Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Hidup di Bawah Panji Ali: Kesetiaan kepada Kebenaran

Pidato Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya dalam Peringatan Kelahiran Amirul Mukminin as di ICC Jakarta tahun 2021

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kepada keluarga sucinya.

Ikhwan dan akhwat sekalian, selamat berbahagia di hari kelahiran cahaya wilayah dan imamah yang pertama, hari kelahiran Amirul Mukminin, Maula al-Muttaqin, Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam. Shalawat dan penghormatan ini kami haturkan kepada para ulama, para maraji‘, dan secara khusus kepada Waliyyu Amril Muslimin, Khalifatullah di muka bumi Al-Mahdi afs, serta kepada seluruh kaum Muslimin.

Setiap kali kita menjumpai momen yang berkaitan dengan para Imam Ahlulbait—baik di hari suka maupun di hari duka mereka—seyogianya kita menghadirkan mereka dalam kehidupan kita. Jangan sampai hubungan kita dengan Ahlulbait berhenti pada sekadar mengenang, sekadar memperingati, atau sekadar mengunjungi sejarah mereka. Jangan sampai Ahlulbait kita tempatkan hanya sebagai tokoh-tokoh masa lalu yang kisahnya selesai di lembaran buku sejarah.

Mengapa demikian?
Karena keyakinan kita kepada para Imam Ahlulbait bukan keyakinan sampingan, melainkan bagian dari keyakinan kita kepada Islam itu sendiri. Dan Islam tidak pernah selesai dengan sejarah. Islam akan terus hidup, akan terus berlaku, dan akan terus menuntut kehadiran dalam kehidupan manusia selama kehidupan masih ada di muka bumi ini.

Maka memperingati hari kelahiran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib bukan sekadar perayaan simbolik. Ia adalah momen untuk mengingat, mengagungkan, dan menghidupkan prinsip-prinsip kebenaran yang tercermin dalam kepribadian agung beliau. Prinsip-prinsip itu oleh Rasulullah ﷺ diringkas dalam satu kalimat yang sangat tegas dan sangat menentukan arah: Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali; di mana ada Ali, di situ ada kebenaran.

Sabda Rasulullah ini bukan pujian emosional. Ini adalah penegasan ideologis. Artinya, Ali adalah simbol kebenaran itu sendiri. Kebenaran bersama Ali, berasal dari Ali, dan kembali kepada Ali. Al-ḥaqqu ma‘akum wa fīkum wa minkum wa ilaykum.

Ketika kita membuka lembaran-lembaran bercahaya dari sirah dan kehidupan Ali bin Abi Thalib, kita akan menemukan sosok dengan kepribadian yang sangat kokoh dan tangguh. Kokoh dalam kehendak, dan tangguh dalam sikap. Kehendak Ali bin Abi Thalib ibarat baja yang tidak meleleh oleh panasnya godaan. Sikap Ali bin Abi Thalib ibarat gunung yang tidak bergoyang oleh terpaan iming-iming dunia.

Bahkan ketika tampuk kepemimpinan seluruh negeri kaum Muslimin berada di tangan beliau, dan harta dari seluruh penjuru wilayah Islam mengalir deras ke hadapannya, Ali tetap hidup dalam kesederhanaan. Suatu hari, Ali menjahit sandalnya sendiri. Ketika Ibnu Abbas datang menghampirinya, Ali bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, berapa menurutmu harga sandal ini?” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak ada harganya wahai Maulai.” Maka Ali berkata, “Demi Allah, sandal ini lebih berharga bagiku daripada kekuasaan atas kalian, kecuali jika dengan kekuasaan itu aku bisa menegakkan kebenaran atau menolak kebatilan.”

Imam Ali ingin mengajarkan kepada kita semua bahwa kekuasaan, jabatan, dan kedudukan tidak memiliki nilai intrinsik. Nilainya hanya ada sejauh ia menjadi sarana untuk menegakkan kebenaran dan menolak kebatilan. Tanpa itu, ia bahkan lebih rendah daripada sandal yang tak berharga.

Ali juga mengajarkan kesabaran dalam beragama dan keteguhan dalam memegang kebenaran. Kita semua menghadapi godaan dalam hidup ini. Pekerja biasa memiliki godaannya sendiri, pegawai negeri memiliki ujiannya sendiri, pejabat memiliki ujiannya sendiri. Semua menghadapi ujian berupa materi, jabatan, syahwat, dan kekuasaan. Untuk bisa bertahan dalam keberagamaan di tengah godaan itu, kita membutuhkan curahan ketangguhan dari sikap Al-Imam Ali bin Abi Thalib.

Imam Ali menggambarkan keteguhan itu dengan sangat ekstrem ketika beliau berkata: demi Allah, jika seluruh dunia diberikan kepadaku agar aku bermaksiat kepada Allah dengan cara mencabut sehelai kulit gandum dari mulut seekor semut, niscaya aku tidak akan melakukannya. Maksiat yang digambarkan Ali adalah sesuatu yang mungkin tidak pernah kita anggap sebagai maksiat. Namun bagi Ali, prinsip kebenaran tidak mengenal skala kecil atau besar.

Lembaran bercahaya lain dari kehidupan Ali bin Abi Thalib adalah sikap prinsipalisnya. Ali adalah sosok yang mengedepankan prinsip kebenaran di atas seluruh pertimbangan lainnya. Ketika kekuasaan ditawarkan kepadanya dengan syarat mengikuti Kitabullah, Sunnah Rasulullah, dan sunnah dua khalifah sebelumnya, Ali menjawab dengan tegas bahwa baiat kepadanya hanya boleh berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasulullah, dan ijtihadnya sendiri.

Ali tidak ingin memulai kepemimpinan dengan ketidakjujuran dan kompromi tersembunyi. Bahkan ketika umat mendatanginya setelah terbunuhnya khalifah ketiga, Ali berkata, “Tinggalkan aku dan carilah selainku. Ketahuilah, jika aku memimpin kalian, aku akan memimpin berdasarkan apa yang aku ketahui tentang kebenaran, dan aku tidak akan menghiraukan celaan siapa pun.”

Imam Ali tidak memberikan keistimewaan kepada siapa pun, bahkan kepada keluarganya sendiri. Ketika Aqil bin Abi Thalib meminta tambahan dari Baitul Mal karena kesulitan ekonomi, Ali memanaskan sepotong besi dan mendekatkannya ke tubuh Aqil. Ketika Aqil menjerit, Ali berkata, “Engkau menjerit karena api yang dinyalakan manusia untuk permainan, lalu engkau hendak menyeretku ke api neraka yang dinyalakan Allah karena murka-Nya?”

Apakah sikap seperti ini tanpa risiko? Tidak. Keteguhan Ali dalam prinsip kebenaran menimbulkan ongkos yang sangat mahal. Setidaknya ada tiga peperangan besar di masa kepemimpinan Imam Ali yang terjadi karena penolakan terhadap pola kepemimpinannya. Ali juga harus membayar dengan puluhan tahun laknat di mimbar-mimbar salat Jumat oleh musuh-musuhnya.

Namun Ali tetap berdiri di atas kebenaran.
Ali yang kokoh dan prinsipalis itu adalah juga Ali yang berhati lembut dan penuh empati. Ali menangis di atas mimbar ketika mendengar pasukan Mu‘awiyah menyerang wilayah, memasuki rumah-rumah, dan merampas perhiasan perempuan—bahkan perempuan non-Muslim. Imam Ali berkata bahwa jika seorang Muslim mati karena sedih mendengar peristiwa itu, maka ia tidak tercela dan bahkan sangat beralasan.

Ali tidak berbicara tentang identitas agama. Ia berbicara tentang kemanusiaan. Kesucian dan kemuliaan manusia adalah sakral di hadapan Ali. Ali mengajarkan untuk menghormati manusia sebagai manusia, apa pun agama, kelompok, atau identitasnya.

Ali hidup sederhana bukan karena tidak mampu hidup mewah, tetapi karena ingin berempati kepada rakyatnya yang paling miskin. Ia berkata bahwa jika ia mau, ia bisa menikmati madu, gandum, dan sutra terbaik. Namun bagaimana mungkin ia tidur kenyang sementara di sekitarnya ada perut-perut lapar dan kerongkongan yang dahaga?

Ali juga adalah teladan dalam ibadah. Ia mencintai salat sejak kecil. Ia menghargai satu rakaat salat lebih daripada surga dan seisinya. Ini adalah cambuk keras bagi kita semua yang mengaku mencintai Ali, tetapi masih menganggap salat sebagai beban.

Ali melakukan semua ini bukan untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani. Ali bukan milik sejarah, tetapi milik kehidupan. Dan satu-satunya jalan yang mendekatkan kita kepada Ali adalah wilayah Ali—wilayah yang ditaati, diamalkan, dan diperjuangkan.

Semoga Allah menjadikan kita pengikut sejati Amirul Mukminin, memberi kita kekuatan untuk mengamalkan ajarannya, dan mengumpulkan kita bersamanya di dunia dan akhirat.

اللهم صل على محمد وآل محمد
وعجل فرجهم

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT