Dalam tradisi Ahlul Bait, kelahiran seorang Imam tidak pernah dipahami
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan
Dalam kajian-kajian sebelumnya, kita memperoleh gambaran bahwa kepribadian Imam Al-Husain
Tidak diragukan lagi bahwa persoalan perang merupakan salah satu isu paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kompleksitas ini tidak hanya bersumber dari realitas empiris peperangan—yang sarat dengan darah, kehancuran, dan penderitaan—tetapi juga dari cara manusia mempersepsi, menilai,
Dalam tradisi Ahlul Bait, kelahiran seorang Imam tidak pernah dipahami
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan
Dalam kajian-kajian sebelumnya, kita memperoleh gambaran bahwa kepribadian Imam Al-Husain
Tidak diragukan lagi bahwa persoalan perang merupakan salah satu isu paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kompleksitas ini tidak hanya bersumber dari realitas empiris peperangan—yang sarat dengan darah, kehancuran, dan penderitaan—tetapi juga dari cara manusia mempersepsi, menilai,
Dalam tradisi Ahlul Bait, kelahiran seorang Imam tidak pernah dipahami
“Demi Allah, walaupun tangan kananku terputus, aku tidak akan melepaskan
Dalam kajian-kajian sebelumnya, kita memperoleh gambaran bahwa kepribadian Imam Al-Husain