Di antara nasihat paling komprehensif yang pernah disampaikan Rasulullah saw adalah wasiat beliau kepada Muadz bin Jabal. Pesan ini bukan sekadar nasihat pribadi, melainkan peta kehidupan bagi siapa pun yang ingin selamat—di dunia dan di akhirat.
Rasulullah saw memulai pesannya dengan fondasi paling mendasar:
“Aku berpesan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah, berbicara jujur, menunaikan amanat, merendahkan diri, menepati janji, meninggalkan khianat…”
Takwa menjadi porosnya. Dari takwa lahir kejujuran. Dari kejujuran lahir amanat. Dari amanat lahir masyarakat yang kokoh. Sebaliknya, ketika khianat menjadi kebiasaan, runtuhlah kepercayaan, dan runtuhlah peradaban.
Beliau melanjutkan dengan dimensi sosial: berbuat baik kepada tetangga, menjaga silaturahmi, menyayangi anak yatim, berbicara lembut, menebarkan salam. Islam bukan hanya ibadah ritual, tetapi sistem akhlak sosial. Masyarakat yang memuliakan yatim dan menjaga lisan adalah masyarakat yang diberkahi.
Menghadirkan Akhirat di Tengah Dunia
Rasulullah saw menekankan agar Muadz memendekkan angan-angan, memperkuat iman, memahami Al-Qur’an, mengingat akhirat, dan banyak mengingat mati.
Angan-angan panjang adalah penyakit peradaban. Ia membuat manusia menunda tobat, menunda amal, menunda perubahan. Sementara kematian tidak pernah menunda kedatangannya.
Beliau bersabda:
“Perbaharuilah tobat untuk setiap dosa—yang tersembunyi dengan tobat tersembunyi, dan yang terang-terangan dengan tobat terang-terangan.”
Ini adalah pendidikan kejujuran spiritual. Tidak ada ruang bagi kepura-puraan di hadapan Allah.
Ukuran Kebenaran dan Kemuliaan
Rasulullah saw menetapkan standar yang jelas:
- Perkataan paling benar: Kitab Allah
- Kemuliaan paling dapat dipercaya: takwa
- Zikir paling mulia: mengingat Allah
- Kisah terbaik: Al-Qur’an
- Petunjuk terbaik: petunjuk para nabi
Beliau juga memperingatkan:
“Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (yang menyesatkan), dan kebutaan yang paling pekat adalah kesesatan setelah petunjuk.”
Kehilangan arah setelah mendapat cahaya adalah tragedi terbesar.
Kekayaan Sejati dan Bahaya Lisan
Rasulullah saw mendefinisikan ulang makna kekayaan:
“Sebaik-baik kekayaan adalah kaya hati.”
Beliau mengingatkan bahaya riba, memakan harta anak yatim, dan makanan haram. Tubuh yang tumbuh dari yang haram tidak akan membawa keberkahan.
Lalu beliau menyampaikan pesan yang mengguncang:
“Jagalah ini.”
(Beliau menunjuk kepada lidahnya)
Ketika Muadz bertanya apakah manusia akan disiksa karena apa yang diucapkannya, Rasulullah saw menjawab:
“Celaka engkau, wahai Muadz! Manusia tidak dilemparkan ke dalam neraka kecuali akibat lidahnya.”
Lisan bisa membangun peradaban, dan bisa pula menghancurkannya. Fitnah, dusta, provokasi, dan kesombongan sering kali lahir dari satu organ kecil ini.
Pintu-Pintu Kebaikan
Ketika Muadz bertanya tentang amal yang memasukkannya ke surga, Rasulullah saw menyebutkan:
- Menyembah Allah tanpa syirik
- Mendirikan salat
- Menunaikan zakat
- Puasa Ramadhan
- Haji ke Baitullah
Lalu beliau menambahkan:
“Puasa adalah perisai. Sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api. Salat malam adalah tanda orang saleh.”
Beliau membacakan ayat:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya…” (QS. as-Sajdah: 16-17)
Kesalehan bukan hanya di siang hari yang terlihat manusia, tetapi di malam sunyi ketika hanya Allah yang menjadi saksi.
Pangkal, Tiang, dan Puncak
Rasulullah saw menegaskan struktur agama:
- Pangkalnya adalah Islam
- Tiangnya adalah salat
- Puncaknya adalah jihad
Jihad di sini bukan sekadar peperangan, tetapi perjuangan menegakkan kebenaran dan melawan hawa nafsu.
Hidup dengan Kesadaran
Di akhir nasihatnya, Rasulullah saw memberikan prinsip hidup orang berakal:
- Punya waktu untuk bermunajat kepada Allah
- Punya waktu untuk bertafakur
- Punya waktu untuk muhasabah
- Punya waktu untuk memenuhi kebutuhan halal
Beliau juga menasihati agar tidak bepergian kecuali untuk tiga hal: bekal akhirat, memperbaiki penghidupan, atau kesenangan yang halal.
Dan penutupnya sangat dalam:
“Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Anggaplah dirimu termasuk orang yang sudah mati.”
Inilah maqam ihsan. Hidup dengan kesadaran bahwa kita selalu berada di hadapan Allah.
Penutup: Wasiat yang Melampaui Zaman
Pesan Rasulullah saw kepada Muadz bukan sekadar nasihat moral, melainkan sistem pembinaan manusia seutuhnya: spiritual, sosial, politik, dan etis.
Jika umat menjaga takwa, menegakkan salat, mengontrol lisan, menjauhi riba, memuliakan yatim, dan menghadirkan akhirat dalam setiap keputusan—maka kebangkitan bukanlah utopia.
Dan jika lidah dibiarkan liar, hati dipenuhi tamak, dan dunia menjadi tujuan akhir—maka kehancuran hanyalah soal waktu.
Dielaborasi dari kitab Madinah Balaghah