Dalam lintasan sejarah Islam, Rasulullah saw tidak hanya hadir sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai guru kehidupan yang menuntun umatnya dengan petuah-petuah penuh hikmah. Nasihat beliau, yang diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis, bukan sekadar ungkapan moral, tetapi panduan praktis untuk meraih kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat. Berikut kami rangkum sebagian pesan beliau kepada para sahabat dan kaum mukminin yang kami sadur dari kitab Madinah Balaghah.
Jalan Menuju Surga
Dalam kitab al-Irsyad diriwayatkan, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkanku ke surga.” Rasulullah saw menjawab, “Berikanlah apa yang telah Allah berikan kepadamu.”
Ketika laki-laki itu berkata bahwa ia tidak memiliki apa-apa, Rasulullah saw menjawab, “Tolonglah orang yang dizalimi.” Jika ia pun tidak mampu, Rasulullah saw menambahkan, “Katakanlah yang baik, maka engkau akan beruntung. Atau diamlah, niscaya engkau selamat.”
Riwayat lain dalam al-Kafi menambahkan dimensi yang lebih luas. Rasulullah saw memberi pilihan berjenjang: memberi sedekah, menolong yang dizalimi, membimbing orang bodoh, hingga menjaga lisan dari perkataan buruk. Beliau menegaskan, “Jika salah satu dari sifat ini ada pada dirimu, maka ia akan menarikmu ke surga.”
Menjaga Lisan
Pesan tentang lisan mendapat perhatian khusus dari Rasulullah saw. Dalam al-Kafi, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berulang kali meminta wasiat, dan setiap kali Rasulullah saw menjawab, “Jagalah lidahmu.” Hingga beliau bersabda, “Celaka engkau, manusia tidak dijatuhkan ke dalam neraka kecuali akibat lidah mereka.”
Pesan ini seakan menegaskan bahwa kata-kata adalah senjata paling tajam, yang dapat mengangkat derajat atau menjatuhkan manusia ke lembah kebinasaan.
Takwa, Pemaaf, dan Birrul Walidain
Dalam Mustadrak al-Wasā’il, Rasulullah saw memberi pesan sederhana namun mendasar: bertakwa kepada Allah dan memaafkan sesama. Seorang laki-laki dari Yaman meminta wasiat sebelum pulang ke keluarganya. Rasulullah saw menjawab, “Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, jangan engkau durhaka kepada kedua orang tuamu, dan janganlah engkau mencaci manusia.”
Pesan ini meneguhkan pentingnya tauhid, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), dan menjaga kehormatan sesama.
Berpikir Sebelum Bertindak
Riwayat dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as menukil sabda Rasulullah saw kepada seorang sahabat: “Jika engkau ingin melakukan sesuatu maka pikirkanlah akibatnya. Jika baik maka lakukanlah, jika buruk maka tinggalkanlah.”
Prinsip kehati-hatian ini bukan hanya soal moral pribadi, tetapi juga panduan sosial agar setiap tindakan membawa maslahat, bukan mudarat.
Kekayaan Sejati
Dalam al-Mahasin dikisahkan, seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw. Dengan penuh harap ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebuah pelajaran yang bisa menjadi pegangan dalam hidupku.”
Rasulullah saw pun bersabda, “Putuskanlah harapanmu dari apa yang ada di tangan manusia. Itulah kekayaan yang sejati.” Lalu beliau menambahkan, “Jauhilah sifat tamak, karena sesungguhnya itulah kemiskinan yang nyata.”
Dari sabda ini kita memahami, bahwa menurut Rasulullah saw, kekayaan bukanlah tumpukan harta atau limpahan materi, melainkan kebebasan jiwa dari ketergantungan kepada manusia lain.
Prinsip Emas dalam Muamalah
Beberapa riwayat menunjukkan betapa Rasulullah saw menekankan prinsip keadilan dalam hubungan sosial. Beliau bersabda, “Lakukanlah kepada orang lain apa yang engkau sukai orang lain lakukan kepadamu, dan jangan lakukan kepada mereka apa yang tidak engkau sukai.”
Prinsip ini menjadi fondasi etika universal yang menyeberangi batas agama dan budaya.
Amal yang Dicintai Allah
Riwayat dalam Bihar al-Anwar mencatat doa seorang sahabat yang ingin dicintai Allah, dicintai manusia, diberi kelapangan rezeki, panjang umur, dan kebangkitan bersama Rasulullah saw. Beliau menjawab, “Jika engkau ingin dicintai Allah maka bertakwalah kepada-Nya. Jika engkau ingin dicintai manusia maka jauhilah harta yang ada di tangan mereka. Jika engkau ingin hartamu diberkahi maka bayarlah zakat. Jika engkau ingin umurmu dipanjangkan maka sambunglah silaturahmi. Dan jika engkau ingin dibangkitkan bersamaku maka panjangkanlah sujudmu di hadapan Allah.”
Ingat Mati dan Syukur
Dalam Tuhaf al-‘Uqul disebutkan, Rasulullah saw menasihati seorang sahabat: “Perbanyaklah mengingat mati, niscaya itu akan melupakanmu dari urusan dunia. Bersyukurlah, karena itu menambah nikmat bagimu. Perbanyaklah doa, karena engkau tidak tahu kapan doamu dikabulkan. Dan janganlah berbuat zalim, karena Allah pasti menolong orang yang dizalimi.”
Ayat Al-Qur’an yang menegaskan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7), menjadi landasan wasiat ini.
Agama adalah Akhlak
Ketika ditanya, “Apakah agama itu?”, Rasulullah saw menjawab berulang kali, “Agama adalah akhlak yang baik.” Hingga akhirnya beliau menambahkan, “Memahami agama ialah engkau tidak marah.”
Beliau juga menegaskan, orang yang kuat bukanlah yang mampu menjatuhkan lawannya, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah. Dalam riwayat lain, Imam ash-Shadiq as menambahkan, “Marah adalah kunci segala keburukan.”
Jihad dan Berbakti kepada Orang Tua
Ada pula seorang sahabat yang ingin berjihad, namun kedua orang tuanya melarang. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, engkau bersama mereka sehari semalam lebih baik daripada berjihad selama setahun.” Wasiat ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua lebih utama daripada jihad fi sabilillah jika keduanya masih membutuhkan.
Wasiat tentang Salat
Pesan paling mendasar yang beliau tegaskan adalah menjaga salat. “Janganlah engkau meninggalkan salat dengan sengaja. Karena siapa yang meninggalkan salat dengan sengaja maka ia telah keluar dari agama Islam.”
Penutup
Rangkaian pesan Rasulullah saw di atas adalah warisan yang tidak lekang dimakan zaman. Beliau menekankan tauhid, takwa, akhlak, birrul walidain, pengendalian diri, dan amal sosial. Semuanya merupakan jalan menuju surga dan keselamatan abadi.
Bagi kita, pesan ini adalah undangan untuk menata diri, menjaga lisan, berbuat baik, dan menjauhi sifat-sifat tercela. Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Jika satu saja sifat ini ada padamu, maka ia akan menarikmu menuju surga.”