
Keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi as merupakan salah satu simpul penting dalam akidah Islam, khususnya dalam mazhab Ahlulbait as. Ia bukan sekadar isu eskatologis atau harapan masa depan, melainkan bagian dari sistem keimanan yang menyangkut kesinambungan hidayah Ilahi di muka bumi. Karena itu, mengenal Imam Mahdi as bukan urusan spekulatif, apalagi romantisme spiritual, melainkan kewajiban iman yang memiliki konsekuensi teologis dan eksistensial.
Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa meninggal dunia dan tidak mengenal imam pada zamannya, maka kematiannya adalah kematian jahiliyah.”
(HR. Muslim, Ahmad, dan lainnya)
Hadis ini menunjukkan bahwa keimanan tidak berhenti pada pengakuan terhadap kenabian, tetapi menuntut pengenalan terhadap imam yang sah pada setiap zaman. Oleh karena itu, persoalan Imam Mahdi as tidak dapat diperlakukan secara serampangan, apalagi direduksi menjadi bahan klaim personal atau alat legitimasi ambisi duniawi.
Standar Kebenaran: Al-Qur’an dan Hadis, Bukan Ilusi Spiritual
Ketika ciri-ciri Imam Mahdi as dikaji secara serius berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw yang sahih dan mutawatir, maka akan terbentuk pemahaman yang jernih tentang sosok agung ini. Pemahaman semacam ini berfungsi sebagai benteng akidah agar umat tidak mudah tertipu oleh individu-individu yang mempromosikan diri sebagai al-Mahdi dengan modal mimpi, intuisi, pengalaman spiritual, atau klaim kemampuan supranatural.
Para ulama salaf telah sepakat bahwa pengalaman personal—seperti mimpi, ilham, dan intuisi—tidak dapat dijadikan hujjah syar‘i. Agama tidak dibangun di atas perasaan subjektif, melainkan di atas wahyu yang terjaga: Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw yang sahih, hasan, atau mutawatir. Jalan inilah satu-satunya jalan yang selamat dalam memahami agama Islam.
Sebagian orang yang mengaku Imam Mahdi sering kali tampil dengan tutur kata manis, argumentasi yang tampak rapi, dan dalil-dalil yang sekilas meyakinkan. Namun hakikat yang mereka inginkan bukan kebenaran, melainkan pembenaran diri. Inilah bentuk kesesatan yang paling berbahaya: kebatilan yang menyamar sebagai kebenaran.
Istidraj dan Tipu Daya Spiritual
Tidak sedikit dari para pengklaim palsu yang memamerkan kelebihan-kelebihan luar biasa dan menganggapnya sebagai karamah. Padahal, dalam banyak kasus, hal tersebut tidak lain adalah istidraj, yakni kelebihan semu yang diberikan Allah kepada orang yang ingkar sebagai bentuk penangguhan azab.
Allah SWT berfirman:
“Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui.”
(QS. al-Qalam: 44)
Orang yang terjebak dalam istidraj sering kali merasa dirinya mendapat ilham malaikat, padahal hakikatnya ia sedang dipermainkan setan dan hawa nafsunya sendiri. Kotoran dosa yang menumpuk di hati, akal, dan darah—akibat makanan haram dan syubhat—menjadikan cermin batin mereka buram, sehingga kebohongan tampak seperti kebenaran.
Ciri-Ciri Fisik Imam Mahdi as dalam Riwayat Sahih
Rasulullah saw telah menjelaskan ciri-ciri fisik Imam Mahdi as secara rinci dalam banyak hadis, sehingga hampir mustahil bagi seseorang untuk memalsukannya secara sempurna.
Dalam Sunan Abu Dawud diriwayatkan:
“Al-Mahdi adalah dari keturunanku; dahinya lebar dan hidungnya mancung lurus.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa wajahnya bersinar seperti bintang mutiara, warna kulitnya putih kemerah-merahan, dan postur tubuhnya menyerupai keturunan Bani Israil. Riwayat-riwayat ini tercatat dalam kitab-kitab seperti Is‘āf ar-Rāghibīn, as-Sawā‘iq al-Muḥriqah, dan Nur al-Abṣār.
Dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as diriwayatkan bahwa Imam Mahdi as adalah seorang pemuda bertubuh kekar, tampan, rambutnya terurai hingga ke bahu, dan cahaya wajahnya melebihi warna hitam rambut serta jenggotnya (lihat ‘Aqd ad-Durar).
Ciri-ciri fisik ini bukan sekadar detail biologis, melainkan tanda pengenal Ilahi agar umat tidak tertipu oleh figur-figur buatan yang lahir dari rekayasa sosial dan politik.
Akhlak Imam Mahdi as: Pantulan Nur Muhammad
Namun, ciri fisik hanyalah lapisan luar. Yang jauh lebih menentukan adalah akhlak dan kepribadian Imam Mahdi as. Rasulullah saw bersabda:
“Al-Mahdi adalah dari keturunanku; namanya seperti namaku dan ia adalah orang yang paling mirip denganku dalam rupa dan akhlak.”
(Yanābi‘ al-Mawaddah)
Kemiripan ini terutama terletak pada akhlak: kejujuran mutlak, amanah total, kecerdasan yang tercerahkan oleh wahyu, serta keberanian dalam menegakkan keadilan. Meski demikian, para ulama seperti Ibn ‘Arabi dalam al-Futūḥāt al-Makkiyyah menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat menyamai akhlak Rasulullah saw secara sempurna, karena Allah sendiri memuji beliau dengan firman-Nya:
“Dan sungguh engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. al-Qalam: 4)
Imam Mahdi as adalah pancaran dari nur Muhammad, pembela syariat kakeknya, dan penjaga kemurnian Islam dari distorsi akhir zaman.
Kepemimpinan Universal dan Keadilan Kosmik
Salah satu ciri paling agung dari Imam Mahdi as adalah kepemimpinannya yang diterima oleh seluruh makhluk. Rasulullah saw bersabda:
“Penduduk langit dan penduduk bumi ridha terhadap kepemimpinan al-Mahdi.”
(HR. ath-Thabarani, ar-Ruyani)
Bahkan dalam riwayat lain ditegaskan bahwa burung-burung di udara pun menerima kepemimpinannya. Ini menunjukkan bahwa keadilan Imam Mahdi as bersifat kosmik, melampaui batas etnis, bangsa, dan kepentingan politik. Ia membagi harta secara merata, menghapus penindasan struktural, dan memenuhi hati umat dengan rasa cukup dan keadilan sejati.
Ilmu, Kemandirian, dan Wibawa Ilahi
Dalam sebuah riwayat, Imam Husain as ketika ditanya tentang ciri Imam Mahdi menjawab bahwa tanda utamanya adalah ketenangan dan kewibawaan. Ketika ditanya lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Imam Mahdi dikenal melalui pengetahuannya yang mendalam tentang halal dan haram, serta fakta bahwa manusia membutuhkan dirinya, sementara ia tidak membutuhkan siapa pun (lihat al-Ikhtiṣāṣ).
Inilah standar imamah sejati: ilmu yang bersumber dari Allah, bukan popularitas; kewibawaan ruhani, bukan pencitraan; dan kemandirian dari manusia, bukan ketergantungan pada massa.
Ujian Zaman dan Tanggung Jawab Umat
Kita hidup di zaman ketika dusta sering dipoles sebagai kecerdasan, riya’ dianggap prestasi, dan kesombongan disamarkan sebagai kharisma. Dalam situasi seperti ini, umat mudah tergesa-gesa mengkultuskan figur, menilai kesalehan dari simbol lahiriah, dan mencampuradukkan agama dengan kepentingan politik sekuler.
Imam Mahdi as tidak lahir dari panggung propaganda, tidak tumbuh dari pasar popularitas, dan tidak muncul dari rekayasa manusia. Ia adalah pilihan Allah, dan hanya hati yang bersih, akal yang jujur, serta iman yang tunduk pada wahyu yang mampu mengenalnya.
Pertanyaan terakhir bukan lagi “siapa Imam Mahdi?”, melainkan:
apakah kita siap mengenalnya—atau justru sibuk menciptakan Mahdi versi hawa nafsu kita sendiri?
Disarikan dari buku Husain Mazahiri – Imam Mahdi Figur Keadilan