Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Dari Senjata ke Algoritma: Evolusi Medan Jihad

Al-Manar – Setiap kekuasaan yang dibangun di atas penindasan selalu dihantui oleh satu hal: ketakutan. Ketakutan bukan karena lemahnya senjata, melainkan karena rapuhnya legitimasi. Inilah yang hari ini tampak jelas pada rezim Zionis, ketika mereka secara terbuka mengakui ketidaksiapan menghadapi ancaman baru dari Iran—bukan dalam bentuk misil atau pasukan bersenjata, melainkan kecerdasan buatan dan perang informasi di ruang siber.

Laporan resmi yang dibahas di parlemen Zionis awal 2026 mengungkapkan kegagalan struktural sistem mereka dalam menghadapi operasi digital canggih yang dituduhkan berasal dari Iran. Pengakuan ini bukan sekadar isu teknis, melainkan indikasi historis tentang perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan. Sejarah kembali menunjukkan bahwa penjajah sering kali kalah bukan karena diserang dari luar, tetapi karena runtuh dari dalam.

Sejak berdirinya, rezim Zionis bertahan dengan mengandalkan mitos superioritas: militer terkuat, teknologi tercanggih, dan dukungan tanpa syarat dari Barat. Namun sejarah berulang kali membongkar ilusi ini. Perang 2006 melawan Hizbullah menghancurkan mitos “tentara tak terkalahkan”. Gaza membuktikan bahwa dominasi udara tidak mampu memadamkan api perlawanan. Kini, medan baru terbuka—ruang digital—dan sekali lagi Zionis tampak gagap.

Laporan Pengawas Negara illegal Zionis menunjukkan bahwa selama tiga siklus pemilu berturut-turut (2019–2020), mereka gagal membangun sistem pertahanan siber yang memadai. Bahkan lembaga yang paling krusial bagi legitimasi politik mereka—komite pemilu—diakui tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi operasi informasi berbasis kecerdasan buatan. Ini bukan kegagalan sementara, melainkan krisis sistemik.

Sejarah kekuasaan mengajarkan bahwa ketika sebuah rezim tidak lagi mampu mengontrol informasi, ia sedang berada di tepi jurang. Sebab, kontrol narasi adalah tulang punggung kekuasaan modern. Tanpa itu, senjata dan teknologi menjadi tak bermakna.

Dalam tradisi Syiah, perlawanan tidak pernah bersifat statis. Ia hidup, bergerak, dan beradaptasi dengan zaman. Dari Karbala hingga Revolusi Islam Iran, satu prinsip tetap terjaga: melawan kezaliman dengan cara paling efektif pada masanya.

Revolusi Islam 1979 menandai perubahan besar dalam peta politik dunia Islam. Iran tidak hanya menumbangkan rezim tirani, tetapi juga memperkenalkan paradigma baru: kemandirian, keberanian, dan perlawanan terhadap hegemoni global. Sejak saat itu, Iran memahami bahwa konfrontasi dengan kekuatan besar tidak mungkin dimenangkan secara konvensional semata.

Sanksi ekonomi, isolasi politik, dan tekanan militer justru memaksa Iran membangun kemandirian teknologi. Dari industri pertahanan hingga siber, Iran menempuh jalan yang panjang dan berliku. Maka, kehadiran Iran di medan perang informasi hari ini bukan kejutan, melainkan buah dari proses historis yang konsisten.

Sejarah peperangan manusia selalu berubah. Jika dahulu kekuasaan ditentukan oleh pedang, lalu senjata api, kemudian misil, maka hari ini algoritma dan data menjadi medan baru. Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi senjata strategis abad ke-21.

Yang paling menakutkan bagi Zionis bukanlah kemampuan teknis Iran semata, melainkan fakta bahwa teknologi ini digunakan oleh pihak yang tidak bergantung pada legitimasi palsu. Rezim Zionis berdiri di atas narasi yang rapuh, manipulasi sejarah, dan propaganda global. Ketika ruang digital membuka celah bagi narasi alternatif, fondasi kekuasaan mereka terguncang.

Kekhawatiran mereka terhadap bot, kampanye informasi, dan operasi psikologis menunjukkan satu hal: mereka sadar bahwa opini publik adalah titik lemah mereka sendiri. Dalam masyarakat yang dibangun di atas ketakutan dan segregasi, sedikit gangguan informasi saja dapat menimbulkan kepanikan struktural.

Dimensi Ideologis: Ketika Teknologi Bertemu Iman

Teknologi bukan tujuan akhir, Ia hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah nilai dan keyakinan. Di sinilah perbedaan mendasar antara Iran dan kekuatan hegemonik Barat. Bagi yang pertama, teknologi adalah sarana membela yang tertindas; bagi yang kedua, ia sering kali menjadi alat dominasi.

Pemikiran ini sejalan dengan garis ideologis yang ditegaskan oleh Ruhollah Khomeini, bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada senjata, tetapi pada keberanian moral melawan ketidakadilan. Prinsip ini kemudian dilanjutkan dan diperdalam oleh Imam Ali Khamenei, yang berulang kali menekankan pentingnya kemandirian teknologi sebagai bagian dari jihad modern.

Dalam kerangka ini, perang siber bukanlah sekadar konflik teknis, melainkan bagian dari perjuangan ideologis global. Ia adalah arena baru di mana kaum tertindas dapat menantang dominasi tanpa harus meniru model kekerasan musuh.

Ketakutan sebagai Tanda Kemunduran

Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan yang benar-benar percaya diri tidak mudah panik. Ketakutan yang kini ditunjukkan oleh rezim Zionis—hingga harus menuangkannya dalam laporan resmi—adalah tanda bahwa mereka kehilangan kepercayaan terhadap sistem mereka sendiri.

Peretasan ponsel politisi, kebocoran data, dan kegagalan deteksi operasi digital bukan hanya masalah keamanan, tetapi pukulan psikologis. Ia meruntuhkan citra “negara aman” yang selama ini mereka jual kepada warganya dan dunia.

Dalam perspektif Syiah, ini adalah sunnatullah dalam sejarah: kezaliman tidak pernah stabil. Ia tampak kuat di luar, namun rapuh di dalam. Dan ketika retakan itu muncul, ia akan melebar dengan sendirinya.

Makna bagi Dunia Islam dan Kaum Tertindas

Pengakuan ketidaksiapan Zionis ini adalah pesan penting bagi dunia Islam: medan perjuangan selalu terbuka bagi mereka yang mau berpikir dan beradaptasi. Perlawanan tidak harus meniru kekuatan musuh, tetapi menemukan celah kelemahan mereka.

Hari ini, celah itu bernama informasi, legitimasi, dan kepercayaan publik. Dan di sinilah kecerdasan, kesadaran, serta ideologi memainkan peran utama.

Sebagaimana Karbala mengajarkan bahwa jumlah bukan penentu kemenangan, medan siber hari ini menunjukkan bahwa kreativitas dan keyakinan dapat mengalahkan superioritas material.

Babak Baru Perlawanan

Laporan Zionis ini mungkin dimaksudkan sebagai peringatan internal, tetapi bagi kita, ia adalah isyarat sejarah. Isyarat bahwa dunia sedang memasuki fase baru, di mana perlawanan tidak lagi terbatas pada batas geografis atau kekuatan fisik.

Perang hari ini adalah perang kesadaran. Dan dalam perang semacam ini, pihak yang takut adalah pihak yang sedang kalah.

Rezim Zionis boleh memiliki teknologi, tetapi selama ia berdiri di atas penindasan, ketakutan akan selalu menghantuinya—bahkan dari sesuatu yang tak kasat mata: algoritma, data, dan suara-suara kebenaran yang tak lagi bisa mereka bungkam.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT