بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam kehidupan manusia, ada satu pertanyaan mendasar yang selalu relevan sepanjang sejarah: mengapa para nabi diutus? Apakah sekadar untuk mengajarkan ritual ibadah? Ataukah ada tujuan yang lebih besar dan mendasar bagi peradaban manusia?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas. Dalam Surah Al-Hadid ayat 25, Allah SWT berfirman bahwa Dia telah mengutus para rasul dengan bukti-bukti yang nyata, serta menurunkan bersama mereka kitab dan mizan (timbangan), agar manusia menegakkan keadilan (liyakuuman naasu bil qisth).
Ayat ini bukan sekadar informasi teologis. Ia adalah fondasi ideologis. Bahwa seluruh risalah kenabian, dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, memiliki satu misi utama: menegakkan keadilan.
Makna Keadilan yang Universal
Keadilan dalam Islam bukan sekadar melawan kezaliman, meskipun itu bagian darinya. Keadilan memiliki makna yang lebih mendalam: menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
- Menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan adalah keadilan.
- Mengikuti pemimpin yang ditunjuk oleh Allah adalah keadilan.
- Menjadikan nilai dan kebenaran sebagai standar hidup adalah keadilan.
Sebaliknya, kezaliman adalah penyimpangan dari itu semua:
- Menyembah selain Allah adalah kezaliman.
- Mengangkat pemimpin yang tidak berhak adalah kezaliman.
- Mengikuti hawa nafsu menggantikan kebenaran adalah kezaliman.
Dengan demikian, keadilan mencakup seluruh dimensi kehidupan: akidah, kepemimpinan, sosial, hingga politik.
Pertanyaan Besar: Mengapa Keadilan Belum Tegak?
Jika tujuan para nabi adalah menegakkan keadilan, maka muncul pertanyaan besar: mengapa keadilan belum terwujud secara sempurna di dunia ini?
Bukankah Allah telah mengutus ribuan nabi? Dalam riwayat disebutkan jumlahnya mencapai 124.000. Bahkan telah datang penutup para nabi, Nabi Muhammad SAW. Namun kenyataannya, dunia masih dipenuhi penindasan, penjajahan, ketimpangan, dan kezaliman.
Jawabannya dijelaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Mu’minun ayat 44. Allah menyatakan bahwa para rasul diutus silih berganti, tetapi setiap kali datang seorang rasul, mayoritas umatnya mendustakan.
Di sinilah letak persoalannya.
Masalahnya bukan pada Allah.
Masalahnya bukan pada para nabi.
Masalahnya ada pada umat manusia.
Sejarah Penolakan Umat terhadap Para Nabi
Jika kita menelusuri sejarah para nabi, kita akan menemukan pola yang sama:
- Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun, namun hanya sedikit yang beriman.
- Nabi Hud dan Nabi Shalih didustakan oleh kaumnya.
- Nabi Musa AS diikuti oleh minoritas Bani Israil, bahkan kemudian mereka menyimpang.
- Nabi Luth AS, Nabi Syu’aib AS, hingga Nabi Ibrahim AS—semuanya menghadapi penolakan.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa yang beriman selalu minoritas (qalil).
Ini adalah hukum sejarah: kebenaran tidak selalu diikuti oleh mayoritas.
Bahkan di Masa Nabi Muhammad SAW
Mungkin kita mengira bahwa umat Nabi Muhammad SAW berbeda. Namun Al-Qur’an justru menunjukkan realitas yang mengejutkan.
Dalam Surah Al-Jumu’ah disebutkan bahwa ketika Rasulullah sedang berkhutbah, sebagian sahabat meninggalkan beliau demi urusan perdagangan dan hiburan:
“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka bergegas kepadanya dan meninggalkan engkau (Muhammad) berdiri.”
Ini bukan cerita biasa. Ini adalah gambaran bahwa bahkan di hadapan Rasulullah sekalipun, loyalitas umat tidak sempurna.
Maka tidak heran jika setelah wafatnya Nabi, terjadi berbagai fitnah besar dalam sejarah Islam. Ini menunjukkan bahwa masalah utama tetap sama: ketidaktaatan umat terhadap pemimpin ilahi.
Krisis Kepemimpinan dalam Umat
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amr (pemimpin). Namun pertanyaan mendasarnya:
Siapa ulil amr umat hari ini?
Jika umat tidak memiliki kejelasan tentang kepemimpinan, maka keadilan tidak akan pernah tegak. Karena keadilan membutuhkan sistem, dan sistem membutuhkan pemimpin yang sah.
Dalam perspektif Ahlulbait, kepemimpinan itu jelas dan berkesinambungan:
Dari Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan, Imam Husain, hingga dua belas Imam, yang terakhir adalah Imam Mahdi.
Imam Mahdi dan Masa Kegaiban
Imam Mahdi adalah kelanjutan dari misi para nabi: menegakkan keadilan global. Namun saat ini beliau berada dalam kondisi ghaib (tidak tampak).
Apakah ini berarti umat kehilangan pemimpin?
Tidak.
Dalam riwayat disebutkan bahwa keberadaan Imam Mahdi di masa kegaiban seperti matahari yang tertutup awan:
- Mataharinya tidak terlihat,
- tetapi cahayanya tetap dirasakan.
Demikian pula Imam Mahdi:
- Tidak tampak secara fisik,
- tetapi petunjuknya tetap mengalir melalui sistem yang telah ditetapkan.
Peran Ulama di Masa Kegaiban
Para Imam telah memberikan solusi untuk masa kegaiban. Umat diperintahkan untuk merujuk kepada para fuqaha (ulama) yang memiliki kriteria:
- Menjaga agama (hafiz li din)
- Menahan hawa nafsu
- Taat kepada Allah
- Berintegritas tinggi
Dalam riwayat, mereka disebut sebagai hujjah Imam atas umat, sebagaimana Imam adalah hujjah Allah.
Artinya, umat tidak pernah benar-benar tanpa pemimpin.
Poros Perlawanan dan Manifestasi Keadilan
Dalam konteks kontemporer, kita menyaksikan fenomena menarik: munculnya kekuatan yang berani melawan dominasi global dan kezaliman internasional.
Jika kita kembali kepada sejarah para nabi, mereka semua memiliki satu kesamaan: melawan “Firaun” di zamannya.
- Nabi Musa melawan Firaun
- Nabi Ibrahim melawan Namrud
- Imam Husain melawan Yazid
Hari ini, pola itu kembali terlihat.
Ada kekuatan yang berdiri melawan hegemoni global, menolak tunduk pada penindasan, dan siap berkorban demi keadilan. Mereka tidak memulai agresi, tetapi mereka tidak tunduk pada kezaliman.
Ini bukan sekadar konflik politik.
Ini adalah kelanjutan dari misi kenabian.
Ujian Zaman: Kita Berpihak ke Mana?
Sejarah selalu menghadirkan momen-momen penentuan (yaumul furqan), di mana manusia harus memilih:
- Bersama Musa atau Firaun?
- Bersama Ibrahim atau Namrud?
- Bersama Husain atau Yazid?
Hari ini, pertanyaan itu kembali hadir.
Kita mungkin bukan pejuang di medan perang. Namun kita tetap memiliki tanggung jawab:
- Dengan pemikiran
- Dengan tulisan
- Dengan doa
- Dengan sikap
Karena tidak berpihak pada kebenaran juga merupakan sebuah pilihan—dan konsekuensinya sangat besar.
Menuju Kemenangan: Dua Kemungkinan
Perjalanan ini akan menuju salah satu dari dua kemungkinan:
- Kemenangan melalui perjuangan berkelanjutan, di bawah bimbingan sistem yang ada.
- Kemunculan Imam Mahdi, ketika kondisi telah siap secara ilahi.
Keduanya adalah kemenangan.
Namun yang terpenting adalah: apakah kita siap menjadi bagian dari barisan keadilan?
Penutup
Keadilan bukan sekadar konsep. Ia adalah misi ilahi yang diwariskan dari para nabi kepada umat manusia.
Namun sejarah menunjukkan bahwa kegagalan menegakkan keadilan bukan karena kurangnya petunjuk, melainkan karena ketidaktaatan manusia terhadap pemimpin ilahi.
Hari ini, kita hidup di zaman yang menentukan. Zaman di mana kebenaran dan kebatilan semakin jelas.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Di mana keadilan itu?”
Tetapi:
“Apakah kita termasuk orang-orang yang menegakkannya?”
Ditranskrip dari ceramah Ustadz Abdillah Baabud di kanal Youtube Al-Qurba TV dengan Tema “Mereka salah kalkuklasi !”