Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Khutbah Rasulullah Saw di Ujung Sya‘ban, Sebuah Seruan Abadi

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin a.s. bahwa pada hari-hari terakhir bulan Sya‘ban, Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada umatnya. Riwayat ini dicantumkan oleh Shaykh al-Saduq dalam Al-Amali dan dihimpun pula oleh Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar. Berikut teks hadisnya secara utuh dalam terjemahan bahasa Indonesia:

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat, dan ampunan. Bulan itu adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama, dan jam-jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Ia adalah bulan di mana kalian diundang menjadi tamu Allah dan dijadikan termasuk orang-orang yang dimuliakan-Nya. Nafas kalian di dalamnya adalah tasbih, tidur kalian adalah ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian dikabulkan.

Maka mohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih agar Dia memberi kalian taufik untuk berpuasa dan membaca Kitab-Nya. Orang yang celaka adalah yang terhalang dari ampunan Allah di bulan yang agung ini.

Wahai manusia, sesungguhnya diri-diri kalian tergadai oleh amal perbuatan kalian, maka bebaskanlah ia dengan istighfar kalian. Punggung-punggung kalian berat oleh dosa-dosa kalian, maka ringankanlah ia dengan memperpanjang sujud kalian.

Ketahuilah bahwa Allah telah bersumpah dengan kemuliaan-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang salat dan bersujud, serta tidak akan menakuti mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.

Wahai manusia, barangsiapa memberi makan seorang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka baginya di sisi Allah pahala seperti membebaskan seorang budak dan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Lalu dikatakan: “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami mampu melakukan itu.”

Beliau bersabda: “Jagalah diri kalian dari neraka walau dengan setengah butir kurma. Jagalah diri kalian dari neraka walau dengan seteguk air.”

“Wahai manusia, barangsiapa memperbaiki akhlaknya di bulan ini, ia akan memperoleh izin melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa meringankan beban hamba sahayanya di bulan ini, Allah akan meringankan hisabnya.

Barangsiapa menahan keburukannya, Allah akan menahan murka-Nya darinya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambung silaturahmi, Allah akan menyambungkan rahmat-Nya kepadanya. Barangsiapa memutus silaturahmi, Allah akan memutus rahmat-Nya darinya.

Barangsiapa melakukan salat sunnah di bulan ini, Allah menetapkan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan satu kewajiban, ia seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya. Barangsiapa memperbanyak salawat kepadaku, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan menjadi ringan.

Barangsiapa membaca satu ayat dari Al-Qur’an di bulan ini, ia seperti mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan lain.”

Setelah khutbah itu, Amirul Mukminin a.s. bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama di bulan ini?”

Beliau menjawab, “Menjauhi apa yang diharamkan Allah.”


Ramadan sebagai Undangan Ilahi

Khutbah ini bukan sekadar nasihat ritual. Ia adalah deklarasi dimulainya musim transformasi. Rasulullah ﷺ menyebut Ramadan sebagai bulan Allah. Penisbatan ini mengandung pesan ideologis: waktu ini memiliki dimensi ilahiah yang istimewa. Ia adalah ruang sejarah di mana rahmat dan peluang perubahan dibuka seluas-luasnya.

Ketika Nabi ﷺ menyatakan bahwa kaum mukminin menjadi “tamu Allah”, itu adalah revolusi konsep martabat manusia. Dalam sistem dunia yang sering mengukur nilai dengan kekuasaan dan harta, Islam menegaskan bahwa kemuliaan terletak pada kedekatan dengan Tuhan. Bahkan nafas orang beriman dihitung sebagai tasbih. Ini adalah pengangkatan derajat spiritual umat.

Pembebasan dari Belenggu Dosa

“Diri-diri kalian tergadai oleh amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar.” Kalimat ini adalah bahasa pembebasan. Manusia digambarkan terbelenggu oleh kesalahannya sendiri. Ramadan hadir sebagai momentum emansipasi ruhani.

Dalam perspektif Syiah, pembebasan ini bukan hanya individual. Ia memiliki implikasi sosial. Masyarakat yang anggotanya dibebaskan dari dosa dan keserakahan akan lebih mudah membangun keadilan. Istighfar menjadi langkah awal revolusi moral.

Lapar sebagai Pendidikan Keadilan

Perintah memberi makan orang berpuasa—walau hanya dengan setengah kurma—menunjukkan bahwa Ramadan adalah madrasah solidaritas. Puasa melatih empati terhadap kaum mustadh‘afin. Ia membongkar egoisme. Setiap rasa lapar adalah pengingat bahwa di luar sana ada mereka yang lapar sepanjang tahun.

Dengan demikian, Ramadan membentuk kesadaran sosial. Ia mengikat ibadah dengan aksi nyata. Tidak ada spiritualitas yang sah tanpa kepedulian.

Etika Pengendalian dan Integritas

Jawaban Nabi ﷺ kepada Imam Ali a.s.—bahwa amalan paling utama adalah menjauhi yang haram—menjadi inti manifesto Ramadan. Esensi kesalehan bukan pada kuantitas ritual, tetapi pada integritas moral.

Menjauhi yang haram berarti menolak kolaborasi dengan kezaliman. Tidak memakan hak orang lain. Tidak menebar fitnah. Tidak tunduk pada sistem yang menindas. Ramadan melatih umat untuk memiliki disiplin batin yang kuat—fondasi bagi keteguhan sikap di medan sosial dan politik.

Ramadan sebagai Proyek Peradaban

Khutbah ini berbicara kepada “wahai manusia.” Seruan kolektif ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah proyek transformasi umat. Jika setiap individu memperbaiki diri, maka struktur sosial pun berubah.

Ramadan bukan eskapisme spiritual. Ia adalah energi pembaruan. Ia menghubungkan doa dengan aksi, ibadah dengan keadilan, tasbih dengan tanggung jawab sosial.

Setiap tahun, khutbah Nabi ﷺ itu kembali menggema sebagai manifesto pembebasan: bahwa manusia bisa berubah, bahwa masyarakat bisa diperbaiki, dan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa manusia.

Maka menyambut Ramadan berarti menyambut revolusi ruhani. Revolusi yang dimulai dari hati, tetapi berbuah pada tatanan sosial. Revolusi yang menegakkan integritas, solidaritas, dan kesadaran Ilahi.

Di tengah dunia yang dipenuhi kegaduhan dan ketidakadilan, khutbah ini menjadi kompas. Ia mengingatkan bahwa perubahan besar selalu bermula dari penyucian jiwa. Dan Ramadan adalah musimnya—musim di mana umat diundang untuk bangkit, membersihkan diri, dan menapaki jalan kebenaran dengan tekad yang diperbarui.

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.