Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Epistemologi Puasa dalam Perspektif Murtadha Muthahhari

Puasa dalam Islam bukan sekadar ritus tahunan yang mengajarkan lapar dan dahaga. Ia adalah jalan pengetahuan—jalan ma‘rifah—yang menyingkap tabir antara manusia dan hakikat dirinya. Dalam perspektif pemikir besar Syiah, Murtadha Muthahhari, puasa memiliki dimensi epistemologis yang dalam: ia membentuk kesadaran, menyucikan instrumen pengetahuan, dan mengantarkan manusia pada pemahaman eksistensial tentang tauhid dan keadilan Ilahi.

Bagi Muthahhari, ibadah dalam Islam selalu rasional dan memiliki hikmah ontologis. Tidak ada syariat yang hampa makna. Puasa, karenanya, bukan sekadar ketaatan legalistik, melainkan mekanisme pendidikan ruhani dan intelektual.


1. Puasa dan Penyucian Instrumen Pengetahuan

Dalam banyak kuliahnya tentang tarbiyah ruhani dan filsafat etika Islam, Muthahhari menekankan bahwa manusia memiliki beberapa instrumen pengetahuan: akal (‘aql), hati (qalb), dan pengalaman batin. Namun instrumen-instrumen ini dapat tertutup oleh dominasi hawa nafsu.

Puasa bekerja sebagai proses tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—yang membersihkan gangguan syahwat sehingga akal dapat berfungsi jernih. Dalam kondisi kenyang dan terbuai kenikmatan material, manusia cenderung tumpul secara spiritual. Nafsu yang dominan menutup cahaya pengetahuan.

Puasa mengurangi dominasi jasmani agar dimensi ruhani memperoleh ruang. Dengan melemahkan dorongan biologis, manusia menyadari bahwa dirinya bukan sekadar tubuh, melainkan makhluk spiritual yang terhubung dengan Yang Absolut.

Dalam kerangka epistemologi Islam yang ia jelaskan dalam berbagai karya seperti Falsafeh-ye Akhlaq dan Insan wa Iman, pengetahuan sejati tidak hanya lahir dari rasio diskursif, tetapi juga dari penyucian eksistensial. Puasa adalah metode praktis untuk itu.


2. Puasa sebagai Kesadaran Ontologis

Muthahhari memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak menuju kesempurnaan (harakah takamuli). Puasa menempatkan manusia dalam pengalaman eksistensial tentang keterbatasan dirinya. Ketika lapar, manusia menyadari kefakirannya secara ontologis.

Kesadaran lapar bukan sekadar sensasi fisik. Ia menjadi simbol bahwa eksistensi manusia bergantung sepenuhnya pada Allah. Di sinilah puasa menjadi jalan menuju tauhid eksistensial.

Puasa mengajarkan bahwa:

  • Manusia lemah tanpa rezeki Ilahi.
  • Kehidupan bukan milik absolut manusia.
  • Ketergantungan adalah hakikat makhluk.

Kesadaran ini menghasilkan epistemologi tauhid: pengetahuan yang lahir dari pengalaman ketergantungan ontologis kepada Tuhan.


3. Puasa dan Kesadaran Sosial: Epistemologi Keadilan

Dalam kerangka pemikiran sosialnya—yang juga tampak dalam karya seperti Jame‘eh wa Tarikh—Muthahhari menegaskan bahwa Islam tidak memisahkan spiritualitas dari keadilan sosial. Puasa menumbuhkan empati terhadap kaum mustadh‘afin.

Lapar yang dialami orang beriman adalah pengalaman pedagogis. Ia mengubah pengetahuan abstrak tentang kemiskinan menjadi pengalaman konkret. Dengan demikian, puasa melahirkan kesadaran sosial yang lebih autentik.

Di sinilah epistemologi puasa bersifat revolusioner. Ia bukan sekadar pengetahuan individual, tetapi kesadaran kolektif tentang tanggung jawab sosial. Dalam konteks perjuangan umat, puasa membentuk manusia yang tahan godaan material dan siap berkorban demi keadilan.


4. Puasa dan Kebebasan Sejati

Bagi Muthahhari, kebebasan bukan berarti mengikuti keinginan, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Dalam banyak penjelasannya tentang konsep kebebasan dalam Islam, ia menegaskan bahwa manusia diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.

Puasa adalah latihan kebebasan.

Ketika seseorang mampu menahan diri dari hal yang halal demi Allah, ia membuktikan bahwa dirinya lebih tinggi dari dorongan biologisnya. Ia menjadi tuan atas dirinya, bukan budak insting.

Epistemologi kebebasan ini penting: pengetahuan tentang diri tidak mungkin lahir tanpa penguasaan diri. Puasa, dengan demikian, adalah jalan menuju kesadaran diri yang autentik.


5. Puasa sebagai Metode Transformasi Revolusioner

Sebagai murid intelektual dari Ruhollah Khomeini dan bagian dari gerakan intelektual yang melahirkan Revolusi Islam Iran, Muthahhari memahami ibadah sebagai kekuatan transformasi sosial.

Puasa membentuk karakter:

  • Sabar dalam tekanan
  • Tahan terhadap propaganda materialisme
  • Teguh dalam komitmen ideologis

Dalam masyarakat yang dikendalikan konsumsi dan hedonisme, puasa adalah bentuk perlawanan. Ia menolak logika kapitalistik yang mengukur manusia berdasarkan kepemilikan dan kenikmatan.

Dengan demikian, puasa bukan hanya ibadah privat, tetapi praktik pembebasan.


Kesimpulan: Dari Lapar Menuju Ma‘rifah

Epistemologi puasa menurut Muthahhari menempatkan ibadah ini sebagai sarana pembentukan kesadaran tauhid, keadilan, dan kebebasan. Puasa membersihkan instrumen pengetahuan, menguatkan dimensi ruhani, serta membentuk manusia revolusioner yang sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Dalam tradisi Ahlulbait, ibadah selalu memiliki dimensi batin yang dalam. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan menahan diri dari keterikatan pada dunia agar cahaya ma‘rifah bersinar.

Di tengah dunia modern yang memuja konsumsi, puasa adalah deklarasi eksistensial: manusia lebih tinggi dari perutnya, lebih dalam dari jasadnya, dan lebih mulia dari materi.


Sumber Rujukan

  1. Insan wa Iman – Murtadha Muthahhari
  2. Falsafeh-ye Akhlaq – Murtadha Muthahhari
  3. Jame’eh wa Tarikh – Murtadha Muthahhari
  4. Kumpulan ceramah dan kuliah Ramadan beliau yang dihimpun dalam edisi Persia dan terjemahan Arab.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT