Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Sayyidah Khadijah: Pilar Awal Islam — Dari Putri Quraisy Menuju Ibu Umat

Dalam sejarah Islam, jarang ada figur perempuan yang dimuliakan dan dihormati sedalam Sayyidah Khadijah binti Khuwailid (sa). Namanya tidak hanya terukir sebagai istri pertama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga sebagai sosok yang memainkan peran fundamental dalam keberlangsungan, stabilitas, dan perkembangan awal Islam. Komentar-komentar dan tulisan-tulisan yang dikutip dari situs resmi khamenei.ir menggambarkan betapa besar jasa serta dampak nyata beliau terhadap risalah Nabi ﷺ dan umat Islam secara umum.

Awal Kisah: Dari Kejayaan Duniawi Menuju Keimanan Teguh

Sayyidah Khadijah lahir di tengah masyarakat Makkah pra-Islam yang penuh dengan tradisi jahiliyah. Di kalangan tersebut, perempuan sering dipandang sekadar sebagai komoditas sosial, diwajibkan mengikuti kehendak keluarga bahkan terkadang diabaikan hak-hak dasarnya. Di tengah masyarakat seperti itu, Khadijah muncul bukan sebagai sosok yang lemah atau tunduk, tetapi sebagai pedagang ulung yang mengelola jaringan bisnis besar dan dihormati — sampai dijuluki Sayyidat Quraysh (Putri Quraisy).

Tetapi langkah penting dalam perjalanan hidupnya bukanlah kekayaan atau status sosial, melainkan pertemuan dengan Nabi Muhammad ketika beliau menjadi salah satu pedagang yang bekerja untuknya. Dari sinilah tumbuh bukan hanya cinta pribadi, tetapi juga keterikatan spiritual yang kemudian menjadi pondasi bagi penegakan ajaran Islam.

Orang Pertama yang Memeluk Islam dan Menopang Dakwah Nabi

Ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ﷺ, situasi sosial dan budaya masyarakat Quraisy penuh tekanan dan skeptisisme terhadap gagasan monoteisme yang dibawa beliau ﷺ. Dalam kondisi semacam itu, pilihan Khadijah untuk percaya penuh kepada apa yang disampaikan oleh suaminya ﷺ menunjukkan keteguhan dan kefahaman rohaniah yang luar biasa — beliau adalah orang pertama yang menerima Islam tanpa keraguan. (Khamenei.ir)

Ayatollah Khamenei memberi penekanan bahwa Khadijah bukan sekadar perempuan pertama yang percaya, tetapi merupakan fondasi spiritual dan material yang menopang dakwah Islam di saat yang paling awal dan paling sulit. Komitmen beliau terhadap risalah tersebut tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga melibatkan pengorbanan sepenuhnya dari hartanya demi menjamin kelangsungan dakwah Islam di Makkah yang penuh rintangan. (Khamenei.ir)

Pengorbanan Nyata: Hartanya untuk Jalan Allah

Tidak banyak figur dalam sejarah yang rela melepaskan seluruh kenyamanan hidupnya demi keyakinan dan penegakan kebenaran sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyidah Khadijah. Dalam tulisan- tulisan khamenei.ir, dijelaskan secara tegas bahwa beliau menghabiskan seluruh hartanya demi menyokong perjuangan Nabi ﷺ dan penyebaran Islam di tengah permusuhan Quraisy.

Di era ketika kaum Muslimin masih sangat kecil, terasing dan bahkan mendapatkan sanksi dari masyarakat sendiri, harta Sayyidah Khadijah menjadi sumber daya penting untuk membantu para pemeluk Islam yang mengalami boikot sosial dan kesulitan hidup. Bahkan, ketika eksistensi dakwah Islam masih dipertanyakan, sumbangan dan dukungan finansial beliau menjadi penyelamat bagi banyak orang yang siap meninggalkan segala kehidupan lama demi keyakinan yang baru. (Khamenei.ir)

Peran Emosional dan Rohaniah: Pegangan Nabi ﷺ dalam Masa Turbulen

Selain peran material, Sayyidah Khadijah juga merupakan teman dekat, penopang rohani, dan tempat bersandar Nabi Muhammad ﷺ saat menghadapi gejolak awal dakwah. Ketika wahyu pertama turun dan Nabi ﷺ mengalami kebingungan serta takut akan reaksi masyarakat, dialah Khadijah yang dengan lembut menyampaikan dukungan, menenangkan hati beliau, dan menegaskan bahwa wahyu itu adalah kebenaran dan bukan bentuk kegilaan atau halusinasi. (Khamenei.ir)

Dalam tulisan tersebut juga disebutkan bahwa tanpa figur seperti Sayyidah Khadijah, progres Islam mungkin akan terganggu secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa peran beliau jauh melampaui sekadar status istri; beliau adalah bagian integral dari daya tahan umat Islam di fase paling rentan sejarahnya. (Khamenei.ir)

Khadijah sebagai Ibu Ahlulbait dan Warisan Keimanan

Khadijah bukan hanya sosok yang mempengaruhi sejarah awal Islam secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui keluarganya. Ia merupakan ibu dari Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa), yang kemudian menikah dengan Imam Ali (as). Dari pernikahan ini lahirlah para Imam Ahlulbait (as), yang merupakan penjaga ajaran Nabi dalam tradisi Syiah.

Dengan demikian, rumah tangga Khadijah merupakan buaian lahirnya garis spiritual yang kemudian menjadi tonggak utama dalam tradisi keimanan Syiah, menjadikan beliau bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi ibu dari seluruh keturunan para Imam dan penjaga nilai-nilai keimanan yang terus hidup sampai akhir zaman.

Pengorbanan di Masa Kesukaran dan Akhir Hidupnya

Sayyidah Khadijah juga mengalami masa-masa sulit bersama Nabi ﷺ ketika seluruh Muslim di Makkah mengalami pemboikotan komunal oleh kaum Quraisy dalam lembah Shi’b Abi Talib. Beliau berdiri teguh bersama Nabi dan kaum Muslim, meskipun hal tersebut berarti harus menanggung keperihan, penderitaan, dan penderitaan fisik yang luar biasa.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun memberikan seluruh jiwa, harta dan tenaganya untuk Islam, Khadijah wafat dalam kondisi penuh kesederhanaan dan keteguhan iman. Namun nama dan jasa beliau tetap hidup di hati umat Islam sebagai wanita yang paling awal membela kebenaran ilahi tanpa kompromi.


Kesimpulan: Figur Universal dalam Sejarah Peradaban Islam

Sayyidah Khadijah binti Khuwailid (sa) bukanlah sekadar istri Nabi ﷺ — beliau adalah pendukung pertama, finansier utama, dan penyokong spiritual terdepan dalam sejarah lahirnya Islam. Keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan beliau menjadi standar tertinggi bagi siapa pun yang ingin meneladani kekuatan iman dan pengabdian total kepada Allah SWT dan risalah Nabi ﷺ. Dari perannya sebagai sosok entrepreneur hingga ibu dari Ahlulbait, nama Khadijah adalah nama yang menghiasi sejarah Islam dengan cahaya yang tak tergantikan.

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.