Tanggal 7 Zulhijjah menjadi hari duka bagi pecinta Ahlulbait as. Pada hari itu, Imam Muhammad al-Baqir as, Imam kelima dari keturunan Rasulullah saw, dikenang sebagai sosok agung yang mengorbankan hidupnya demi menjaga kemurnian Islam. Di tengah tekanan politik Dinasti Umayyah, beliau tidak mengangkat pedang, tetapi mengangkat ilmu, membangun kesadaran umat, dan melahirkan generasi ulama yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban Islam.
Imam al-Baqir as lahir di Madinah pada tahun 57 H. Beliau adalah putra Imam Ali Zainal Abidin as dan cucu Imam Husain as. Dari jalur ayah dan ibunya, beliau merupakan keturunan langsung Imam Hasan dan Imam Husain as. Masa kecil beliau menyaksikan tragedi Karbala. Walau masih belia, beliau melihat bagaimana kekuasaan menindas kebenaran, membunuh keluarga Nabi saw, dan mengubah wajah Islam menjadi alat legitimasi politik. (Lihat: Syekh al-Mufid, Al-Irsyad, jil. 2, hlm. 154; Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat al-Kubra, jil. 5, hlm. 320).
Pengalaman pahit itu membentuk karakter perjuangan Imam al-Baqir as. Beliau memahami bahwa kehancuran umat bukan hanya karena pedang tirani, tetapi juga karena kebodohan, distorsi agama, dan hilangnya pemahaman yang benar terhadap ajaran Rasulullah saw. Karena itu, perjuangan beliau berfokus pada pembangunan ilmu dan kesadaran.
Julukan “al-Baqir” berarti “orang yang membelah dan menyingkap ilmu.” Gelar ini bahkan disebut berasal dari Rasulullah saw sendiri. Dalam sebuah riwayat yang dikenal luas, Nabi saw bersabda kepada Jabir bin Abdullah al-Anshari bahwa ia akan bertemu seorang dari keturunannya bernama Muhammad bin Ali yang “membelah ilmu agama secara mendalam.” (Lihat: Muhammad bin Yusuf al-Ganji asy-Syafi’i, Kifayah ath-Thalib, hlm. 280; al-Kulaini, Al-Kafi, jil. 1, hlm. 469).
Pada masa Imam al-Baqir as, Dinasti Umayyah sedang mengalami konflik internal. Situasi ini memberi ruang bagi beliau untuk menyebarkan ilmu secara lebih luas. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk membangun madrasah intelektual Ahlulbait as di Madinah. Dari majelis beliau lahir para ulama besar dan perawi hadis yang kemudian menjadi rujukan umat Islam.
Banyak orang mengira perjuangan hanya berarti perang fisik. Padahal Imam al-Baqir as menunjukkan bahwa menjaga ilmu agama di tengah rezim zalim juga merupakan pengorbanan besar. Beliau menghadapi tekanan politik, pengawasan ketat, intimidasi penguasa, bahkan ancaman pembunuhan. Namun beliau tetap mendidik umat, meluruskan penyimpangan, dan menjaga warisan Nabi saw. (Lihat: Baqir Syarif al-Qurasyi, Hayat al-Imam Muhammad al-Baqir, jil. 1, hlm. 61–75).
Kontribusi beliau terhadap ilmu Islam sangat luas. Dalam bidang tafsir, fikih, akhlak, tauhid, hingga pembahasan sosial, ucapan-ucapan Imam al-Baqir as menjadi sumber penting dalam khazanah Islam. Banyak riwayat dari beliau tercatat bukan hanya dalam literatur Syiah, tetapi juga dalam kitab-kitab Sunni. (Lihat: adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, jil. 4, hlm. 401; al-Kulaini, Al-Kafi, jil. 1).
Kesaksian para ulama dan sejarawan Islam tentang keagungan Imam al-Baqir as sangatlah banyak.
Sejarawan Sunni terkenal, Ibnu Hajar al-Asqalani, menyebut Imam al-Baqir as sebagai sosok yang memiliki keluasan ilmu, kefasihan, dan kedalaman hikmah yang luar biasa. Ia menulis bahwa banyak pengetahuan tersembunyi tersingkap melalui Imam al-Baqir as. (Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, Ash-Shawa’iq al-Muhriqah, hlm. 201).
Ulama Sunni lainnya, Ibnu Katsir, menggambarkan beliau sebagai seorang yang mulia, berilmu, banyak beramal, dan memiliki kedudukan tinggi di kalangan umat Islam. (Lihat: Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, jil. 9, hlm. 338).
Sejarawan besar Sunni, adz-Dzahabi, juga memuji Imam al-Baqir as sebagai salah satu imam besar yang memiliki kemuliaan, kewibawaan, ilmu, dan amal saleh. (Lihat: adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, jil. 4, hlm. 401–404).
Sementara itu, Malik bin Anas pernah menyatakan bahwa beliau melihat Imam al-Baqir as sebagai sosok yang selalu berdzikir kepada Allah dan termasuk ahli ibadah yang agung. (Lihat: Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, jil. 9, hlm. 350).
Syekh al-Mufid menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun dari keturunan Imam Hasan dan Husain as pada masanya yang mampu menandingi keluasan ilmu Imam al-Baqir as. Murid-murid beliau datang dari berbagai kota untuk menimba pengetahuan. (Lihat: Syekh al-Mufid, Al-Irsyad, jil. 2, hlm. 179).
Perjuangan Imam al-Baqir as sesungguhnya adalah penyelamatan Islam dari kehancuran intelektual. Ketika penguasa sibuk menjadikan agama sebagai alat kekuasaan, beliau justru mengembalikan agama kepada nilai aslinya: keadilan, ilmu, dan ketakwaan.
Karena itulah, kesyahidan beliau bukan sekadar wafatnya seorang alim, melainkan kehilangan cahaya ilmu yang menerangi umat. Menurut banyak riwayat, Imam al-Baqir as wafat akibat diracun atas perintah penguasa Umayyah. Pengorbanan beliau menjadi bukti bahwa jalan Ahlulbait as selalu dipenuhi perjuangan dan pengorbanan demi menjaga Islam tetap hidup. (Lihat: ath-Thabarsi, I’lam al-Wara, jil. 2, hlm. 128; al-Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jil. 3, hlm. 220).
Hari kesyahidan Imam al-Baqir as mengajarkan bahwa mempertahankan kebenaran tidak selalu dilakukan di medan perang. Kadang perjuangan terbesar adalah menjaga ilmu tetap hidup di tengah zaman yang dipenuhi propaganda, kebohongan, dan penyimpangan.
Di era modern, ketika informasi begitu mudah dimanipulasi dan agama sering diperalat untuk kepentingan politik, warisan Imam al-Baqir as menjadi semakin relevan. Beliau mengajarkan bahwa umat yang kuat adalah umat yang berilmu, kritis, dan memiliki hubungan yang kokoh dengan nilai-nilai ilahiah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang meneladani perjuangan Imam Muhammad al-Baqir as: memperjuangkan kebenaran dengan ilmu, menjaga akhlak di tengah kerusakan zaman, dan tetap istiqamah membela Islam meski harus menghadapi tekanan dan pengorbanan.