Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Apakah Al-Husein telah Mengetahui Tragedi yang Akan Dialaminya?

Oleh: Ustadz DR. Muhsin Labib, MA

Menjelang maghrib, seperti biasa saya menyelesaikan jogging ringan sekitar dua kilometer. Tidak jauh, hanya cukup untuk menjaga tubuh tetap bergerak dan pikiran tetap segar setelah seharian mengajar, membaca, menulis, menerima tamu, atau mengerjakan berbagai pekerjaan lainnya.

Titik awal dan titik akhirnya hampir selalu sama, sebuah coffee shop yang terhubung dengan supermarket kecil tidak jauh dari tempat tinggal saya. Tempat itu sudah menjadi bagian dari rutinitas harian saya. Setelah jogging, saya biasanya berhenti sejenak di sana untuk minum air dan menikmati secangkir kopi sebelum pulang.

Asisten saya juga sering menunggu di tempat itu. Kadang dia datang lebih dahulu. Kadang saya yang lebih dahulu tiba. Kadang kami pulang bersama dengan motor. Kadang saya memilih berjalan kaki pulang sehingga jarak tempuh menjadi lebih panjang. Namun hampir setiap sore, sebelum pulang, kami menyempatkan diri berbincang beberapa saat.

Percakapan-percakapan itu tidak pernah direncanakan. Kadang tentang kampus. Kadang tentang buku. Kadang tentang filsafat. Kadang tentang politik. Kadang tentang peristiwa yang sedang ramai diperbincangkan. Dan karena hari-hari itu adalah hari-hari Muharram, tema Karbala lebih sering muncul dibanding tema-tema lainnya.

Sore itu, setelah saya menyesap kopi, asisten saya mengingatkan agenda yang akan saya jalani malam harinya.

“Pak, jangan lupa malam ini ada jadwal ceramah Muharram.”

“Saya ingat.”

“Sudah ada tema yang akan dibahas?”

Saya tersenyum.

“Belum tentu. Kadang-kadang tema datang sendiri ketika mulai berbicara.”

Dia tertawa kecil.

“Kalau begitu saya punya pertanyaan. Siapa tahu bisa menjadi bahan ceramah malam ini.”

“Silakan.”

Dia terdiam sesaat sebelum bertanya.

“Selama Muharram saya sering mendengar pembicaraan tentang Imam Husain. Beliau cucu Nabi, manusia suci, dibesarkan dalam rumah kenabian, dididik langsung oleh Nabi, dan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Yang membuat saya penasaran, kalau beliau memiliki pengetahuan yang demikian tinggi, mengapa beliau tetap menjalani perjalanan yang berakhir di Karbala? Apakah beliau tidak mengetahui apa yang akan terjadi? Ataukah beliau memang mengetahui semuanya sejak awal?”

Saya tersenyum.

“Itu pertanyaan yang menarik. Dan saya kira banyak orang pernah memikirkannya.”

“Bagaimana jawabannya, Pak?”

“Saya kira kita harus mulai dari satu hal yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira bahwa kesucian berarti mengetahui segala sesuatu. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.”

“Tapi para nabi, para imam, dan para wali suci memang memiliki pengetahuan yang jauh lebih tinggi daripada manusia biasa.”

“Tentu.”

“Bahkan pengetahuan hakiki?”

“Tentu.”

“Nah, kalau begitu apa bedanya dengan mengetahui segala sesuatu?”

“Karena pengetahuan hakiki juga memiliki gradasi.”

“Maksudnya?”

“Cahaya matahari adalah cahaya. Cahaya bulan juga cahaya. Sama-sama cahaya. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa cahaya bulan bukan cahaya. Tetapi tidak ada pula yang menyamakan keduanya. Keduanya memiliki hakikat yang sama sebagai cahaya, tetapi berbeda dalam tingkat manifestasi dan kekuatannya.”

Dia mengangguk.

“Jadi pengetahuan juga begitu?”

“Ya. Ilmu Allah adalah ilmu hakiki. Pengetahuan para nabi, para imam, dan para wali suci juga pengetahuan hakiki. Sama-sama hakiki. Yang berbeda bukan hakikinya.”

“Lalu apa yang berbeda?”

“Gradasinya.”

Dia memperhatikan dengan saksama.

“Maksudnya?”

“Ilmu Allah adalah ilmu hakiki yang berdiri pada diri-Nya sendiri. Ia tidak diperoleh. Tidak diajarkan. Tidak bergantung kepada apa pun. Tidak terbatas. Allah mengetahui karena Dia adalah Wajib al-Wujud.”

“Lalu para nabi, para imam, dan para wali suci?”

“Mereka juga memiliki pengetahuan hakiki. Akan tetapi pengetahuan hakiki mereka adalah anugerah Allah. Yang satu hakiki sebagai sebab. Yang lain hakiki sebagai akibat. Yang satu berdiri pada dirinya sendiri. Yang lain berdiri karena Allah. Yang satu tidak terbatas. Yang lain terbatas pada apa yang Allah kehendaki untuk diberikan.”
“Jadi sama-sama hakiki?”

“Tentu. Sama-sama hakiki.”

“Tetapi tidak pada tingkat yang sama?”

“Tepat.”

Dia terdiam beberapa saat.

“Tapi bukankah para nabi dan para imam dapat mengetahui hal-hal yang tidak diketahui manusia biasa?”

“Tentu.”

“Termasuk masa depan?”

“Tentu saja bisa, apabila Allah memberitahukannya.”

“Lalu bagaimana kita memahami batasannya?”

Saya meletakkan cangkir kopi.

“Kita memiliki contoh yang sangat jelas dalam Al-Qur’an. Allah memberitahu Nabi bahwa di antara penduduk Madinah terdapat orang-orang munafik yang tidak beliau ketahui. Mereka hidup di sekitar beliau. Sebagian bergaul dengan beliau. Sebagian menampilkan diri sebagai orang beriman. Tetapi Allah berfirman bahwa Nabi tidak mengetahui mereka, sedangkan Allah mengetahui mereka.”

Dia mengangguk.

“Jadi Nabi tidak mengetahui seluruh realitas yang ada di sekitarnya?”

“Beliau mengetahui apa yang Allah ajarkan dan tampakkan kepada beliau. Adapun apa yang tidak Allah tampakkan, beliau tidak mengetahuinya.”

“Karena itu beliau memperlakukan manusia berdasarkan apa yang tampak?”

“Tepat. Nabi memperlakukan manusia berdasarkan apa yang tampak secara lahiriah. Beliau tidak membelah dada manusia untuk melihat isi hati mereka.”

“Jadi pengetahuan Nabi tetap merupakan pengetahuan yang diberikan?”

“Tepat. Dan hal yang sama berlaku pada para imam dan para wali suci. Pengetahuan mereka sangat tinggi, sangat luas, sangat dalam, tetapi tetap merupakan anugerah Allah.”

Dia tampak merenung.

“Lalu bagaimana memahami Karbala?”

“Saya melihatnya melalui hukum kausalitas.”

“Hukum sebab dan akibat?”

“Ya. Para nabi, para imam, dan para wali suci memahami hubungan sebab dan akibat jauh lebih dalam daripada kita. Mereka melihat realitas lebih jernih. Mereka memahami arah perkembangan suatu peristiwa lebih baik daripada manusia biasa. Tetapi kehidupan tetap berlangsung melalui proses sebab dan akibat.”

“Ya. Para nabi, para imam, dan para wali suci memahami hubungan sebab dan akibat jauh lebih dalam daripada kita. Mereka melihat realitas lebih jernih. Mereka memahami arah perkembangan suatu peristiwa lebih baik daripada manusia biasa. Tetapi kehidupan tetap berlangsung melalui proses sebab dan akibat.”

“Maksudnya?”

“Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin jauh ia mampu memahami konsekuensi dari suatu keadaan. Para manusia suci memahami konsekuensi-konsekuensi itu jauh lebih baik daripada kita. Tetapi itu tidak berarti mereka berada di luar hukum kausalitas.”

“Jadi Imam Husain juga berada dalam hukum kausalitas?”

“Tentu. Beliau mengetahui kerusakan yang sedang berkembang dalam tubuh umat Islam. Beliau mengetahui bahaya pembiaran terhadap penyimpangan. Beliau mengetahui konsekuensi moral, sosial, dan keagamaan dari legitimasi terhadap kekuasaan yang dianggap menyimpang. Tetapi mengetahui arah suatu peristiwa tidak sama dengan mencari akibat dari peristiwa itu.”

“Maksudnya?”

“Coba pikirkan. Kalau tujuan Imam Husain adalah kematian, mengapa beliau berdialog? Mengapa beliau memberi nasihat? Mengapa beliau mengingatkan lawan-lawannya kepada Allah dan Rasulullah? Mengapa beliau membuka berbagai peluang agar pertumpahan darah tidak terjadi?”

Dia tersenyum.

“Kalau memang ingin mati, semua itu tidak perlu dilakukan.”

“Tepat.”

“Berarti beliau tidak mencari syahadah?”

Saya menggeleng pelan.

“Syahadah tidak perlu dicari.”

“Maksudnya?”

“Syahadah adalah anugerah.”

Dia memperhatikan dengan serius.

“Seseorang tidak berangkat mencari syahadah sebagaimana orang mencari hadiah. Syahadah adalah kehormatan yang diberikan Allah kepada orang yang tetap setia kepada kebenaran sampai batas tertinggi yang dapat dicapainya.”

“Jadi syahadah bukan tujuan?”

“Syahadah adalah konsekuensi sekaligus anugerah.”

“Maksudnya?”

“Bayangkan sebuah trofi yang diberikan kepada seorang pelari setelah ia menyelesaikan perlombaan. Trofi itu bukan yang membuat kakinya bergerak. Yang membuatnya berlari adalah perlombaannya. Trofi diberikan setelah seluruh proses dijalani.”

“Jadi Imam Husain tidak bergerak menuju Karbala demi syahadah?”

“Saya tidak melihatnya begitu. Beliau bergerak karena kebenaran yang diyakininya. Beliau menjalankan tanggung jawab yang dipahaminya sebagai kewajiban.”

Saya berhenti sejenak.

“Perhatikan rangkaian peristiwanya. Beliau menasihati. Nasihat itu tidak didengar. Beliau mengingatkan. Peringatan itu tidak dihiraukan. Beliau berdialog. Dialog itu ditolak. Beliau menawarkan berbagai jalan keluar. Jalan-jalan itu ditutup. Beliau dihadang. Beliau diancam. Beliau dipaksa memberikan baiat. Beliau dan rombongannya dikepung. Bahkan akses air pun ditutup.”

Dia mengangguk perlahan.

“Jadi satu demi satu sebab mulai terwujud.”

“Tepat.”

“Dan ketika semua itu terjadi?”

“Ketika seluruh jalan untuk mempertahankan kebenaran telah ditutup dan yang tersisa hanyalah memilih antara mengorbankan prinsip atau mengorbankan diri, maka mempertahankan prinsip menjadi sebuah keharusan moral.”

Dia terdiam.

“Jadi pada titik itu tidak boleh mundur?”

“Karena mundur berarti mengorbankan kebenaran itu sendiri.”

Saya melanjutkan.

“Di situlah kita memahami makna ungkapan Imam Husain bahwa apabila agama Muhammad tidak dapat tegak kecuali dengan terbunuhnya dirinya, maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain menerima konsekuensi tersebut.”

Dia mengangguk.

“Jadi kalimat itu bukan pernyataan seseorang yang sejak awal mencari kematian.”

“Bukan.”

“Lalu apa?”

“Itu adalah kesimpulan dari sebuah proses.”

“Sebuah proses kausalitas?”

“Tepat.”

“Jadi ucapan itu lahir setelah seluruh sebab-sebabnya terwujud?”

“Ya. Setelah nasihat tidak didengar. Setelah peringatan tidak dihiraukan. Setelah dialog ditolak. Setelah jalan-jalan keluar ditutup. Setelah ancaman datang. Setelah baiat dipaksakan. Setelah pengepungan dilakukan. Setelah akses air ditutup. Setelah seluruh kemungkinan untuk mempertahankan kebenaran tanpa pengorbanan diri tidak lagi tersedia.”

Dia tampak berpikir cukup lama.

“Jadi pada titik itu syahadah menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.”

“Saya lebih suka mengatakan bahwa pada titik itu syahadah menjadi konsekuensi dari kesetiaan kepada kebenaran.”

“Dan sekaligus anugerah?”

“Ya. Konsekuensi sekaligus anugerah.”

Dia mengangguk pelan.

“Lalu bagaimana dengan para sahabat Imam Husain?”

“Itulah bagian yang menurut saya sangat penting.”

“Mengapa?”

“Karena di sana kita melihat hubungan antara kebebasan dan pengorbanan.”

“Maksudnya?”

“Kalau tujuan Imam Husain adalah mengumpulkan orang untuk mati bersama beliau, tentu beliau tidak akan memberikan pilihan kepada mereka.”

“Pilihan untuk pergi?”

“Ya.”

Dia tampak terkejut.

“Pada malam Asyura?”

“Ya.”

“Ketika semuanya sudah jelas?”

“Justru ketika semuanya sudah sangat jelas.”

Saya menyesap sisa kopi.

“Pada malam itu beliau memberikan kesempatan kepada siapa pun yang ingin memilih jalan lain. Beliau tidak memaksa siapa pun untuk tetap tinggal. Beliau tidak memaksa siapa pun untuk ikut menanggung risiko yang akan datang.”

“Jadi pintu untuk pergi tetap terbuka?”

“Tetap terbuka.”

“Dan mereka bebas memilih?”

“Ya.”

“Kalau begitu mengapa mereka tetap bertahan?”

“Karena mereka memilih untuk bertahan.”

“Bukan karena tidak punya pilihan?”

“Bukan.”

“Bukan karena dipaksa?”

“Bukan.”

“Bukan karena terjebak?”

“Bukan.”

“Mereka tetap tinggal karena keputusan mereka sendiri?”

“Tepat.”

Dia terdiam cukup lama.

“Jadi kesetiaan mereka menjadi jauh lebih bermakna.”

“Tentu. Sebab nilai moral lahir dari kebebasan. Kalau tidak ada pilihan, yang ada hanyalah keterpaksaan.”

“Jadi pengorbanan mereka bernilai karena mereka bisa memilih sebaliknya?”

“Ya.”

“Mereka bisa pergi tetapi tidak pergi.”

“Ya.”

“Mereka bisa menyelamatkan diri tetapi tidak melakukannya.”

“Ya.”

“Mereka bisa memilih hidup yang lebih aman.”

“Ya.”

“Tetapi mereka memilih tetap bersama Al-Husain.”

“Tepat.”

Dia mengangguk pelan.

“Dan semuanya gugur.”

“Ya.”

“Apakah semuanya memperoleh kedudukan yang sama?”

Saya menggeleng.

“Tidak harus sama.”

“Mengapa?”

“Karena kualitas iman, keikhlasan, pengorbanan, kesadaran, kecintaan, dan capaian rohani manusia tidak sama.”

“Jadi syahadah juga memiliki gradasi?”

“Tentu.”
[23/06/2026 21:16] DR. Muhsin Labib: “Sebagaimana pengetahuan memiliki gradasi?”

“Tepat.”

“Jadi masing-masing memperoleh kedudukan sesuai kualitas dirinya?”

“Ya.”

“Sesuai kualitas perjalanan yang ditempuhnya?”

“Ya.”

“Sesuai kualitas pengorbanannya?”

“Ya.”

Dia tersenyum.

“Kalau memakai bahasa yang lebih sederhana, masing-masing memperoleh trofi sesuai kualitas perlombaannya.”

Saya ikut tersenyum.

“Itu cara yang cukup baik untuk menjelaskannya.”

“Itu cara yang cukup baik untuk menjelaskannya.”

Dia tersenyum, lalu kembali terdiam beberapa saat.

Di luar, langit sore mulai berubah warna. Cahaya matahari yang sejak tadi menyinari jalanan perlahan meredup. Orang-orang datang dan pergi. Sebagian singgah membeli kebutuhan harian di supermarket kecil yang menyatu dengan coffee shop itu. Sebagian lagi hanya mampir sebentar untuk menikmati minuman sebelum pulang.

Percakapan kami belum selesai.

Biasanya memang begitu.

Satu pertanyaan melahirkan pertanyaan lain.

Satu jawaban membuka pintu bagi pertanyaan berikutnya.

Setelah beberapa saat, dia kembali berbicara.

“Ada betulnya pandangan Bapak. Tetapi saya pernah membaca beberapa buku dan mendengar beberapa ceramah yang tampaknya berbeda. Sebagian ulama dan penulis memandang bahwa Imam Husain sudah mengetahui seluruh detail peristiwa Karbala sejak awal.”

“Itu memang ada.”

“Jadi memang ada perbedaan pandangan?”

“Tentu saja ada.”

“Maksudnya?”

“Dalam setiap tradisi keagamaan terdapat berbagai pandangan, berbagai penafsiran, berbagai kecenderungan, bahkan berbagai cara memahami teks yang sama.”

Dia mengangguk.

“Jadi ketika seseorang memilih sebuah mazhab, dia tidak otomatis harus menerima semua pandangan yang pernah lahir di dalamnya?”

“Tentu tidak.”

“Mengapa?”

“Karena tidak ada tradisi intelektual yang hanya memiliki satu suara. Di dalam setiap tradisi selalu ada keragaman.”

Dia memperhatikan dengan saksama.

“Ada yang sangat filosofis. Ada yang sangat literal. Ada yang sangat luas. Ada yang sangat sempit. Ada yang sangat berhati-hati. Ada pula yang terkesan berlebihan.”

“Termasuk dalam pembahasan tentang para nabi, para imam, dan para wali suci?”

“Termasuk. Bahkan mungkin terutama dalam pembahasan itu.”

Dia mengangguk pelan.

“Jadi tetap harus berpikir.”

“Tentu.”

“Walaupun kita mengikuti sebuah mazhab?”

“Tentu.”

“Walaupun kita menghormati para ulama?”

“Tentu.”

Dia tersenyum.

“Sebagian orang mungkin tidak menyukai jawaban itu.”

Saya tertawa kecil.

“Mungkin.”

“Lalu bagaimana menurut Bapak?”

“Menurut saya, seseorang tetap harus bertanggung jawab terhadap keyakinannya sendiri.”

“Maksudnya?”

“Ketika seseorang bergabung dengan sebuah mazhab atau tradisi keagamaan, bukan berarti dia otomatis menerima seluruh pandangan yang pernah lahir di dalamnya.”

“Karena di dalamnya terdapat banyak pandangan?”

“Tepat.”

“Banyak penafsiran?”

“Tepat.”

“Banyak kecenderungan?”

“Tepat.”

Saya melanjutkan.

“Ada kecenderungan yang sangat luas sehingga hampir tidak mengenal batas. Ada kecenderungan yang sangat sempit sehingga hampir tidak menyisakan ruang bagi dimensi metafisik. Ada yang cenderung mengagungkan secara berlebihan. Ada pula yang cenderung mereduksi segala sesuatu menjadi peristiwa biasa yang kehilangan dimensi spiritualnya.”

“Lalu posisi yang Bapak pilih?”

“Saya berusaha mencari penjelasan yang logis tanpa kehilangan sakralitasnya.”

Dia mengangguk.

“Itu kalimat yang pernah Bapak katakan sebelumnya.”

“Karena saya memang meyakininya.”

“Maksudnya?”

“Agama tidak perlu dipaksa memilih antara rasionalitas dan kesakralan.”

Dia memperhatikan.

“Jika kita hanya mengejar kesakralan tanpa logika, kita mudah terjatuh pada pengagungan yang berlebihan.”

“Dan kalau hanya mengejar logika?”

“Kita berisiko menjadikan agama sekadar fenomena sejarah yang kehilangan kedalaman rohaninya.”

“Jadi keduanya harus berjalan bersama.”

“Ya.”

“Kita menjaga kesakralan tanpa mengorbankan akal sehat.”

“Ya.”

“Dan menggunakan akal sehat tanpa mereduksi kesakralan.”

“Ya.”

Dia kembali terdiam.

Beberapa saat kemudian terdengar suara adzan maghrib dari kejauhan.

Orang-orang mulai bergerak lebih cepat. Sebagian bergegas pulang. Sebagian menutup transaksi terakhir mereka. Sebagian lagi baru saja tiba.

Saya melihat jam sebentar.

Waktu memang berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Pak.”

“Ya?”

“Kalau begitu, apa sebenarnya pelajaran terbesar Karbala menurut Bapak?”

Saya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab dengan satu kalimat.

“Karbala mengajarkan banyak hal.”

“Misalnya?”

“Karbala mengajarkan tentang kebebasan.”

Dia tampak tertarik.

“Kebebasan?”

“Ya.”

“Kenapa kebebasan?”

“Karena pada malam Asyura Imam Husain membuka pintu bagi siapa saja yang ingin pergi.”

“Jadi kebebasan itu nyata, bukan simbolis.”

“Tepat.”

“Dan mereka tetap memilih bertahan.”

“Ya.”

“Saya baru menyadari betapa pentingnya bagian itu.”

“Banyak orang melewatinya.”

“Mengapa?”

“Karena orang sering lebih fokus pada tragedinya daripada maknanya.”

Dia mengangguk.

“Lalu apa lagi yang diajarkan Karbala?”

“Tanggung jawab.”

“Maksudnya?”

“Bahwa mengetahui kebenaran saja tidak cukup.”

“Lalu?”

“Kebenaran menuntut konsekuensi.”

Dia terdiam.

“Itu terdengar sederhana.”

“Karena memang sederhana.”

“Tetapi berat.”

“Sangat berat.”

Saya tersenyum.

“Masalah terbesar manusia sering kali bukan karena tidak mengetahui sesuatu yang benar.”

“Lalu?”

“Karena tidak bersedia membayar harga dari kebenaran yang sudah diketahuinya.”

Dia kembali mengangguk.

“Dan Karbala mengajarkan itu.”

“Menurut saya, ya.”

Kami terdiam beberapa saat.

Suasana sore kini benar-benar berubah menjadi malam.

Lampu-lampu kendaraan mulai mendominasi jalan.

Suara aktivitas siang perlahan berganti dengan ritme malam.

Saya menghabiskan sisa kopi yang tinggal sedikit.

Asisten saya juga menyelesaikan minumannya.

Percakapan itu tampaknya telah sampai pada titik di mana kata-kata tambahan tidak lagi diperlukan.

Bukan karena semuanya telah selesai dijawab.

Melainkan karena sebagian pertanyaan memang membutuhkan waktu untuk terus hidup di dalam pikiran.

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama.”

“Saya kira saya mendapatkan lebih dari sekadar jawaban.”

Saya tersenyum.

“Mungkin saya juga.”

Dia tertawa kecil.

“Jadi malam ini tema ceramahnya sudah ada?”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Kadang-kadang tema yang baik tidak dicari. Ia datang sendiri melalui sebuah pertanyaan.”

Dia mengangguk.

Kami pun berdiri meninggalkan meja.

Sebagaimana banyak sore sebelumnya, percakapan itu berakhir tanpa kesimpulan yang dipaksakan.

Tidak ada pernyataan bahwa semua persoalan telah selesai.

Tidak ada klaim bahwa seluruh misteri telah terpecahkan.

Sebab ada pertanyaan yang nilainya justru terletak pada kemampuannya untuk terus mengajak manusia berpikir.

Kami berjalan keluar dari coffee shop.

Udara malam terasa lebih sejuk dibanding beberapa jam sebelumnya.

Asisten saya mengambil motornya.

Seperti banyak sore yang lain, kami pulang bersama.

Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak berbicara lagi.

Barangkali karena percakapan itu masih terus berlangsung di dalam pikiran masing-masing.

Lampu-lampu jalan menyala.

Arus kendaraan bergerak perlahan.

Malam Muharram kembali datang dengan majelis-majelis duka, ceramah, doa, dan kisah Karbala yang akan terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Namun sore itu Karbala hadir dengan cara yang berbeda.

Bukan dari atas mimbar.

Bukan dari podium.

Bukan dari buku.

Melainkan dari sebuah percakapan sederhana setelah jogging, dari secangkir kopi, dan dari sebuah pertanyaan yang ternyata membuka pembahasan tentang pengetahuan, kebebasan, kausalitas, tanggung jawab, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Dan saya kira di situlah Karbala terus hidup.

Bukan hanya dalam air mata.

Bukan hanya dalam ratapan.

Bukan hanya dalam majelis-majelis duka.

Tetapi juga dalam pertanyaan-pertanyaan yang memaksa manusia merenungkan hakikat pengetahuan, kebebasan, tanggung jawab, keberanian, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Kami berjalan keluar dari coffee shop.

Udara malam terasa lebih sejuk dibanding beberapa jam sebelumnya. Lampu-lampu jalan mulai mendominasi pemandangan. Orang-orang bergegas pulang setelah menyelesaikan aktivitas mereka masing-masing.

Asisten saya mengambil motornya.

Seperti banyak sore yang lain, kami pulang bersama.

Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak berbicara lagi. Bukan karena kehabisan bahan pembicaraan, melainkan karena percakapan yang baru saja berlangsung masih terus bergerak di dalam pikiran kami masing-masing.

Motor melaju melewati jalan-jalan yang sudah akrab kami lewati hampir setiap hari. Memasuki gang-gang kecil, melewati deretan rumah, warung, dan toko-toko yang mulai bersiap menutup usahanya malam itu.

Di sebuah toko sayur yang masih buka, kami berhenti sebentar.

Saya turun dan membeli beberapa potong tempe dan tahu untuk kebutuhan malam itu dan esok pagi.

Aktivitas sederhana yang nyaris selalu luput dari cerita-cerita besar.

Padahal kehidupan justru lebih sering berlangsung di dalam hal-hal sederhana semacam itu.

Setelah beberapa menit, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Percakapan belum sepenuhnya hilang.

Kadang-kadang satu atau dua kalimat masih muncul di sela perjalanan.

Kadang kami kembali terdiam.

Kadang masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Namun suasana hening itu terasa nyaman.

Tidak semua kebersamaan membutuhkan percakapan yang terus-menerus.

Ada kebersamaan yang justru terasa akrab karena tidak menuntut kata-kata.

Tak lama kemudian kami tiba di kontrakan.

Rutinitas yang sama kembali mengambil tempatnya.

Kami bersiap menunaikan shalat sebagaimana biasanya.

Malam semakin turun.

Agenda berikutnya telah menunggu.

Saya harus bersiap menuju majelis taklim tempat ceramah Muharram akan dilaksanakan malam itu.

Ketika mengganti pakaian dan menyiapkan beberapa catatan yang mungkin diperlukan, saya kembali teringat percakapan yang baru saja berlangsung.

Awalnya hanya sebuah pertanyaan sederhana.

Pertanyaan yang muncul dari seorang asisten yang sedang mengingatkan jadwal ceramah.

Namun seperti banyak pertanyaan penting lainnya, ia ternyata membuka pintu menuju pembahasan yang jauh lebih dalam daripada yang tampak pada awalnya.

Tentang ilmu hakiki.

Tentang manusia dan Tuhan.

Tentang kausalitas.

Tentang kebebasan.

Tentang tanggung jawab.

Tentang syahadah.

Dan tentu saja tentang Karbala.

Malam Muharram kembali datang dengan majelis-majelis duka, ceramah, doa, dan kisah Karbala yang akan terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Namun sore itu Karbala hadir dengan cara yang berbeda.

Bukan dari atas mimbar.

Bukan dari podium.

Bukan dari buku.

Melainkan dari sebuah percakapan sederhana setelah jogging, dari secangkir kopi, dari perjalanan pulang melewati lorong-lorong yang akrab, dari singgah sebentar membeli tempe dan tahu, dan dari sebuah pertanyaan yang ternyata membuka pembahasan tentang pengetahuan, kebebasan, kausalitas, tanggung jawab, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Dan saya kira di situlah Karbala terus hidup.

Bukan hanya dalam air mata.

Bukan hanya dalam ratapan.

Bukan hanya dalam majelis-majelis duka.

Tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam percakapan-percakapan sederhana, dan dalam pertanyaan-pertanyaan yang memaksa manusia merenungkan hakikat pengetahuan, kebebasan, tanggung jawab, keberanian, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Dari perbincangan di atas dapat dipetik sejumlah hikmah sebagai berikut :

  • Kesucian tidak identik dengan mengetahui segala sesuatu. Mengetahui segala sesuatu secara mutlak dan tidak terbatas adalah sifat Allah semata.
  • Para nabi, para imam, dan para wali suci memiliki pengetahuan hakiki. Pengetahuan mereka bukan dugaan, bukan ilusi, bukan khayalan, dan bukan sekadar perkiraan. Pengetahuan mereka adalah pengetahuan yang sesuai dengan realitas.
  • Ilmu Allah dan ilmu para nabi, para imam, serta para wali suci sama-sama hakiki. Perbedaannya bukan pada ke-hakiki-annya, melainkan pada gradasinya.
  • Ilmu Allah adalah ilmu hakiki yang berdiri pada diri-Nya sendiri. Ia tidak diperoleh, tidak diajarkan, tidak bergantung kepada apa pun, tidak didahului oleh ketidaktahuan, dan tidak dibatasi oleh apa pun.
  • Pengetahuan para nabi, para imam, dan para wali suci juga hakiki, tetapi merupakan karunia Allah.
  • Perbedaannya bukan antara hakiki dan tidak hakiki, melainkan antara hakiki sebagai sebab dan hakiki sebagai akibat.
  • Allah mengetahui karena Dia adalah Wajib al-Wujud. Adapun para nabi, para imam, dan para wali suci mengetahui karena Allah menganugerahkan pengetahuan kepada mereka.
  • Apa yang Allah kehendaki untuk mereka ketahui, mereka ketahui. Apa yang tidak Allah kehendaki untuk mereka ketahui, mereka tidak ketahui.
  • Pengetahuan tentang masa depan bukan sesuatu yang mustahil bagi para manusia suci. Mereka dapat mengetahui sebagian peristiwa yang akan datang apabila Allah memberitahukannya.
  • Al-Qur’an menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui sebagian orang munafik yang berada di Madinah sampai Allah memberitahukan hakikat mereka. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan Nabi adalah pengetahuan yang dianugerahkan Allah.
  • Nabi memperlakukan manusia berdasarkan apa yang tampak secara lahiriah. Beliau tidak membelah dada manusia untuk melihat isi hati mereka.
  • Kehidupan para nabi, para imam, dan para wali suci tetap berlangsung dalam tatanan sebab dan akibat. Kesucian tidak menempatkan mereka di luar hukum kausalitas.
  • Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin jauh ia mampu memahami konsekuensi dari suatu keadaan. Karena itu para manusia suci memahami jaringan sebab dan akibat jauh lebih dalam daripada manusia biasa.
  • Mengetahui arah suatu peristiwa tidak sama dengan menjadikan peristiwa itu sebagai tujuan yang dicari.
  • Karbala bukan kisah tentang pencarian kematian. Karbala adalah kisah tentang kesetiaan kepada kebenaran.
  • Imam Husain tidak bergerak untuk mencari syahadah. Beliau bergerak karena tanggung jawab moral, spiritual, dan keagamaan yang diyakininya benar.
  • Sebelum tragedi Karbala terjadi, berbagai upaya telah dilakukan. Nasihat diberikan. Peringatan disampaikan. Dialog dilakukan. Jalan keluar ditawarkan. Peluang untuk menghindari pertumpahan darah terus dibuka.
  • Syahadah bukan sesuatu yang dicari demi dirinya sendiri.
  • Syahadah adalah anugerah.
  • Syahadah adalah kehormatan yang diberikan Allah kepada orang yang tetap setia kepada kebenaran ketika seluruh konsekuensinya harus ditanggung.
  • Syahadah juga merupakan konsekuensi. Ia hadir ketika seluruh sebab dan syarat yang mengantarkan kepadanya telah terwujud.
  • Syahadah bukan sebab yang menggerakkan perjalanan Imam Husain sejak awal. Syahadah adalah buah yang muncul pada ujung perjalanan itu.
  • Dalam Karbala, sebab-sebab yang mengantarkan kepada syahadah terwujud secara bertahap. Nasihat tidak didengar. Peringatan tidak dihiraukan. Dialog ditolak. Jalan keluar ditutup. Ancaman datang. Baiat dipaksakan. Pengepungan dilakukan. Akses air ditutup. Hingga akhirnya tidak tersisa jalan lain selain mempertahankan kebenaran dengan pengorbanan diri.
  • Ungkapan Imam Husain bahwa agama Muhammad tidak dapat tegak kecuali dengan terbunuhnya dirinya harus dipahami sebagai kesimpulan dari proses tersebut, bukan sebagai tujuan awal perjalanan.
  • Pada malam Asyura, Imam Husain tetap memberikan kebebasan kepada para sahabatnya untuk memilih jalan lain yang lebih aman.
  • Tidak ada paksaan untuk tetap tinggal bersama beliau.
  • Kesetiaan para sahabat memperoleh makna moral yang sangat tinggi justru karena lahir dari kebebasan memilih.
  • Mereka mengetahui risiko yang akan dihadapi, tetapi tetap memilih bersama Al-Husain.
  • Nilai pengorbanan hanya memiliki makna ketika pilihan masih tersedia. Jika tidak ada pilihan, yang ada hanyalah keterpaksaan.
  • Sebagaimana pengetahuan memiliki gradasi, demikian pula iman, keikhlasan, pengorbanan, kecintaan, dan kedekatan kepada Allah.
  • Tidak semua syahid berada pada derajat yang sama.
  • Setiap syahid memperoleh kedudukan sesuai kualitas iman, keikhlasan, pengorbanan, kesadaran, dan capaian rohaninya masing-masing.
  • Dalam pengertian simbolik, setiap syahid memperoleh trofinya masing-masing sesuai kualitas perjalanan yang telah ditempuhnya.
  • Dalam setiap mazhab dan tradisi keagamaan terdapat beragam pandangan, penafsiran, dan kecenderungan.
  • Mengikuti sebuah mazhab tidak berarti menerima seluruh pandangan yang pernah lahir di dalamnya tanpa pertimbangan.
  • Menghormati tradisi tidak berarti menghentikan pencarian intelektual.
  • Menghormati ulama tidak berarti menutup akal.
  • Setiap orang tetap bertanggung jawab terhadap keyakinannya sendiri dan terhadap pandangan yang dipilihnya.
  • Karena itu setiap keyakinan harus dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual, teologis, dan moral.
  • Sikap yang sehat adalah mencari penjelasan yang logis tanpa kehilangan sakralitasnya.
  • Kesakralan tidak harus dibangun dengan mengorbankan akal sehat.
  • Akal sehat tidak harus ditegakkan dengan menghilangkan dimensi spiritual dan metafisik agama.
  • Karbala mengajarkan hubungan yang erat antara pengetahuan dan tanggung jawab.
  • Mengetahui kebenaran bukanlah akhir dari perjalanan. Pengetahuan menuntut keberanian untuk bertindak sesuai dengan apa yang diketahui.
  • Masalah terbesar manusia sering kali bukan karena tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena tidak bersedia menanggung konsekuensi dari kebenaran yang telah diketahuinya.
  • Kemuliaan manusia tidak terletak pada banyaknya pengetahuan yang dimilikinya.
  • Kemuliaan manusia terletak pada kesediaannya untuk tetap setia kepada kebenaran yang diketahuinya, sekalipun kesetiaan itu menuntut pengorbanan yang besar.
  • Karena itu, Karbala bukan hanya tragedi sejarah yang dikenang dengan air mata.
  • Karbala adalah pelajaran besar tentang pengetahuan, kebebasan, tanggung jawab, keberanian moral, kesetiaan kepada kebenaran, dan hubungan manusia dengan Allah.
  • Selama manusia masih berhadapan dengan pilihan antara kenyamanan dan kebenaran, antara keselamatan diri dan kesetiaan kepada prinsip, Karbala akan terus hidup dan terus relevan untuk direnungkan.
Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT