Oleh Humaira Ahad
Di berbagai toko buku di sepanjang Jalan Enghelab, Teheran, karya-karya Imam Sayyid Ali Khamenei menempati rak-rak khusus yang selalu menarik perhatian. Deretan buku tafsir Al-Qur’an, sejarah Islam, etika, pemerintahan, Palestina, hingga memoar perjuangan tersusun berdampingan. Sekilas, buku-buku tersebut tampak berdiri sendiri, lahir dari kesempatan dan audiens yang berbeda. Namun, jika dibaca secara utuh, seluruh karya itu sesungguhnya membentuk satu bangunan pemikiran yang konsisten, yang disusun selama lebih dari lima puluh tahun perjalanan intelektual beliau.
Bagi banyak orang, Imam Khamenei dikenal sebagai Pemimpin Revolusi Islam Iran. Akan tetapi, jauh sebelum memikul amanah kepemimpinan negara, beliau telah dikenal sebagai seorang ulama, pemikir, penceramah, penerjemah, dan penulis yang aktif mengembangkan pemikiran Islam. Sebagian besar karya-karyanya bahkan lahir dari ceramah-ceramah di masjid, kajian Ramadan, diskusi mahasiswa, hingga pelajaran tafsir Al-Qur’an yang disampaikan sejak masa pemerintahan monarki Pahlavi.
Meskipun tema yang dibahas sangat beragam, seluruh karya tersebut memiliki benang merah yang sama: Islam adalah agama yang menyatukan iman, akhlak, sejarah, keadilan, dan tanggung jawab sosial dalam satu kesatuan yang utuh.
Islam sebagai Jalan Hidup yang Menyeluruh
Salah satu karya paling berpengaruh Imam Khamenei adalah The General Outline of Islamic Thought. Buku ini berasal dari rangkaian ceramah Ramadan yang beliau sampaikan di kota suci Mashhad pada tahun 1974, ketika Iran masih berada di bawah rezim Syah Mohammad Reza Pahlavi.
Berbeda dengan pendekatan yang hanya memandang Islam sebagai kumpulan hukum ibadah atau persoalan teologi, Imam Khamenei menjelaskan konsep-konsep mendasar Al-Qur’an seperti iman, tauhid, kenabian (nubuwwah), dan wilayah sebagai fondasi kehidupan manusia secara menyeluruh.
Dalam pandangan beliau, keimanan tidak berhenti pada hubungan pribadi seorang hamba dengan Allah Swt, tetapi juga harus tercermin dalam perjuangan menegakkan keadilan, membangun masyarakat, dan melawan kezaliman.
Melalui karya ini, Imam Khamenei menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan masyarakat.
Membaca Sejarah Sebagai Gerakan yang Berkesinambungan
Pandangan integral tersebut kemudian diterapkan dalam membaca sejarah Islam melalui karya monumental The 250-Year-Old Human.
Dalam buku ini, Imam Khamenei mengajukan gagasan yang sangat menarik. Beliau memandang bahwa dua belas Imam Ahlulbait as bukanlah tokoh-tokoh yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan bagian dari satu gerakan besar yang berlangsung selama kurang lebih 250 tahun.
Perbedaan sikap politik para Imam—mulai dari perjuangan bersenjata, pendidikan, dakwah, hingga kesabaran—bukanlah pertentangan, tetapi strategi yang berbeda sesuai dengan kondisi zamannya.
Dengan perspektif ini, sejarah Islam tidak lagi dipahami sebagai rangkaian peristiwa yang terpisah, melainkan sebagai perjalanan panjang untuk menjaga kemurnian risalah Nabi Muhammad Saw.
Cara pandang tersebut juga mengajarkan bahwa memahami sejarah berarti memahami arah perjuangan umat pada masa kini.
Dua Imam, Satu Misi
Pemikiran yang sama terlihat dalam karya Two Striving Imams dan buku Imam Hasan’s Peace Treaty: The Most Magnificent Heroic Flexibility in History.
Selama berabad-abad, sebagian kaum Muslimin memandang bahwa perdamaian Imam Hasan al-Mujtaba as dengan Muawiyah bertentangan dengan kebangkitan Imam Husain as di Karbala.
Imam Khamenei justru menunjukkan sebaliknya.
Menurut beliau, kedua Imam tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga Islam yang autentik. Yang berbeda hanyalah strategi yang ditempuh sesuai kondisi politik pada masanya.
Perdamaian Imam Hasan as bukanlah bentuk kelemahan, sebagaimana kebangkitan Imam Husain as bukan sekadar perlawanan bersenjata. Keduanya merupakan pilihan yang paling tepat untuk menjaga agama Allah pada situasi yang berbeda.
Dengan demikian, sejarah Ahlulbait mengajarkan bahwa hikmah, kesabaran, dan keberanian merupakan bagian dari satu misi yang utuh.
Karbala yang Tak Pernah Berakhir
Kecintaan Imam Khamenei terhadap sejarah Karbala juga terlihat dalam buku The Sun on the Battlefield.
Karya ini menghimpun puluhan tahun ceramah beliau mengenai Imam Husain as, tragedi Asyura, para sahabat beliau, hingga doa dan ziarah yang berkaitan dengan Karbala.
Dalam pandangan Imam Khamenei, Asyura ibarat samudra yang tidak pernah habis digali.
Semakin dipelajari, semakin banyak pelajaran moral, spiritual, sosial, dan politik yang dapat dipetik.
Karbala bukan hanya kisah sejarah.
Ia adalah sekolah kehidupan yang terus mengajarkan keberanian, pengorbanan, dan keteguhan membela kebenaran.
Imam Sajjad dan Revolusi yang Sunyi
Banyak orang mengenal Imam Ali Zainal Abidin as melalui karya agung beliau, Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah.
Namun Imam Khamenei mengajak pembaca melihat sisi lain kehidupan Imam Sajjad as.
Dalam buku The Epic of Imam Sajjad (AS), beliau menjelaskan bahwa setelah tragedi Karbala, Imam Sajjad as tidak hanya membimbing umat melalui doa, tetapi juga membangun kembali fondasi intelektual dan spiritual masyarakat Syiah.
Melalui pendidikan, pembinaan murid-murid, dan pelestarian ajaran Rasulullah Saw, Imam Sajjad as mempersiapkan kebangkitan generasi berikutnya.
Perjuangan beliau mungkin tidak berlangsung di medan perang, tetapi justru menjadi fondasi penting bagi kelangsungan dakwah Ahlulbait as.
Palestina sebagai Tanggung Jawab Kemanusiaan
Di antara tema kontemporer yang paling sering dibahas Imam Khamenei adalah Palestina.
Dalam buku Palestine: A Century of Conflict, beliau memandang persoalan Palestina bukan sekadar konflik geopolitik, tetapi masalah kemanusiaan dan keadilan universal.
Penjajahan, pengusiran, dan penindasan terhadap rakyat Palestina dipahami sebagai persoalan moral yang menjadi tanggung jawab seluruh manusia yang mencintai keadilan.
Karena itu, dukungan terhadap Palestina menurut Imam Khamenei bukan didasarkan pada sentimen politik semata, melainkan pada nilai-nilai Islam yang menolak segala bentuk kezaliman.
Menghidupkan Nahjul Balaghah dan Al-Qur’an
Kontribusi besar lainnya adalah upaya Imam Khamenei menghidupkan kembali ajaran Imam Ali as melalui berbagai syarah Nahjul Balaghah.
Beliau memandang kitab tersebut bukan hanya warisan sastra Islam, melainkan pedoman kepemimpinan, pemerintahan, dan etika sosial yang tetap relevan hingga hari ini.
Pandangan serupa juga tampak dalam serial tafsir Bayan al-Qur’an.
Melalui sepuluh jilid tafsir berbagai surah Al-Qur’an, Imam Khamenei berusaha menghadirkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang menjawab persoalan nyata masyarakat modern.
Bahasa yang digunakan sederhana, namun tetap mendalam, sehingga dapat dipahami oleh kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Akhlak Sebagai Fondasi Perubahan
Di samping sejarah dan politik, Imam Khamenei juga memberikan perhatian besar terhadap pembinaan akhlak.
Hal itu tercermin dalam serial Hadith of Life, yang disusun dari nasihat-nasihat akhlak beliau sebelum memulai setiap pelajaran.
Beliau menekankan bahwa ilmu tidak akan bermakna apabila tidak membentuk karakter.
Karena itu, pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang jujur, sabar, rendah hati, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.
Akhlak bukan pelengkap ilmu, melainkan tujuan utama dari seluruh proses pendidikan.
Dari Gagasan Menuju Peradaban
Jika seluruh karya Imam Khamenei dibaca secara kronologis, akan tampak sebuah proyek intelektual yang sangat utuh.
Beliau tidak hanya menulis tentang Al-Qur’an, sejarah, etika, pemerintahan, Palestina, atau Ahlulbait secara terpisah.
Seluruh tema tersebut saling terhubung dalam satu visi besar, yaitu membangun masyarakat Islam yang beriman, berkeadilan, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap nasib umat manusia.
Dalam pandangan beliau, agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sosial, sebagaimana spiritualitas tidak boleh dipisahkan dari perjuangan menegakkan keadilan.
Selama lebih dari lima dekade, Imam Sayyid Ali Khamenei telah meninggalkan warisan intelektual yang memperlihatkan konsistensi luar biasa. Dari ruang-ruang kajian di Mashhad hingga memimpin sebuah negara, beliau terus mengembangkan pemikiran Islam yang berpijak pada Al-Qur’an, sejarah Ahlulbait, dan kebutuhan zaman.
Warisan tersebut bukan sekadar kumpulan buku, melainkan sebuah peta jalan bagi umat Islam untuk memahami hubungan antara iman, ilmu, kepemimpinan, dan perjuangan. Di tengah berbagai tantangan dunia modern, karya-karya Imam Khamenei mengingatkan bahwa kebangkitan peradaban Islam tidak hanya membutuhkan kekuatan politik, tetapi juga fondasi pemikiran yang kokoh, akhlak yang mulia, dan kesetiaan kepada nilai-nilai wahyu. [PressTV]