Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

27 Rajab, Hari Diutusnya Nabi Agung Muhammad saw

Pada tanggal 27 Rajab, bertepatan dengan tahun 610 Masehi, pada usia empat puluh tahun, Nabi Muhammad saw diutus menjadi rasul. Sebelum peristiwa bi’tsah, beliau sering kali menyaksikan tanda-tanda dalam mimpi atau saat sadar. Bahkan terkadang, beliau diajak berbicara sebagai utusan Allah.

Baladzuri meriwayatkan bahwa suatu kali, saat Nabi Muhammad saw meninggalkan kota untuk urusan tertentu, ia melewati lembah-lembah dan bukit-bukit. Tiap pohon yang ia lewati mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaika ya Rasulallah,’ namun tak ada yang terlihat meskipun ia mencari ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Kadang-kadang, baik saat tidur maupun terjaga, beliau melihat satu sosok yang mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaika ya Rasulallah.’ Beliau bertanya, ‘Siapa engkau?’ Sosok itu menjawab, ‘Aku Jibril. Allah mengutusku untuk memilihmu sebagai seorang nabi.’ Meski Rasulullah menyaksikan kejadian ini, beliau tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Pada suatu kesempatan, beliau berbagi masalahnya kepada istri beliau, Khadijah. Sang istri menjawab, ‘Aku berharap demikian.’ Awal tahap wahyu dimulai dari mimpi yang benar. Beliau tidak bermimpi kecuali terang dan jelas seperti cahaya subuh. Maka, beliau cenderung menyepi, pergi ke gua Hira untuk beribadah kepada Tuhannya, beriktikaf beberapa malam, lalu pulang menemui Khadijah dan menyiapkan perbekalan. Hingga ketika sedang berada di gua Hira, kebenaran menjadi terang baginya dan Jibril berbicara dengannya.

Demikianlah perjalanan Rasulullah saw. Setiap tahunnya, beliau berada dalam gua Hira selama minimal sebulan untuk beribadah dengan aktif. Ubaid bin Umair berkata, “Rasulullah dalam setahun selama sebulan berada di gua Hira dan melakukan ibadah. Di masa itu beliau memberi kaum fakir makan. Ketika masa waktu khalwatnya selesai, beliau kembali ke Mekkah. Sebelum ke rumah, beliau melakukan thawaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali atau lebih.”

Gua Hira adalah sebuah bukit tinggi yang terletak di sebelah utara Mekkah ke arah Mina. Di tengah bukit, terdapat sebuah gua yang dikenal sebagai Gua Hira, yang mampu menampung tiga orang. Gua ini menjadi tempat iktikaf dan ibadah Nabi Muhammad saw, serta tempat turunnya wahyu dari malaikat Jibril.

Duduk di atas papan batu, beliau bertafakur berjam-jam lamanya, merenungi keagungan ciptaan-Nya, memandang langit yang berbintang dan keindahan Mekkah, serta menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Dalam tafakurnya, beliau memikirkan keajaiban tubuh manusia, alam semesta, dan segala makhluk-Nya, serta bersujud di hadapan keagungan Tuhan Sang Pencipta. Terkadang, beliau merasa sedih melihat masyarakat yang lupa akan Tuhan dan menyembah berhala-berhala yang tak bermakna. Beliau juga prihatin dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang kaya dan berkuasa terhadap kaum lemah, serta berusaha mencari solusi atasnya. Dalam keputusasaan, beliau selalu bermunajat kepada Allah, memohon petunjuk dalam menyelesaikan masalah ideologis, sosial, dan moral masyarakat.

Setelah sebulan masa iktikaf berakhir, beliau kembali ke Mekkah dengan hati yang tenang, penuh cahaya, yakin, dan penuh harapan. Melakukan thawaf di Ka’bah, beliau kemudian pulang ke rumah dan melanjutkan kehidupan sehari-harinya. Saat menginjak usia empat puluh tahun, seperti biasanya, beliau saw pergi kembali ke bukit Hira, dengan niat untuk bertafakur dan beribadah. Pada masa ini, beliau memilih bulan Rajab untuk iktikaf. Pada kesempatan ini, tafakurnya dan ibadahnya lebih dalam dan intens dibandingkan sebelumnya.

Tiba waktunya tanggal 27 Rajab. Nabi saw tenggelam dalam tafakur. Saat itulah Jibril turun dan berkata, “Engkau adalah utusan Allah dan engkau diperintahkan untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada umat manusia.” Dengan menyaksikan Jibril dan menerima wahyu, segenap eksistensi beliau menjadi terang. Dengan keimanan yang kukuh, hati yang tenang, dan niat yang pasti, beliau dari bukit Hira pulang ke rumah.

Imam Hadi as menjelaskan tentang kejadian ini: “Rasulullah saw membagikan seluruh apa yang beliau peroleh dari perniagaan di Syam kepada fakir miskin. Setiap hari beliau pergi ke bukit Hira dan menaiki puncak bukit. Menyaksikan tanda-tanda rahmat Allah, keajaiban-keajaiban, dan keindahan-keindahan hikmah-Nya, memandangi langit, bumi, laut, dan darat. Lalu mengambil hikmah darinya (‘ibrah). Beliau menyembah Allah sebagaimana Dia patut disembah.

Karena itu, bukit-bukit, batu-batu besar, pasir-pasir, dan benda yang beliau lewati mengucapkan salam kepada beliau: “Assalamu ‘alaika ya Muhammad! Assalamu ‘alaika ya Waliyallah! Assalamu ‘alaika ya Rasulallah! Berbahagialah! Karena Allah memberi Anda keutamaan dan keindahan. Anda memiliki kemuliaan di atas semua manusia dari awal sampai akhir. Janganlah bersedih karena Quraisy menyebut Anda orang gila. Sebab manusia utama ialah yang diutamakan Allah. Manusia mulia ialah yang dimuliakan Allah. Janganlah gundah dengan pendustaan Quraisy dan kaum Arab bebal. Karena Allah segera akan mengantarkan Anda menuju derajat yang paling tinggi dan paling mulia.”

*Disarikan dari buku Mengapa Nabi Diutus – Ayatullah Ibrahim Amini

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT