Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

DUNIA MEMBUTUHKAN TRADISI DUKA

Oleh: Ustadz DR. Muhsin Labib, MA

Ada umat yang sangat akrab dengan peringatan kelahiran. Ada pula umat yang memelihara tradisi mengenang hari-hari duka, hari-hari kesyahidan, dan hari-hari ketika manusia-manusia besar mengakhiri hidupnya dengan pengorbanan.

Perbedaan itu bukan sekadar perbedaan kebiasaan. Perbedaan itu mencerminkan cara memandang agama, sejarah, dan kehidupan.

Kelahiran adalah awal perjalanan manusia. Namun, manusia tidak diukur oleh awalnya. Tidak seorang pun memilih kapan dan di mana ia dilahirkan. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana ia menjalani kehidupan dan bagaimana ia mengakhirinya. Dalam ajaran Islam, nilai suatu amal ditentukan oleh penutupnya. Karena itu, akhir kehidupan memiliki makna yang jauh lebih menentukan daripada awal kehidupan.

Bukan berarti kelahiran tidak penting. Namun, kelahiran bukanlah puncak perjalanan manusia. Puncaknya adalah ketika seluruh kehidupan mencapai akhirnya. Di sanalah tampak apakah seseorang tetap teguh, berkompromi, menyerah, atau mengorbankan dirinya demi kebenaran.

Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut hari kelahiran Nabi Muhammad. Sebaliknya, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa beliau akan wafat sebagaimana para rasul sebelumnya. Ketika berbicara tentang Nabi Isa, Al-Qur’an menyebut hari kelahiran, hari wafat, dan hari dibangkitkan kembali. Hari wafat bukanlah sesuatu yang diabaikan oleh wahyu.

Karena itu, sebuah tradisi keagamaan yang hampir seluruh ingatan kolektifnya dipenuhi oleh peringatan suka, sementara hari-hari duka nyaris tidak memperoleh tempat, menyisakan kekosongan yang besar. Kehidupan tidak hanya terdiri atas kegembiraan. Agama tidak hanya berbicara tentang kenyamanan. Sejarah para nabi, para wali, dan para pejuang tidak hanya berisi kemenangan, tetapi juga pengorbanan, penderitaan, penolakan, pengasingan, dan kesyahidan.

Tradisi yang hanya menghidupkan suasana suka mudah melahirkan umat yang terbiasa menikmati hasil, tetapi asing terhadap harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kebenaran. Umat menjadi akrab dengan perayaan, tetapi tidak akrab dengan pengorbanan. Terbiasa dengan ketenangan, tetapi tidak ditempa oleh perjuangan. Padahal agama tidak lahir di ruang yang steril dari konflik. Agama bertumbuh melalui perlawanan terhadap kebatilan, keteguhan menghadapi tekanan, dan kesediaan membayar harga demi mempertahankan prinsip.

Karena itulah tradisi duka bukan sekadar mengenang kematian. Tradisi duka adalah pendidikan peradaban. Ia mengingatkan bahwa kebenaran selalu memiliki harga, bahwa keadilan menuntut keberanian, dan bahwa kemuliaan sering kali lahir melalui pengorbanan. Tanpa ingatan seperti ini, agama mudah direduksi menjadi sekadar kumpulan perayaan yang menyenangkan, kehilangan daya juang, dan kehilangan kesadarannya sebagai jalan perjuangan.

Peradaban yang kehilangan tradisi duka perlahan kehilangan ingatan terhadap para pengorban. Ketika para pengorban dilupakan, perjuangan ikut memudar. Ketika perjuangan memudar, agama berisiko berubah menjadi sekadar ritual yang nyaman, bukan lagi kekuatan yang sanggup melahirkan manusia-manusia yang berdiri tegak membela kebenaran, apa pun harga yang harus dibayar.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT