Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kelahiran Imam Husein dan Jalan Izzah dalam Pemikiran Imam Khamenei

Khamenei.ir – Kelahiran Imam Husein a.s. bukanlah sekadar peristiwa biologis dalam sejarah keluarga Rasulullah Saw. Ia adalah momen kosmik yang menandai kelahiran sebuah proyek Ilahi—sebuah garis panjang perjuangan yang kelak mencapai puncaknya di Karbala. Dalam banyak penjelasannya, Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa Imam Husein a.s. sejak hari pertama kehadirannya di dunia telah ditempatkan oleh Allah dalam poros sejarah umat manusia, bukan hanya umat Islam.

Riwayat menyebutkan bahwa kelahiran Imam Husein a.s. disambut langsung oleh Rasulullah Saw dengan tangisan, pelukan, dan doa. Tangisan itu, sebagaimana sering dijelaskan dalam tradisi Ahlulbait, bukan sekadar luapan emosi seorang kakek, melainkan penyingkapan masa depan: Rasulullah Saw mengetahui bahwa bayi ini akan memikul beban yang amat berat demi menyelamatkan agama kakeknya. Sayid Ali Khamenei memaknai momen ini sebagai kesatuan antara cinta dan kesadaran. Sejak awal, cinta Nabi kepada al-Husein tidak pernah terpisah dari kesadaran akan tanggung jawab sejarah yang akan diemban cucunya.

Kelahiran Imam Husein a.s. adalah kelahiran harapan—harapan bahwa Islam tidak akan dibiarkan berubah menjadi agama istana, agama legitimasi kekuasaan zalim, atau agama ritual kosong yang kehilangan ruh keadilan.

Keagungan yang Tumbuh Bersama Wahyu

Imam Husein a.s. tumbuh dalam rumah yang menjadi pusat turunnya wahyu dan turunnya nilai. Ia diasuh oleh Rasulullah Saw, dibesarkan dalam pelukan Imam Ali a.s., dan ditempa oleh keteladanan Sayidah Fatimah a.s.. Dalam pandangan Sayid Ali Khamenei, faktor lingkungan ini bukan sekadar latar belakang historis, melainkan unsur pembentuk kepribadian revolusioner Imam Husein a.s.

Beliau menekankan bahwa keagungan Imam Husein a.s. tidak muncul secara instan di Karbala, melainkan merupakan hasil dari proses panjang pendidikan ilahiah. Kejujuran, keberanian, kepekaan terhadap kezaliman, dan penolakan terhadap kompromi batil telah tertanam sejak masa kanak-kanak. Karena itu, ketika tiba saatnya berdiri menghadapi kekuasaan Bani Umayyah, sikap Imam Husein a.s. bukan reaksi emosional, tetapi konsekuensi logis dari kepribadian yang telah matang.

Keagungan Imam Husein a.s., sebagaimana sering ditegaskan oleh Sayid Ali Khamenei, terletak pada kemampuannya menggabungkan spiritualitas yang tinggi dengan kesadaran sosial-politik yang tajam. Ia bukan sosok yang menarik diri dari masyarakat demi ibadah personal, tetapi juga bukan aktivis politik tanpa ruh ibadah. Pada dirinya, ibadah dan perlawanan berpadu tanpa kontradiksi.

Kepribadian yang Menolak Tunduk

Salah satu poros utama penafsiran Sayid Ali Khamenei tentang Imam Husein a.s. adalah konsep izzah—kemuliaan yang tidak dapat dibeli dan tidak dapat ditundukkan. Imam Husein a.s. hidup di masa ketika kekuasaan berusaha menormalisasi kezaliman, menuntut legitimasi dari simbol-simbol agama, dan menginginkan baiat dari figur-figur suci untuk memperkuat dominasi mereka. Dalam situasi inilah, kepribadian Imam Husein a.s. tampil sebagai penolakan total terhadap kehinaan.

Pernyataan beliau yang masyhur, “Orang sepertiku tidak akan berbaiat kepada orang seperti Yazid,” oleh Sayid Ali Khamenei dibaca sebagai manifesto etis umat Islam sepanjang zaman. Ini bukan sekadar penolakan personal, melainkan penetapan garis demarkasi antara Islam yang hidup dan Islam yang diperalat.

Kepribadian Imam Husein a.s. adalah kepribadian yang sadar akan konsekuensi. Ia tahu bahwa jalan yang dipilihnya berujung pada pengorbanan darah, keluarga, dan sahabat. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Sayid Ali Khamenei, justru di sinilah letak keagungannya: kesadaran penuh, tanpa ilusi, tanpa romantisasi palsu.

Teladan Bagi Umat yang Tertindas

Sayid Ali Khamenei berkali-kali menegaskan bahwa Imam Husein a.s. bukan hanya milik kaum Syiah, tetapi milik seluruh umat manusia yang menolak penindasan. Namun, Syiah memikul tanggung jawab lebih besar: menjadikan Imam Husein a.s. sebagai model hidup, bukan sekadar figur ratapan.

Dalam konteks ini, kelahiran Imam Husein a.s. harus dipahami sebagai kelahiran sebuah paradigma. Paradigma bahwa kebenaran tidak diukur oleh jumlah pengikut, kekuatan militer, atau dominasi media. Kebenaran diukur oleh kesetiaan pada prinsip ilahi, meski harus berdiri sendirian.

Kepribadian Imam Husein a.s. mengajarkan bahwa diam di hadapan kezaliman adalah bentuk keterlibatan. Sayid Ali Khamenei menyebut sikap pasif sebagai salah satu penyakit umat, penyakit yang ingin disembuhkan oleh kebangkitan Karbala. Maka, memperingati kelahiran Imam Husein a.s. bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi memperbarui komitmen untuk tidak menjadi bagian dari sistem kezaliman, dalam bentuk apa pun.

Kelahiran yang Terus Berlanjut

Dalam pembacaan revolusioner Sayid Ali Khamenei, kelahiran Imam Husein a.s. tidak berhenti di tanggal 3 Sya‘ban. Ia terus “lahir” setiap kali ada individu atau komunitas yang memilih jalan kebenaran dengan kesadaran dan pengorbanan. Ia lahir di medan perlawanan, di ruang-ruang kesadaran, dan di hati orang-orang yang menolak tunduk kepada tirani.

Karena itu, peringatan kelahiran Imam Husein a.s. sejatinya adalah momen muhasabah. Sejauh mana kita mewarisi keberanian beliau? Sejauh mana kita menjaga izzah yang beliau pertahankan dengan darah? Dan sejauh mana Islam yang kita jalani masih berada di jalur yang diperjuangkan oleh cucu Rasulullah Saw?

Sayid Ali Khamenei mengingatkan bahwa cinta kepada Imam Husein a.s. harus bermuara pada sikap. Tanpa itu, cinta berubah menjadi ritual kosong. Dengan itu, cinta menjadi kekuatan sejarah.

Keagungan dan kepribadian Imam Husein, sebagaimana dinarasikan dan ditafsirkan oleh Sayid Ali Khamenei, adalah warisan hidup yang menuntut keterlibatan, bukan sekadar pengagungan simbolik. Di tengah dunia yang terus memproduksi ketidakadilan, Imam Husein a.s. tetap hadir sebagai kompas moral—menunjukkan bahwa jalan kemuliaan selalu terbuka, meski dipenuhi pengorbanan. Semoga peringatan kelahiran beliau tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi keberanian untuk hidup secara Huseini.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT