Dari Lingkaran Nabi saw hingga Mazhab Ahlulbait
Sejarah Islam tidak pernah lepas dari perdebatan tentang kepemimpinan, otoritas keagamaan, dan arah perjalanan umat setelah wafat Rasulullah saw. Dalam pusaran sejarah itulah lahir berbagai mazhab dan aliran pemikiran, salah satunya adalah Syiah Imamiah—sebuah mazhab yang menempatkan Ahlulbait Nabi saw sebagai poros utama otoritas spiritual dan keilmuan Islam.
Namun pembahasan tentang asal-usul Syiah sering kali dipenuhi prasangka dan distorsi sejarah. Sebagian penulis, khususnya orientalis dan kalangan yang terpengaruh oleh mereka, berusaha menggambarkan Syiah sebagai fenomena politik yang lahir belakangan, bahkan mengaitkannya dengan tokoh misterius bernama Abdullah bin Saba. Klaim seperti ini tidak berdiri di atas bukti sejarah yang kokoh, melainkan lebih banyak dibangun di atas polemik politik dan konflik mazhab yang berkembang berabad-abad kemudian.
Padahal bila sumber-sumber sejarah klasik ditelaah secara jujur, akan tampak bahwa istilah “Syiah” telah dikenal sejak masa Rasulullah saw, dan digunakan untuk menyebut para pendukung Imam Ali bin Abi Thalib as. Dari titik inilah kemudian Syiah berkembang menjadi sebuah mazhab besar dengan fondasi teologis, intelektual, dan spiritual yang kuat.
Makna Syiah dalam Bahasa dan Al-Qur’an
Secara bahasa, kata Syiah berarti pengikut, pendukung, atau kelompok yang loyal kepada seseorang. Ibn Manzhur dalam Lisan al-‘Arab menjelaskan bahwa Syiah adalah kelompok manusia yang sepakat dalam suatu perkara dan mengikuti keyakinan tertentu. Az-Zajjaj mendefinisikannya sebagai para pengikut setia seseorang, sedangkan al-Azhari menyebut Syiah sebagai pengikut Ahlulbait Nabi saw.
(Muhammad bin Mukarram Ibn Manzhur, Lisan al-‘Arab, Beirut: Dar Shadr, jil. 8, hlm. 188–189).
Al-Qur’an sendiri menggunakan istilah ini dalam makna pengikut dan pendukung. Allah swt berfirman tentang Nabi Ibrahim as:
“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (syi‘atihi).”
(QS. ash-Shaffat: 83).
Ayat ini menunjukkan bahwa kata Syiah pada mulanya bukanlah nama mazhab, melainkan istilah umum yang berarti pengikut atau kelompok pendukung seseorang.
Syiah pada Masa Rasulullah saw
Perdebatan paling mendasar mengenai asal-usul Syiah adalah: apakah Syiah baru lahir setelah wafat Nabi saw, ataukah sudah ada sejak masa kenabian?
Sejumlah sumber sejarah klasik menunjukkan bahwa istilah Syiah telah digunakan pada masa Rasulullah saw sendiri. Abu Muhammad al-Hasan an-Nubakhti menulis:
“Kaum Syiah adalah kelompok Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai Syiah Ali pada masa Nabi saw dan sesudah beliau.”
(Al-Hasan an-Nubakhti, al-Firaq wa al-Maqalat, dikutip dalam Muhsin al-Amin, asy-Syiah bayn al-Haqq wa al-Awham, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1977, hlm. 41).
Abu Hatim as-Sajastani bahkan menyebut bahwa istilah Syiah pada masa Nabi saw dilekatkan kepada empat sahabat utama: Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin al-Aswad, dan Ammar bin Yasir.
(Ibid).
Riwayat-riwayat hadis juga memperkuat hal tersebut. Jabir bin Abdullah meriwayatkan:
“Kami pernah bersama Rasulullah saw, lalu datang Ali. Nabi berkata: ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia (Ali) dan Syiah-nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’”
(Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur, jil. 6, hlm. 379).
Riwayat lain menyebut bahwa ketika turun ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.”
(QS. al-Bayyinah: 7),
Rasulullah saw berkata kepada Imam Ali as:
“Mereka itu adalah engkau dan Syiah-mu. Kalian akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai.”
(Mukmin bin Hasan asy-Syablanji, Nur al-Abshar fi Manaqib Aali Bayt an-Nabi al-Mukhtar, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, hlm. 80; Ahmad bin Hajar al-Haitami, ash-Shawa‘iq al-Muhriqah, Kairo, 1965, hlm. 161).
Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa istilah Syiah bukanlah ciptaan politik abad berikutnya, melainkan telah hidup dalam lingkungan Nabi saw sendiri sebagai sebutan bagi para pengikut Imam Ali as.
Saqifah dan Awal Syiah Politik
Wafatnya Rasulullah saw menjadi titik balik sejarah Islam. Ketika sebagian sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa‘idah untuk menentukan khalifah, sebagian lain tetap berada di rumah Nabi saw bersama Imam Ali as, sibuk mengurus pemakaman Rasulullah saw.
Di Saqifah muncul dua pandangan besar. Kelompok pertama berpendapat bahwa kepemimpinan umat harus mengikuti petunjuk Nabi saw mengenai Imam Ali as. Kelompok kedua memandang kepemimpinan sebagai urusan politik yang dapat diputuskan melalui musyawarah.
Muhammad Baqir ash-Shadr menjelaskan bahwa sejak masa Nabi saw sudah ada dua kecenderungan pemikiran: pertama, kelompok yang berpegang teguh pada nash Al-Qur’an dan Sunah; kedua, kelompok yang membolehkan ijtihad politik meskipun ada teks yang jelas.
(Muhammad Baqir ash-Shadr, Bahts Hawl al-Wilayah, Beirut: Dar at-Ta‘aruf li al-Mathbu‘at, hlm. 78–79).
Kelompok pertama inilah yang kemudian dikenal sebagai Syiah Ali.
Al-Ya‘qubi meriwayatkan bahwa sejumlah sahabat menolak berbaiat kepada Abu Bakar dan tetap mendukung Imam Ali as. Mereka di antaranya al-Abbas, Fadhl bin al-Abbas, Salman al-Farisi, Abu Dzar, Ammar bin Yasir, Miqdad, dan Ubay bin Ka‘ab.
(Al-Ya‘qubi, Tarikh al-Ya‘qubi, jil. 2, hlm. 124).
Di rumah Sayidah Fatimah az-Zahra as bahkan berlangsung pertemuan-pertemuan politik untuk membahas persoalan kepemimpinan umat. Ibn Qutaibah meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab datang ke rumah Ali dan mengancam akan membakar rumah tersebut bila para pendukung Ali tidak keluar untuk berbaiat.
(Ibn Qutaibah ad-Dainuri, al-Imamah wa as-Siyasah, Muassasah al-Halabi, 1967, jil. 1, hlm. 19).
Meski demikian, Imam Ali as memilih menahan diri demi menjaga persatuan Islam yang baru berdiri. Dalam Nahjul Balaghah beliau berkata:
“Demi Allah, aku akan bersabar selama urusan kaum Muslim tetap terjaga.”
(Imam Ali bin Abi Thalib, Nahjul Balaghah, surat no. 74).
Syiah di Masa Imam Ali as
Ketika Imam Ali as akhirnya menjadi khalifah setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, konflik politik dalam dunia Islam telah mencapai puncaknya. Bani Umayyah di bawah Muawiyah menolak baiat kepada Imam Ali as dan memulai pemberontakan politik.
Dalam Perang Shiffin, mayoritas sahabat senior Rasulullah saw berada di pihak Imam Ali as. Al-Ya‘qubi mencatat bahwa pasukan Imam Ali diperkuat oleh tujuh puluh veteran Perang Badar, tujuh ratus peserta Baiat Ridwan, dan empat ratus Muhajir serta Anshar.
(Al-Ya‘qubi, Tarikh al-Ya‘qubi, jil. 2, hlm. 188).
Sementara itu, kekuatan Umayyah mulai membangun identitas politik tandingan yang juga disebut “Syiah Utsman” atau “Syiah Umayyah”. Muawiyah bahkan secara terbuka memerintahkan gubernurnya untuk mencela Imam Ali as dari mimbar-mimbar dan memuliakan para pendukung Utsman.
(Ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari, jil. 4, hlm. 188).
Pada masa inilah istilah Syiah semakin mengkristal menjadi identitas politik dan teologis yang merujuk kepada para pengikut Ahlulbait Nabi saw.
Karbala dan Identitas Syiah
Setelah wafat Imam Hasan as dan naiknya Yazid bin Muawiyah, sistem kekhalifahan berubah menjadi monarki turun-temurun. Imam Husain as menolak berbaiat kepada Yazid karena melihat pemerintahan tersebut telah menyimpang dari nilai-nilai Islam.
Kaum Syiah Kufah mengirim surat kepada Imam Husain as:
“Orang-orang menanti Anda. Mereka tidak memiliki imam selain Anda.”
(Al-Kamil fi at-Tarikh, Ibn al-Atsir, jil. 2, hlm. 533).
Perjalanan Imam Husain as menuju Irak berakhir di Karbala. Di sana beliau bersama keluarga dan sahabatnya gugur syahid pada 10 Muharram 61 H. Tragedi Karbala menjadi titik paling menentukan dalam pembentukan identitas Syiah.
Karbala bukan sekadar tragedi politik, melainkan simbol perjuangan abadi melawan tirani dan penyimpangan agama. Sejak saat itu, Syiah berkembang sebagai gerakan spiritual dan intelektual yang menjaga ajaran Islam melalui warisan Ahlulbait Nabi saw.
Mazhab Imamiah dan Dua Belas Imam
Pasca Karbala, para Imam Ahlulbait melanjutkan perjuangan dengan pendekatan keilmuan dan spiritual. Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad al-Baqir as, dan Imam Ja‘far ash-Shadiq as memainkan peran besar dalam membangun fondasi ilmiah mazhab Syiah.
Pada masa Imam Ja‘far ash-Shadiq as, ribuan murid belajar kepada beliau, termasuk tokoh-tokoh besar dunia Islam. Karena kontribusinya yang besar, Syiah Imamiah juga dikenal sebagai Mazhab Ja‘fari.
Syiah Imamiah meyakini kepemimpinan dua belas Imam dari keturunan Rasulullah saw melalui jalur Imam Ali as dan Sayidah Fatimah az-Zahra as. Mereka adalah penjaga kemurnian ajaran Islam setelah Nabi saw.
Penutup
Dari seluruh fakta sejarah tersebut tampak jelas bahwa Syiah bukanlah gerakan yang lahir dari pengaruh asing atau rekayasa politik belakangan. Syiah tumbuh dari kecintaan dan loyalitas kepada Ahlulbait Nabi saw yang telah ditegaskan sejak masa Rasulullah saw sendiri.
Dari Saqifah hingga Karbala, dari perjuangan Imam Ali as hingga pengajaran Imam Ja‘far ash-Shadiq as, Syiah Imamiah berkembang sebagai mazhab yang berusaha menjaga Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah Nabi saw melalui bimbingan Ahlulbait.
Karena itu, memahami asal-usul Syiah Imamiah berarti memahami salah satu arus besar sejarah Islam yang terus hidup hingga hari ini—sebuah arus yang dibangun di atas pengorbanan, ilmu, dan kesetiaan kepada keluarga Rasulullah saw.
Disarikan dari buku karya Hashim al-Musawi – Mazhab Syiah Asal-Usul Dan Keyakinannya