Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Mengapa AS Keliru Membaca Iran?

Khamenei.ir – Ada kalanya sebuah kesalahan penilaian begitu jauh dari kenyataan, hingga ia tidak lagi bisa disebut sekadar kekeliruan analisis. Ia berubah menjadi cermin: memperlihatkan bagaimana cara pandang yang rusak, bias yang mengeras, dan ketergantungan pada sumber-sumber keliru dapat menuntun sebuah kekuatan besar menuju kesimpulan yang sepenuhnya salah. Inilah yang terjadi ketika para penguasa Amerika Serikat mencoba membaca apa yang berlangsung di Iran—dan meleset sejauh 11.000 kilometer dari sasaran yang sebenarnya.

Beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Serikat mengomentari peristiwa di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran. Dalam pernyataannya, ia menggambarkan situasi tersebut sebagai “pengambilalihan oleh para perusuh teroris.” Ungkapan ini bukan hanya tidak akurat, tetapi menunjukkan ketidaktahuan mendalam terhadap realitas sosial dan politik Iran. Sebab apa yang terjadi di Mashhad bukanlah aksi kekerasan terorganisasi, bukan pula pemberontakan bersenjata, apalagi kudeta. Yang terjadi justru sebaliknya: kehadiran jutaan rakyat yang turun ke jalan secara luas dan terbuka, menegaskan sikap mereka terhadap kekerasan dan kezaliman, serta menyatakan posisi politik mereka secara jelas.

Di kota itu, dan di banyak kota lain, rakyat hadir sebagai rakyat, bukan sebagai tentara bayaran, bukan sebagai kelompok ekstremis. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat, dengan wajah-wajah yang dikenal oleh negeri itu sendiri. Namun semua ini tampaknya tidak tertangkap oleh mata para pengambil keputusan di Washington. Bagi mereka, setiap kerumunan besar di luar kendali mereka harus diberi label yang sama: ancaman, kekacauan, terorisme. Inilah kesalahan pertama, dan mungkin yang paling mendasar.

Kesalahan semacam ini bukan hal baru. Ia lahir dari kebiasaan lama: membaca bangsa lain bukan berdasarkan realitas hidupnya, tetapi melalui laporan-laporan intelijen yang bias, analisis para “pakar” yang jauh dari masyarakat, dan narasi kelompok-kelompok yang sejak lama memusuhi Republik Islam Iran. Amerika Serikat, baik di bawah pemerintahan Demokrat maupun Republik, berulang kali terjebak dalam kesalahan yang sama dan setiap kali, mereka gagal belajar dari sejarah.

Empat puluh tujuh tahun lalu, kesalahan serupa pernah terjadi. Pada Januari 1978, hanya beberapa hari sebelum meletusnya gelombang besar kebangkitan rakyat Iran, Presiden Amerika saat itu, Jimmy Carter, menyebut Iran sebagai “pulau stabilitas” di kawasan. Pernyataan itu diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengumpulkan tenaga di bawah permukaan. Namun sejarah segera membuktikan betapa kelirunya penilaian tersebut. Revolusi Islam meledak, rezim yang didukung penuh oleh Amerika runtuh, dan sebuah tatanan baru lahir dari kehendak rakyat.

Apa yang terjadi hari ini tidak berbeda dalam satu hal penting: Amerika kembali gagal membaca Iran. Mereka kembali tertipu oleh analisis yang salah, sumber informasi yang cacat, dan asumsi lama bahwa mereka memahami bangsa ini lebih baik daripada rakyat Iran sendiri. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan hal yang sepenuhnya berlawanan.

Salah satu sebab utama dari kegagalan ini adalah ketergantungan kronis Amerika pada agen-agen, perantara, dan kelompok-kelompok yang mengaku “mewakili” suara rakyat Iran, padahal sejatinya telah lama terputus dari masyarakatnya sendiri. Kelompok-kelompok ini membangun citra palsu tentang Iran—citra yang sesuai dengan kepentingan politik mereka dan kepentingan tuan-tuan asing yang mereka layani. Dari merekalah laporan disusun, analisis dibuat, dan kebijakan dirumuskan.

Sejak awal Revolusi Islam, dan terutama selama Perang Pertahanan Suci delapan tahun melawan rezim Saddam Hussein, pola ini terus berulang. Amerika dan sekutunya lebih memilih mendengar suara para pengkhianat dan tentara bayaran daripada suara rakyat Iran sendiri. Mereka membangun gambaran Iran sebagai negara yang rapuh, masyarakat yang terpecah, dan sistem yang berdiri di atas paksaan. Namun setiap kali realitas diuji, gambaran itu runtuh.

Contoh paling gamblang dari fenomena ini adalah peran organisasi Mujahedin-e Khalq (MEK). Kelompok ini, yang telah lama dicap sebagai organisasi teroris, bukan hanya berkhianat kepada bangsanya sendiri, tetapi juga secara aktif bekerja sama dengan musuh-musuh Iran, termasuk rezim Saddam Hussein selama perang. Meski demikian, mereka terus dipromosikan oleh sebagian lingkaran politik Barat sebagai “oposisi demokratis.” Dari merekalah banyak informasi palsu tentang Iran berasal, dan melalui merekalah kebijakan-kebijakan keliru itu dirasionalisasi.

Hari ini, wajah-wajahnya mungkin berbeda, nama-namanya mungkin berganti, tetapi pola kerjanya tetap sama. Orang-orang yang tidak memiliki tempat di hati rakyat Iran diposisikan sebagai juru bicara bangsa Iran di hadapan dunia. Sementara suara rakyat yang sesungguhnya—yang hadir di jalan-jalan, di masjid, di pemakaman para syuhada—diabaikan atau dipelintir.

Peristiwa 12 Januari menjadi pukulan telak bagi semua narasi palsu itu. Jutaan rakyat Iran turun ke jalan, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menegaskan. Mereka menegaskan posisi mereka terhadap kekerasan, terhadap intervensi asing, dan terhadap upaya-upaya manipulasi. Kehadiran mereka begitu luas dan begitu jelas, hingga sulit—bahkan bagi pengamat yang paling bias—untuk mengingkarinya. Namun, alih-alih merevisi pandangan mereka, sebagian penguasa Amerika justru memilih untuk memperkeras bahasa dan memperdalam kesalahpahaman.

Inilah ironi terbesar: semakin nyata realitas di lapangan, semakin kabur pemahaman mereka. Seolah-olah mereka melihat dunia bukan dengan mata, tetapi dengan peta lama yang tak lagi relevan. Peta itu menuntun mereka ke arah yang salah, menjauh dari kenyataan sejauh ribuan kilometer.

Empat puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Revolusi Islam, dan selama itu pula bangsa Iran telah menunjukkan satu hal yang konsisten: keteguhan. Mereka telah menghadapi perang, sanksi, tekanan politik, propaganda, dan pengkhianatan internal. Namun mereka tetap berdiri. Mereka tidak tunduk, tidak menyerah, dan tidak kehilangan arah. Setiap kali diuji, mereka kembali kepada prinsip yang sama: kemerdekaan, martabat, dan kedaulatan.

Ketika sebuah kekuatan besar gagal memahami hal ini, kegagalan itu bukanlah kegagalan Iran. Ia adalah kegagalan mereka sendiri. Kegagalan membaca sejarah, kegagalan mendengar suara rakyat, dan kegagalan keluar dari lingkaran informasi yang menyesatkan.

Pepatah lama mengatakan: ketika orang buta menuntun orang yang lebih buta, keduanya akan jatuh ke lubang yang sama. Inilah gambaran paling tepat untuk menjelaskan kondisi para pengambil kebijakan yang terus bersandar pada analisis keliru dan sumber yang rusak. Selama mereka menolak melihat realitas apa adanya, selama itu pula mereka akan terus meleset dari sasaran.

Apa yang terjadi di Mashhad bukanlah terorisme. Ia adalah pernyataan. Bukan kekacauan, melainkan penegasan kehendak. Dan bukan ancaman bagi stabilitas, melainkan bukti hidup dari kekuatan rakyat yang sadar, terorganisasi, dan setia pada prinsip-prinsipnya. Dunia boleh menutup mata, tetapi fakta telah berbicara—dan kali ini, suaranya terdengar jauh lebih keras daripada propaganda mana pun.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT