Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

DI TEHRAN INDONESIA TETAP HADIR

Oleh: Ustadz Dr. Muhsin Labib, MA

Teheran, pada hari itu, bukan lagi sekadar kota. Ia menjelma lautan manusia. Dari segala penjuru dunia, delegasi berdatangan silih berganti, menyatu dalam satu arus duka yang tak terbendung. Jalan-jalan dipadati pelayat. Doa bergema dari setiap sudut kota, bersahutan dengan isak yang tak lagi disembunyikan. Duka dan penghormatan melebur menjadi satu udara yang dihirup bersama, satu suasana yang tak sanggup ditangkap oleh kata.

Demi keamanan, tak seorang pun diperkenankan membawa telepon genggam atau alat perekam. Banyak momen pun hilang, tak terabadikan. Namun mata menyaksikan. Dan hati, diam-diam, merekam segalanya.

Ada satu momen yang tak akan pernah pudar. Ketika rombongan kecil dari Indonesia memperoleh kesempatan memberi penghormatan terakhir secara langsung, diiringi musik yang mengiris hati kami melangkah masuk dengan beban yang tak tertanggungkan. Tepat ketika langkah kami berhenti, ayat suci al-Quran digemakan. Di hadapan kami terpampang lima peti jenazah berbungkus bendera Iran. Di tempat tertinggi, bersemayam Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei. Di bawahnya, seluruh anggota keluarga yang gugur, termasuk cucunya.

Tak ada seorang pun di antara kami yang sanggup bersuara. Kami hanya berdiri. Menunduk. Mengusap air mata yang menolak untuk ditahan. Tangis pecah dalam diam. Di hadapan kami bukan sekadar jasad seorang pemimpin, melainkan jejak sebuah hidup yang telah dihabiskan seluruhnya untuk keyakinan, perjuangan, bangsanya, dan umat Islam, bahkan setiap insan merdeka.

Kami tak mampu mengabadikan momen itu. Namun Alhamdulillah, awak media Iran merekamnya, dan sebuah stasiun televisi menayangkannya ke seluruh dunia. Dari tayangan itulah tampak rombongan Indonesia turut berdiri di antara barisan penghormatan. Rekaman itu menjadi saksi bisu bahwa pada hari bersejarah itu, Indonesia juga hadir.

Memang benar, Indonesia tak hadir lewat delegasi resmi negara. Sebuah kenyataan yang patut disesalkan, terlebih ketika lebih dari empat puluh negara mengirimkan wakil resminya. Armenia yang mayoritas Kristen turut hadir. Bahkan Arab Saudi yang hubungannya dengan Iran mengalami ketegangan mengutus wakil menteri beserta rombongan pejabat tinggi untuk memberi penghormatan terakhir.

Bahkan tampak pula wajah-wajah dari tradisi keyakinan yang berbeda-beda, para pemuka dan perwakilan lintas agama yang datang bukan atas nama Islam, melainkan atas nama kemanusiaan yang mengenali keagungan sebuah pengorbanan. Duka itu, pada hari itu, telah melampaui sekat mazhab, melampaui batas keyakinan, dan melampaui garis-garis yang biasa memisahkan umat manusia satu sama lain.

Tetapi Indonesia bukan hanya negara. Indonesia adalah rakyatnya. Kami bukan pejabat. Kami bukan tokoh besar. Kami tidak membawa mandat kenegaraan. Namun kami hadir sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang terpanggil untuk menghormati Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei, dan menghormati bangsa Iran yang selama puluhan tahun berdiri tegak di hadapan sanksi, tekanan, ancaman, dan perang, tanpa sekalipun menyerahkan kedaulatannya.

Kami menolak larut di antara ribuan tamu dari berbagai bangsa. Kami ingin Indonesia dikenali. Maka dalam setiap momen penting, dari upacara penghormatan terakhir hingga konferensi internasional yang dihadiri Presiden Republik Islam Iran, sebagian besar dari kami mengenakan peci hitam, peci nasional Indonesia.

Peci itu bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah penanda. Di tengah ribuan wajah dari berbagai bangsa, peci itu berbicara tanpa kata, mengatakan bahwa ada anak-anak Indonesia yang berdiri di sana. Bahwa bangsa besar ini tidak sepenuhnya absen dari panggung sejarah. Bahwa ketika sejarah sedang ditulis, ada putra-putri Indonesia yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, berdiri di barisan depan, bukan sebagai penonton dari kejauhan.

Kami sadar, yang kami wakili bukanlah negara secara administratif. Namun kami membawa suara hati rakyat Indonesia yang menolak penjajahan, menolak kekejaman, dan menaruh hormat kepada bangsa yang memilih berdiri tegak di hadapan tekanan dunia. Berbagai survei menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia bersimpati kepada Iran dalam konfrontasinya dengan Amerika Serikat dan Israel, sebagian bahkan mencatat angka hingga delapan puluh empat persen. Kehadiran kami adalah satu jejak kecil dari suara hati itu.

Di balik lautan air mata rakyat Iran, kami menyaksikan sesuatu yang lain: kebanggaan. Bukan kebanggaan atas kehilangan, melainkan kebanggaan karena telah membayar lunas harga kemerdekaan. Rakyat Iran seakan hendak berkata kepada dunia bahwa Amerika Serikat bukanlah kekuatan yang mustahil dilawan. Bahwa sebesar apa pun kuasa yang dimiliki sebuah negara adidaya, akan selalu ada bangsa yang lebih memilih berdiri tegak daripada hidup dengan kepala tertunduk.

Di hadapan jenazah Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei dan keluarganya, kami semakin memahami bahwa kemerdekaan bukan rangkaian kata dalam pidato. Kemerdekaan bukan slogan yang diteriakkan dalam rapat umum. Kemerdekaan adalah pengorbanan. Kemerdekaan adalah keberanian membayar harga demi mempertahankan kehormatan sebuah bangsa.

Pelajaran itu terasa begitu dekat dengan Indonesia. Bangsa Indonesia dan bangsa Iran sama-sama memiliki sejarah panjang melawan penjajahan. Kedua bangsa sama-sama mengenal arti kehilangan, pengorbanan, dan harga mahal yang harus dibayar demi mempertahankan martabat. Karena itulah, di ruang penghormatan yang dipenuhi kesunyian itu, kami tidak sedang menyaksikan sejarah bangsa lain semata. Kami sedang bercermin pada sejarah bangsa kami sendiri.

Kami keluar dari ruangan itu tanpa membawa satu pun foto pribadi. Tak ada rekaman yang tersimpan. Namun kami membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: kesaksian. Kesaksian bahwa kami pernah berdiri di hadapan seorang pemimpin yang dihormati bangsanya, menyaksikan air mata rakyatnya, dan menyaksikan bagaimana sebuah bangsa memaknai kemerdekaan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala pengorbanan.

Ketika televisi Iran kemudian menayangkan momen penghormatan terakhir itu, dan rombongan Indonesia tampak berdiri di dalamnya, kami tidak melihat sekadar wajah-wajah pribadi. Kami melihat Indonesia. Bukan Indonesia yang hadir lewat protokol kenegaraan, melainkan Indonesia yang hadir lewat hati rakyatnya. Indonesia yang sejak dahulu mengenal arti perlawanan terhadap penjajahan. Indonesia yang meyakini bahwa kemerdekaan bukan sekadar hak setiap bangsa, melainkan amanah yang harus dijaga, sekalipun harus dibayar dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT