Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Ramadhan: Bulan Allah dan Madrasah Wilayah

Dalam khazanah riwayat Ahlulbait as, terdapat beberapa khutbah Rasulullah saw tentang keutamaan bulan Ramadhan yang diriwayatkan melalui sanad-sanad terpercaya. Di antaranya dinukil oleh Ash-Shaduq dalam al-Faqih, Tsawab al-A‘mal, al-Majalis, dan ‘Uyun Akhbar ar-Ridha; juga oleh Al-Kulayni dalam al-Kafi. Riwayat tersebut sampai kepada kita melalui Imam Muhammad al-Baqir as dan juga melalui jalur Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib as.

Khutbah ini disampaikan Rasulullah saw beberapa hari menjelang Ramadhan. Beliau memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kaum Muslimin. Ketika mereka telah berkumpul, Rasulullah saw naik ke mimbar, memuji Allah SWT, lalu menyampaikan pidato yang sarat dengan peringatan, harapan, dan visi spiritual.

Rasulullah saw bersabda:

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan ini (Ramadhan). Ia adalah penghulu segala bulan. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan ini pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka.”

Ramadhan disebut sebagai sayyid asy-syuhur—penghulu bulan. Keutamaannya bukan hanya karena adanya Lailatul Qadr, tetapi karena ia merupakan bulan pembukaan gerbang rahmat dan penutupan pintu azab. Namun Rasulullah saw memberi peringatan keras: siapa yang mendapati bulan ini tetapi tidak memperoleh ampunan, maka ia benar-benar merugi.

Beliau bahkan menyebut tiga golongan yang celaka:

  1. Orang yang tidak mendapat ampunan di bulan Ramadhan.
  2. Orang yang mendapati kedua orang tuanya tetapi tidak memperoleh ampunan melalui bakti kepada mereka.
  3. Orang yang ketika nama Rasulullah saw disebut, tidak bersalawat kepadanya.

Salawat bukan sekadar ucapan, melainkan ekspresi loyalitas kepada risalah dan wilayah. Mengabaikannya adalah tanda kerasnya hati.

Bulan Allah: Tamu-Tamu Ilahi

Dalam khutbah lain yang diriwayatkan melalui jalur Amirulmukminin as, Rasulullah saw bersabda:

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat, dan ampunan. Ia adalah bulan paling utama di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam paling utama. Jam demi jamnya adalah jam paling utama. Di bulan ini kalian diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya.”

Ungkapan “bulan Allah” menunjukkan kemuliaan yang tak tertandingi. Menjadi tamu Allah berarti setiap detik bernilai ibadah. Nafas orang yang berpuasa dihitung sebagai tasbih, tidur mereka bernilai ibadah, amal mereka diterima, dan doa mereka dikabulkan.

Namun Rasulullah saw mengingatkan: hanya dengan niat tulus dan hati yang bersih seseorang dapat meraih kemuliaan itu. Ramadhan bukan sekadar rutinitas menahan lapar, melainkan kesungguhan membersihkan jiwa.

Kesadaran Eskatologis

Beliau bersabda:

“Dengan rasa lapar dan haus kalian, ingatlah lapar dan haus pada Hari Kiamat.”

Puasa adalah latihan kesadaran akhirat. Lapar dunia menjadi pengingat dahaga Mahsyar. Karena itu, Ramadhan bukan hanya ibadah individual, tetapi juga gerakan sosial: bersedekahlah kepada fakir miskin, muliakan yang tua, sayangi yang muda, sambungkan silaturahmi, dan jaga lisan.

Menjaga lisan dan pandangan menjadi inti pengendalian diri. Ramadhan mendidik manusia untuk menahan bukan hanya perut, tetapi juga mata, telinga, dan hati.

Pembebasan dari Dosa

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya diri kalian tergadai oleh amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung kalian berat karena dosa-dosa kalian, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujud.”

Ungkapan ini sangat revolusioner. Manusia terbelenggu oleh amal buruknya sendiri. Pembebasan tidak datang dari luar, tetapi dari taubat, istighfar, dan sujud yang panjang.

Allah SWT bersumpah bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang salat dan sujud, serta tidak akan menakut-nakuti mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Tuhan semesta alam. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah.

Solidaritas dan Akhlak

Rasulullah saw kembali menekankan nilai sosial puasa:

“Barang siapa memberi buka puasa kepada orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan diampuni dosa-dosanya yang lalu.”

Ketika sahabat menyatakan ketidakmampuan, Rasulullah saw menegaskan: bahkan separuh kurma atau seteguk air dapat menjadi penyelamat dari api neraka.

Beliau juga bersabda bahwa siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan dapat melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang lain, Allah akan meringankan hisabnya. Siapa yang menahan keburukannya, Allah akan menahan murka-Nya.

Ramadhan adalah madrasah akhlak. Ia bukan hanya memperbaiki relasi dengan Allah, tetapi juga membangun masyarakat yang penuh kasih dan keadilan.

Al-Qur’an dan Salawat

Beliau menegaskan bahwa siapa yang membaca satu ayat Al-Qur’an di bulan ini, pahalanya seperti menamatkan Al-Qur’an di bulan lain. Siapa yang memperbanyak salawat, Allah akan memberatkan timbangan amalnya.

Pintu-pintu surga dibuka—maka mintalah agar tidak ditutup bagi kita. Pintu-pintu neraka ditutup—maka mintalah agar tidak dibuka kembali. Setan-setan dibelenggu—maka mintalah agar tidak lagi menguasai diri kita setelah Ramadhan berakhir.

Amal Paling Utama

Dalam khutbah itu, Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib as berdiri dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama di bulan ini?”

Rasulullah saw menjawab:

“Wahai Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Jawaban ini merangkum seluruh hakikat puasa. Bukan banyaknya ibadah sunah semata, tetapi keteguhan meninggalkan yang haram.

Isyarat Kesyahidan Imam Ali as

Dalam suasana itu, Rasulullah saw menangis. Ketika ditanya sebabnya, beliau menyampaikan nubuwah tentang kesyahidan Imam Ali as di bulan Ramadhan. Beliau menggambarkan bagaimana kepala Ali akan ditebas ketika sedang salat hingga janggutnya memerah oleh darah.

Imam Ali as bertanya: “Apakah itu dengan selamatnya agamaku?”
Rasulullah menjawab: “Ya, dengan selamatnya agamamu.”

Ini adalah pelajaran tentang kemurnian iman. Keselamatan agama lebih utama daripada keselamatan jasad.

Rasulullah saw kemudian bersabda:

“Wahai Ali, siapa yang membunuhmu berarti membunuhku. Siapa yang membencimu berarti membenciku.”

Beliau menegaskan bahwa Ali adalah washi, khalifah, dan hujjah Allah atas makhluk-Nya. Penegasan ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah individual, tetapi juga bulan peneguhan wilayah dan kepemimpinan Ilahi.

Ramadhan dan Wilayah

Di tengah khutbah tentang puasa, Rasulullah saw menegaskan kedudukan Imam Ali as. Ini bukan kebetulan. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, dan Al-Qur’an tidak terpisah dari Ahlulbait as. Ia adalah bulan peneguhan tauhid sekaligus wilayah.

Dengan demikian, Ramadhan adalah madrasah integral:

  • Madrasah tauhid melalui syahadat dan ibadah.
  • Madrasah akhlak melalui pengendalian diri dan kasih sayang.
  • Madrasah sosial melalui sedekah dan solidaritas.
  • Madrasah wilayah melalui loyalitas kepada Imam Ali as.

Penutup: Momentum Transformasi

Kini kita berada di dalam bulan Allah. Setiap nafas bernilai tasbih. Setiap doa berpeluang dikabulkan. Setiap malam menghadirkan pembebasan dari neraka.

Namun Ramadhan juga menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah kita hanya akan menahan lapar, atau benar-benar menjaga diri dari yang diharamkan? Apakah kita hanya membaca Al-Qur’an, atau menjadikannya cahaya kehidupan? Apakah kita sekadar berpuasa, atau juga meneguhkan wilayah dan komitmen kepada kepemimpinan Ilahi?

Rasulullah saw telah menunjukkan jalan. Ramadhan adalah bulan pembebasan, bulan revolusi batin, dan bulan kesetiaan kepada Allah dan hujjah-Nya.

Semoga kita termasuk tamu-tamu Allah yang dimuliakan, diampuni, dan dibebaskan. Dan semoga Ramadhan ini menjadi titik balik menuju ketakwaan yang lebih kokoh dan wilayah yang lebih teguh.


Dielaborasi dari kitab Madinah Malaghah

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT