Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pendidikan Jiwa dalam Nahjul Balaghah: Telaah Wasiat Imam Ali kepada Putranya Al-Hasan

Dalam khazanah Islam Ahlulbait, wasiat Imam Ali as kepada putranya merupakan salah satu teks pendidikan paling mendalam dan visioner. Wasiat ini tidak hanya memuat nasihat etis, tetapi juga menggambarkan metodologi tarbiyah yang berangkat dari pemahaman realistis tentang manusia, waktu, dan potensi penyimpangan jiwa. Imam Ali as membuka wasiatnya dengan ungkapan yang sangat personal:

“Wahai putraku, ketika aku melihatmu telah mencapai usia akil balig, dan aku melihat diriku semakin lemah dimakan usia, maka aku bersegera menuliskan wasiat untukmu…”

Ungkapan ini diriwayatkan dalam Nahjul Balaghah, yang secara khusus ditujukan kepada Imam Hasan as. Namun, para ulama Syiah sepakat bahwa kandungan wasiat ini bersifat universal, ditujukan kepada seluruh manusia lintas generasi.

Wasiat sebagai Kesadaran Akan Waktu

Imam Ali as menyebut dua alasan utama mengapa wasiat ini disampaikan dengan segera. Pertama, karena sang anak telah mencapai usia kesiapan intelektual dan spiritual. Kedua, karena beliau menyadari bahwa usia tua membawa keterbatasan, baik fisik maupun mental. Kesadaran ini menunjukkan bahwa Islam memandang waktu sebagai amanah yang harus dimanfaatkan sebelum ia menjadi penyesalan.

Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.” (HR. al-Hakim, al-Mustadrak, jilid 4, hlm. 341)

Imam Ali as dalam wasiatnya menegaskan bahwa penundaan adalah bahaya. Beliau menyatakan kekhawatiran bahwa ajal bisa datang sebelum pesan tersampaikan, atau kemampuan berpikir melemah sebagaimana tubuh melemah. Inilah pelajaran penting bagi manusia: kebaikan yang ditunda sering kali tidak pernah terwujud.

Hati Anak Muda: Tanah yang Belum Ditanami

Salah satu metafora paling kuat dalam wasiat ini adalah perumpamaan hati anak muda sebagai tanah kosong:

“Sesungguhnya hati anak muda seperti tanah yang belum ditanami; apa pun yang ditanam di atasnya, ia akan menerimanya.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa masa muda adalah fase paling menentukan dalam pembentukan karakter. Dalam hadis lain, Imam Ali as bersabda:

“Hati anak muda itu lembut dan mudah menerima, sedangkan hati orang tua keras dan sulit berubah.” (Ghurar al-Hikam, no. 2351)

Karena itu, pendidikan tidak boleh menunggu hingga penyimpangan terjadi. Tarbiyah harus hadir sebelum dosa dan hawa nafsu mengakar. Jika hati telah dikuasai oleh kecintaan berlebihan pada dunia, maka nasihat tidak lagi berpengaruh.

Bahaya Hawa Nafsu dan Tipuan Dunia

Imam Ali as dengan tegas menyatakan bahwa salah satu alasan beliau bersegera menulis wasiat adalah kekhawatiran bahwa hawa nafsu dan tipu daya dunia lebih dahulu menguasai jiwa sang anak. Dalam Nahjul Balaghah disebutkan:

“Aku bersegera menuliskan wasiat ini sebelum hawa nafsu dan tipu daya dunia mendahuluinya, sehingga engkau menjadi seperti unta pembangkang.”

Perumpamaan “unta pembangkang” menggambarkan jiwa yang telah kehilangan kendali: tidak mau mendengar, menolak kebenaran, dan lari dari nasihat. Hal ini sejalan dengan sabda Imam Ali as yang lain:

“Barang siapa mengikuti hawa nafsunya, ia akan tersesat dan binasa.”
(Ghurar al-Hikam, no. 7462)

Islam memandang hawa nafsu bukan sekadar dorongan alami, tetapi potensi destruktif jika tidak dikendalikan oleh akal dan wahyu. Karena itu, pendidikan moral harus mendahului kenikmatan duniawi.

Metode Nasihat yang Beradab

Salah satu keistimewaan wasiat ini adalah cara penyampaiannya. Imam Ali as tidak menakut-nakuti anaknya dengan ancaman kematian sang anak, tetapi berbicara tentang dirinya sendiri. Ini menunjukkan etika komunikasi yang tinggi. Beliau menjaga agar nasihat tidak melukai harga diri mitra bicara.

Dalam sebuah hadis, Imam Ali as bersabda:

“Nasihat yang disampaikan di hadapan umum adalah celaan, dan yang disampaikan secara lembut adalah kebaikan.” (Ghurar al-Hikam, no. 10028)

Pendekatan ini mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan hikmah. Nasihat yang kasar, meskipun benar, sering kali justru menimbulkan penolakan.

Wasiat Maksum untuk Semua Manusia

Sebagian orang mungkin bertanya: apakah seorang maksum memerlukan wasiat seperti ini? Jawabannya terletak pada tujuan wasiat itu sendiri. Imam Ali as tidak menyampaikan wasiat ini dalam kapasitas kemaksuman, tetapi sebagai ayah. Dengan demikian, beliau menjadikan dirinya dan putranya sebagai “peraga” agar setiap ayah dan anak dapat bercermin.

Imam Ja‘far ash-Shadiq as menegaskan:

“Sesungguhnya ucapan kami memiliki wajah lahir dan batin. Lahirnya untuk manusia, dan batinnya untuk para kekasih Allah.” (al-Kafi, jilid 1, hlm. 374)

Wasiat ini adalah pendidikan publik yang dibungkus dalam relasi privat.

Menghargai Kesempatan Sebelum Hilang

Imam Ali as juga menekankan pentingnya memanfaatkan kesempatan. Beliau menyadari bahwa kemampuan berpikir dan beramal tidak selalu stabil sepanjang hidup. Dalam hadis lain beliau bersabda:

“Kesempatan berlalu seperti awan; maka tangkaplah kebaikan ketika ia datang.”
(Ghurar al-Hikam, no. 2904)

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan modern, di mana manusia sering menunda kebaikan dengan alasan masih muda, masih sibuk, atau masih ada waktu. Padahal, penundaan adalah pintu kehilangan.

Pendidikan Sebelum Penyelewengan

Pesan tidak langsung yang sangat kuat dalam wasiat ini adalah pentingnya islah (pembenahan) sebelum inhiraf (penyimpangan). Imam Ali as seakan berkata: jangan menunggu hati ternoda baru membersihkannya. Karena dosa yang menumpuk akan mematikan sensitivitas moral.

Rasulullah saw bersabda:

“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka dititikkan noda hitam di hatinya. Jika ia bertobat, noda itu dihapus. Jika ia mengulangi, noda itu bertambah hingga menutupi hatinya.” (HR. at-Tirmidzi, Sunan, no. 3334)

Inilah mengapa Imam Ali as bersegera: sebelum noda itu menutup hati.

Penutup: Wasiat yang Hidup Sepanjang Zaman

Wasiat Imam Ali as bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi pedoman hidup yang terus relevan. Ia mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah mendahului, bukan menunggu; membina, bukan menghakimi; dan menanam, bukan sekadar memerintah.

Dengan bahasa seorang ayah yang penuh kasih, Imam Ali as mengingatkan bahwa masa muda adalah ladang masa depan. Siapa yang menanam kebenaran hari ini, akan memetik keselamatan esok hari. Dan siapa yang menunda, akan berhadapan dengan penyesalan yang tak lagi dapat diperbaiki.


Disadur dari buku karya Ayatullah Taqi Misbah Yazdi – 22 Nasihat Abadi Penghalus Budi

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT