Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Iran Berdiri Tegak: Menantang Tekanan, Menjemput Kemenangan

Dalam dinamika geopolitik yang semakin memanas, Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyampaikan sikap tegas terhadap ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pernyataan ini bukan sekadar respons diplomatik biasa, melainkan cerminan dari tekad sebuah bangsa yang telah lama ditempa oleh tekanan, sanksi, dan ancaman militer.

Qalibaf dengan lantang menegaskan bahwa tidak seorang pun memiliki hak untuk mengeluarkan ultimatum kepada Iran dan rakyatnya. Pernyataan ini muncul setelah Trump sempat mengancam akan “menghancurkan” fasilitas pembangkit listrik Iran, sebelum akhirnya melunakkan retorikanya. Namun bagi Iran, ancaman tetaplah ancaman—dan kedaulatan adalah harga mati.

“Wahai rakyat Iran yang heroik! Kehadiran kalian selama 25 malam di jalan-jalan serta pengorbanan angkatan bersenjata telah menciptakan kondisi bagi kemenangan bersejarah bagi Iran tercinta,” tulis Qalibaf.

Pernyataan tersebut mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar retorika politik. Ia merupakan pengakuan atas peran sentral rakyat dalam menjaga eksistensi negara Islam. Selama 25 malam berturut-turut, jutaan rakyat Iran turun ke jalan sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Islam sekaligus kecaman terhadap agresi Amerika Serikat dan sekutunya.

Perlawanan Rakyat: Spirit Revolusi yang Tak Pernah Padam

Gelombang demonstrasi ini bukanlah fenomena sesaat. Ia adalah kelanjutan dari tradisi panjang perlawanan rakyat Iran terhadap intervensi asing dan imperialisme global. Sejak kemenangan Revolusi Islam 1979, rakyat Iran telah berulang kali membuktikan bahwa mereka tidak tunduk pada tekanan eksternal.

Dalam konteks ini, kehadiran massa di jalan bukan hanya simbol protes, tetapi juga manifestasi dari kesadaran kolektif yang berakar pada nilai-nilai Islam revolusioner—nilai yang diwariskan oleh para syuhada dan ulama pejuang.

Qalibaf menegaskan bahwa generasi muda Iran tidak akan melepaskan peluang ini hingga kemenangan total tercapai. Ia juga menyatakan tekad untuk mengakhiri siklus destruktif “perang–gencatan senjata–perang” yang selama ini dipaksakan oleh kekuatan global.

Selat Hormuz: Titik Strategis dan Simbol Perlawanan

Ketegangan memuncak ketika Trump mengeluarkan ultimatum terkait Strait of Hormuz—jalur vital yang menjadi nadi distribusi minyak dunia. Amerika Serikat menuntut Iran membuka blokade di kawasan tersebut, dengan ancaman penghancuran fasilitas vital jika tuntutan tidak dipenuhi.

Ultimatum ini awalnya diberikan pada 23 Maret, dengan tenggat waktu yang kemudian diperpanjang hingga 27 Maret. Namun Iran tidak bergeming. Bagi Tehran, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan simbol kedaulatan dan alat strategis dalam menghadapi tekanan global.

Seorang sumber militer Iran bahkan menyatakan bahwa jika Amerika Serikat mencoba membuka jalur tersebut dengan cara paksa, maka Iran siap menghadapi segala konsekuensi—termasuk konfrontasi langsung.

Mobilisasi Besar: Satu Juta Tentara dan Gelombang Relawan

Dalam perkembangan yang semakin serius, laporan dari media menyebutkan bahwa Iran tengah mengorganisasi lebih dari satu juta pasukan untuk kemungkinan perang darat. Selain itu, gelombang relawan dari kalangan pemuda terus mengalir ke pusat-pusat rekrutmen seperti Basij, Garda Revolusi Islam (IRGC), dan angkatan bersenjata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertahanan Iran tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer formal, tetapi juga pada partisipasi rakyat yang dilandasi iman dan nasionalisme religius.

Seorang pejabat militer menyatakan:

“Selain pengorganisasian lebih dari satu juta pasukan darat, permintaan dari pemuda Iran terus membanjiri pusat-pusat rekrutmen untuk turut serta dalam pertempuran ini.”

Ini mengingatkan kita pada semangat Karbala—ketika keberanian dan pengorbanan menjadi ukuran utama kemenangan, bukan jumlah atau kekuatan material semata.

Menuju Kemenangan Bersejarah

Pernyataan Qalibaf menutup dengan nada optimisme yang kuat: bahwa Iran berada di ambang kemenangan bersejarah. Kemenangan ini bukan hanya dalam arti militer, tetapi juga kemenangan moral, ideologis, dan peradaban.

Dalam perspektif Syiah, perjuangan melawan kezaliman bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Seperti yang dicontohkan oleh Imam Husain di Karbala, mempertahankan kebenaran meski menghadapi kekuatan besar adalah inti dari ajaran Islam yang sejati.

Hari ini, Iran menempatkan dirinya dalam garis sejarah tersebut—sebagai representasi perlawanan terhadap hegemoni global dan pembelaan terhadap kedaulatan umat.

Jika gelombang ini terus berlanjut, maka apa yang disebut Qalibaf sebagai “kemenangan bersejarah” bukanlah sekadar retorika, melainkan sebuah realitas yang sedang dibangun—oleh rakyat, oleh darah para syuhada, dan oleh keyakinan yang tak tergoyahkan. (PressTV)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT