Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Tanda-Tanda Keruntuhan Masyarakat dalam Sabda Rasulullah saw

Keruntuhan sebuah masyarakat tidak selalu diawali oleh kehancuran fisik, krisis ekonomi, atau kekalahan militer. Dalam banyak peradaban, keruntuhan justru bermula dari sesuatu yang lebih halus namun mematikan: rusaknya orientasi nilai, matinya keberanian moral, dan hilangnya komitmen terhadap keadilan. Dalam sebuah hadis yang sarat peringatan, Rasulullah saw mengurai dengan sangat tajam tanda-tanda rusaknya sebuah kaum—sebuah peta moral yang tetap relevan hingga hari ini.

Rasulullah saw membuka sabdanya dengan menegaskan garis pemisah antara dua poros kehidupan: akhirat dan dunia.

“Tidak layak bagi para wali Allah—penghuni negeri keabadian—yang seluruh amal dan hasratnya tertuju ke sana, menjadi wali setan—penghuni negeri tipuan—yang seluruh amal dan hasratnya hanya untuk dunia.”

Sabda ini bukan sekadar nasihat individual, tetapi fondasi analisis sosial. Ketika orientasi akhirat ditukar dengan obsesi duniawi, maka ukuran benar dan salah akan bergeser. Nilai dikalahkan oleh kepentingan, prinsip ditundukkan oleh keuntungan, dan perlahan masyarakat kehilangan arah.

Matinya Amar Makruf dan Nahi Munkar

Rasulullah saw kemudian menyebut ciri paling awal dari kerusakan sosial: matinya amar makruf dan nahi munkar..

“Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang tidak memerintahkan kepada yang makruf dan tidak mencegah dari yang munkar. Dan seburuk-buruk umatku adalah mereka yang menyerang orang-orang yang menyeru kepada makruf dan mencegah kemungkaran.”

Di sinilah kerusakan tidak lagi bersifat pasif, melainkan agresif. Masyarakat tidak hanya diam terhadap kebatilan, tetapi justru memusuhi orang-orang yang mengingatkan. Dalam konteks modern, “melempari” para penyeru kebaikan bisa berarti membungkam suara kritis, melabeli kebenaran sebagai ekstremisme, atau menjadikan keadilan sebagai ancaman stabilitas.

Keadilan yang Diperangi

Kerusakan berikutnya adalah pengkhianatan terhadap keadilan—nilai inti yang menjadi misi para nabi.

“Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang tidak menegakkan keadilan karena Allah, dan yang membunuh orang-orang yang menyeru manusia kepada keadilan.”

Sabda ini seakan menggambarkan sejarah panjang penindasan terhadap para pembawa risalah kebenaran. Dalam tradisi Ahlulbait, keadilan bukan slogan, melainkan harga yang harus dibayar—bahkan dengan darah. Ketika penyeru keadilan dibungkam atau disingkirkan, sejatinya yang sedang dibunuh adalah nurani kolektif masyarakat itu sendiri.

Krisis Kepercayaan dan Ketaatan Buta

Rasulullah saw lalu mengurai kerusakan yang lebih dalam: krisis iman dan orientasi ketaatan.

“Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang lebih mempercayai talak daripada janji Allah, dan mereka yang menaati para pemimpinnya dalam kemaksiatan kepada Allah.”

Ini adalah potret masyarakat yang kehilangan sandaran transendennya. Ancaman manusia lebih ditakuti daripada murka Allah, dan ketaatan kepada penguasa ditempatkan di atas kebenaran. Dalam pandangan Islam Ahlulbait, ketaatan semacam ini bukanlah kebajikan, melainkan bentuk partisipasi dalam kezaliman.

Dunia di Atas Agama

Kerusakan mencapai puncaknya ketika agama dikorbankan demi dunia.

“Dan seburuk-buruk umatku adalah mereka yang mengutamakan dunia atas agama, serta menghalalkan yang haram dengan syahwat dan syubhat.”

Di titik ini, agama direduksi menjadi simbol, sementara nilai-nilainya dinegosiasikan. Yang haram dipoles dengan dalih rasionalitas, yang batil dibungkus dengan bahasa kebebasan, dan syubhat dijadikan alat untuk menumpulkan komitmen moral.

Akal Sejati: Kesadaran akan Kematian

Di akhir hadis, Rasulullah saw memberikan ukuran kecerdasan yang sama sekali berbeda dari ukuran peradaban material.

“Orang yang paling berakal adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang paling berakal.”

Mengingat kematian bukanlah sikap pasif atau pesimistis, melainkan puncak kesadaran moral. Orang yang sadar akan kematian tidak akan mudah tunduk pada kezaliman, tidak akan menjual kebenaran demi kenyamanan, dan tidak akan diam ketika keadilan diinjak-injak.

Penutup

Hadis ini diriwayatkan oleh Sayyid Fadhullah ar-Rawandi dalam Madinah al-Balaghah, dengan sanad kepada Imam Musa bin Ja‘far al-Kazhim as, dari ayah-ayah beliau as, dari Rasulullah saw. Hadis ini dinilai hasan dan sahih, serta diriwayatkan dalam beberapa redaksi yang saling menguatkan.

Bagi umat yang mengaku setia kepada Rasulullah saw dan Ahlulbait as, hadis ini bukan sekadar bacaan moral, melainkan cermin dan peringatan. Ia menuntut keberpihakan yang jelas: berpihak pada keadilan atau larut dalam kerusakan. Sebab dalam sejarah, yang paling berbahaya bukan hanya kezaliman, tetapi masyarakat yang terbiasa hidup berdampingan dengannya.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT