Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait

Di antara hadis-hadis panjang yang sarat makna, terdapat satu riwayat agung yang diriwayatkan oleh Syaikh ash-Shaduq dalam berbagai karyanya—di antaranya al-Majalis, al-Faqih, Ilal asy-Syarai‘, al-Khishal, dan Ma‘ani al-Akhbar. Riwayat ini juga disebutkan sebagian kandungannya oleh al-Barqi dalam al-Mahasin dan al-Ikhtishash, dengan beberapa jalur periwayatan yang sahih. Hadis ini mengisahkan dialog panjang Rasulullah saw dengan seorang Yahudi alim, yang akhirnya berujung pada pengakuan kenabian Rasulullah saw dan keimanan terhadap Ahlulbait as.

Riwayat ini bermula ketika sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah saw dan berkata,

“Wahai Muhammad, benarkah engkau mengaku sebagai utusan Allah dan menerima wahyu sebagaimana Musa bin Imran menerima wahyu?”

Rasulullah saw terdiam sejenak, lalu bersabda, “Benar. Aku adalah penghulu anak Adam, tanpa kesombongan. Aku penutup para nabi, pemimpin orang-orang bertakwa, dan utusan Tuhan semesta alam.”

Mereka kembali bertanya, “Untuk siapa engkau diutus? Untuk bangsa Arab, non-Arab, atau untuk kami?”

Maka turunlah firman Allah Swt, ‘Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian semua’ (QS. al-A‘raf: 158).

Salah seorang dari mereka yang paling berilmu kemudian berkata, “Aku akan bertanya kepadamu tentang sepuluh perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi atau malaikat.”

Rasulullah saw mempersilakannya.

Pertanyaan pertama menyentuh kalimat-kalimat pilihan Allah untuk Nabi Ibrahim as. Rasulullah saw menjawab bahwa kalimat itu adalah subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar. Ka‘bah dibangun atas empat kalimat ini dan dinamakan Ka‘bah karena ia berada di pertengahan dunia. Rasulullah saw kemudian menjelaskan makna setiap kalimat tersebut: tasbih sebagai pensucian Allah dari kedustaan manusia, tahmid sebagai pujian Allah sebelum hamba-hamba-Nya bersyukur, tauhid sebagai syarat diterimanya amal, dan takbir sebagai pengakuan bahwa tiada yang lebih agung dari Allah.

Beliau menjelaskan pula ganjaran setiap kalimat: tasbih diiringi tasbih para malaikat, tahmid sebagai kunci nikmat dunia dan akhirat, tauhid sebagai jalan menuju surga, dan takbir sebagai pembuka salat dan nama Allah yang paling mulia.

Pertanyaan berikutnya menyangkut nama-nama Rasulullah saw: Muhammad, Ahmad, Abul Qasim, Basyir, Nadzir, dan Da‘i. Rasulullah saw menjelaskan bahwa Muhammad adalah karena beliau terpuji di bumi, Ahmad karena terpuji di langit, Abul Qasim karena Allah membagi manusia di hari kiamat melalui beliau, Da‘i karena menyeru kepada agama Allah, Nadzir karena memberi peringatan, dan Basyir karena membawa kabar gembira surga.

Kemudian orang Yahudi itu bertanya tentang rahasia salat lima waktu. Rasulullah saw menjelaskan setiap waktu salat dengan keterkaitannya pada peristiwa Nabi Adam as dan hikmah kosmiknya. Salat Zuhur diwajibkan saat seluruh makhluk bertasbih setelah matahari tergelincir. Salat Ashar dipilih sebagai salat paling dicintai Allah dan harus dijaga. Salat Magrib berkaitan dengan diterimanya tobat Adam as. Salat Isya sebagai cahaya di kubur dan saat melintasi shirath. Salat Subuh dilakukan sebelum matahari terbit agar umat tidak sujud kepada matahari sebagaimana orang kafir.

Pertanyaan selanjutnya menyentuh wudhu. Rasulullah saw menjelaskan bahwa keempat anggota wudhu berkaitan dengan perbuatan Adam as saat mendekati pohon larangan. Karena itu Allah mewajibkan membasuh wajah, tangan, mengusap kepala, dan kaki. Ganjaran wudhu pun besar: setan menjauh, hati diterangi hikmah, wajah diputihkan di hari kiamat, dan kaki dimudahkan melewati shirath.

Kemudian ditanyakan tentang mandi junub. Rasulullah saw menjelaskan bahwa air mani mengalir ke seluruh tubuh, sehingga mandi diwajibkan hingga hari kiamat. Sedangkan kencing dan buang air besar cukup dengan wudhu. Mandi junub dari yang halal diganjar rumah di surga untuk setiap tetes air.

Pertanyaan keenam berkaitan dengan lima nama yang tertulis dalam Taurat. Rasulullah saw menyebutkan bahwa di dalam Taurat tertulis nama Muhammad sebagai utusan Allah, kemudian Ali bin Abi Thalib sebagai washi, Hasan dan Husain sebagai dua cucu beliau, serta Fatimah sebagai penghulu wanita alam semesta. Nama-nama ini disebut dalam bahasa Ibrani sebagai Eliya, Syubbar, dan Syubair, yang semuanya adalah cahaya Fatimah.

Ketika ditanya tentang keutamaan Ahlulbait, Rasulullah saw bersabda bahwa kecintaan kepada Ahlulbait adalah kesempurnaan iman. Beliau membaca firman Allah, ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian…’ (QS. al-Ma’idah: 3).

Pertanyaan selanjutnya membahas keutamaan laki-laki atas wanita, puasa Ramadhan, wuquf di Arafah, dan keistimewaan umat Muhammad saw. Rasulullah saw menjelaskan bahwa puasa tiga puluh hari berkaitan dengan lamanya makanan pohon larangan berada dalam perut Adam as. Ganjaran puasa Ramadhan mencakup tujuh keutamaan, dari pengampunan dosa hingga jamuan surga.

Tentang wuquf di Arafah, Rasulullah saw menjelaskan bahwa di sanalah Adam as menerima tobatnya, dan siapa pun yang hadir dengan rendah hati akan dibebaskan dari neraka dan dijamin surga.

Pada pertanyaan terakhir, Rasulullah saw menyebutkan tujuh keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau dan umatnya, seperti al-Fatihah, azan, salat berjamaah, hari Jumat, bacaan keras dalam salat tertentu, keringanan saat sakit dan safar, salat jenazah, dan syafaat bagi pelaku dosa besar.

Akhirnya, orang Yahudi itu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Ia mengeluarkan lembaran Taurat dan mengakui bahwa semua yang disampaikan Rasulullah saw telah tertulis di dalamnya, namun selama puluhan tahun berusaha dihapus dan selalu muncul kembali. Ia pun beriman setelah melihat Jibril dan Mikail di sisi Rasulullah saw serta Ali bin Abi Thalib di hadapan beliau.

Riwayat ini menegaskan bahwa keutamaan Ahlulbait as bukanlah rekaan, melainkan kebenaran yang termaktub dalam kitab-kitab terdahulu dan diriwayatkan lintas mazhab. Hadis ini juga menegaskan bahwa sebab-sebab syariat yang disebutkan di dalamnya adalah hikmah, bukan sebab kausal yang membatasi kehendak Allah.

Dari hadis ini pula tampak bahwa salat wustha adalah salat Ashar, meskipun terdapat perbedaan riwayat dalam hal ini. Keseluruhan riwayat ini, jika digabungkan dengan hadis-hadis mutawatir tentang dua belas imam, bahtera Nuh, dan hadis Tsaqalain, mengantarkan kita pada satu kesimpulan: bahwa Ahlulbait Rasulullah saw adalah penjaga agama, pewaris kebenaran, dan jalan keselamatan umat.

Dan kepada merekalah kaum Mukmin diperintahkan bersalawat bersama Rasulullah saw: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad.”


Disarikan dari kitab Madinah Balaghah

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT