Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kelahiran Imam al-Mahdi: Kesaksian Historis, Riwayat Para Saksi, dan Signifikansi Imamah

Kelahiran Imam al-Mahdi as merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam, sekaligus yang paling dirahasiakan. Ia bukan sekadar kelahiran seorang anak, melainkan hadirnya hujjah terakhir Allah di muka bumi—pemimpin ilahi yang dijanjikan akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman dan penindasan. Karena posisi strategisnya dalam proyek keadilan Ilahi, kelahiran Imam Mahdi as terjadi dalam kondisi tekanan politik yang luar biasa, sehingga penyampaiannya kepada umat berlangsung melalui jalur riwayat yang ketat dan saksi-saksi yang terpercaya.

Waktu, Tempat, dan Nasab Kelahiran

Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi as dilahirkan di kota Samarra, Irak, menjelang terbit fajar subuh, pada hari Jumat, 15 Sya‘ban 255 Hijriah. Beliau lahir di rumah ayahandanya, Imam Hasan al-Askari as, dari seorang ibu yang mulia bernama Narjis binti Yasyu‘a bin Qaishar, yang nasabnya bersambung kepada Syam‘un ash-Shafa, wasi Nabi Isa al-Masih as, melalui jalur para hawariyyun. (Mutsir al-Ahzan, hlm. 296; Kasyf al-Ghummah, juz 3, hlm. 310; Yaum al-Khalas, hlm. 86)

Narjis dikenal dengan berbagai nama—di antaranya Malikah, Susan, Rayhanah, Maryam, Shaqil, dan Sabikah—yang menunjukkan kondisi sosial-politik yang menuntut penyamaran identitas demi melindungi kelahiran hujjah Allah dari pengawasan penguasa Abbasiyah. (I‘lam an-Nasib, hlm. 10; Yaum al-Khalas, hlm. 86)

Sebagaimana seluruh imam dari Ahlulbait as, Imam Mahdi as dilahirkan dalam keadaan suci dan telah terkhitan. Tidak tampak tanda nifas pada ibundanya, sebuah keistimewaan yang juga diriwayatkan dalam kelahiran para imam sebelumnya.

Kesaksian Sayidah Hakimah binti Muhammad al-Jawad

Kesaksian paling rinci mengenai peristiwa kelahiran Imam Mahdi as datang dari Sayidah Hakimah binti Muhammad al-Jawad, bibi Imam Hasan al-Askari as. Atas permintaan langsung Imam Hasan, beliau diminta menemani Narjis pada malam kelahiran tersebut. (Bihar al-Anwar, juz 51, hlm. 2–14; Yanabi‘ al-Mawaddah, juz 3, hlm. 113)

Sayidah Hakimah menuturkan bahwa tidak terlihat tanda-tanda kehamilan pada Narjis hingga menjelang fajar. Namun Imam Hasan al-Askari as menegaskan bahwa kehamilan ini menyerupai kehamilan ibu Nabi Musa as, yang disembunyikan hingga saat kelahiran tiba. Pada pertengahan malam, setelah membaca surah as-Sajdah dan Yasin, Narjis tiba-tiba merasakan getaran hebat dan bayi suci itu pun lahir. (Yaum al-Khalas, hlm. 92–94)

Saat dilahirkan, Imam Mahdi as berada dalam keadaan bersujud, mengangkat jari telunjuk ke langit. Beliau bersin dan mengucapkan pujian kepada Allah serta salawat kepada Rasulullah saw dan keluarganya. Pada lengan kanannya tampak tulisan bercahaya: “Telah datang kebenaran dan sirnalah kebatilan.” (Kasyf al-Ghummah, juz 3, hlm. 288–290)

Imam Hasan al-Askari as kemudian mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri bayi tersebut, mengusap wajah dan anggota tubuhnya, lalu memerintahkannya berbicara. Bayi itu pun mengucapkan syahadat dan bersalawat kepada Nabi serta para imam hingga ayahnya. (Muntakhab al-Atsar, hlm. 374–375; al-Ghaybah (ath-Thusi), hlm. 142)

Penggaiban Sejak Hari-Hari Awal

Sejak hari-hari pertama kelahirannya, Imam Mahdi as berada dalam penjagaan khusus Allah. Imam Hasan al-Askari as menegaskan bahwa putranya telah “dititipkan kepada Allah”, sebagaimana Nabi Musa as dahulu dititipkan kepada-Nya. Karena itu, kehadirannya tidak selalu tampak secara kasatmata. (al-Ghaybah (ath-Thusi), hlm. 142–143; Yaum al-Khalas, hlm. 93)

Imam Hasan juga berwasiat kepada Sayidah Hakimah agar kelahiran ini dirahasiakan dan hanya disampaikan kepada orang-orang terpercaya, sebab Allah sendiri akan menggaibkan Imam Mahdi dari pandangan manusia hingga tiba waktu yang ditetapkan.
Rujukan: (Kasyf al-Ghummah, juz 3, hlm. 290)

Kesaksian Ahmad bin Ishaq

Ahmad bin Ishaq al-Asy‘ari meriwayatkan bahwa Imam Hasan al-Askari as mengirim surat kepadanya yang mengabarkan kelahiran seorang putra dan memintanya merahasiakan kabar tersebut. Dalam pertemuannya di Samarra, Imam Hasan bahkan memperlihatkan langsung putranya kepada Ahmad bin Ishaq. (Bisyarat al-Islam, hlm. 167–168; Yaum al-Khalas, hlm. 102)

Anak itu—yang wajahnya laksana bulan purnama—berbicara dengan bahasa Arab yang fasih dan menyatakan dirinya sebagai Baqiyyatullah di bumi, hujjah Allah bagi seluruh makhluk.(Yanabi‘ al-Mawaddah, juz 3, hlm. 120)

Kesaksian Para Wakil dan Sahabat

Abu Amr al-Amri, wakil pertama Imam Mahdi as, meriwayatkan bahwa Imam Hasan al-Askari as memerintahkan penyembelihan hewan akikah dalam jumlah besar dan pembagian daging kepada Bani Hasyim serta para pengikut Ahlulbait sebagai tanda kelahiran Imam Mahdi. (Bihar al-Anwar, juz 51, hlm. 5 dan 22)

Kamil bin Ibrahim al-Madani meriwayatkan dialog langsung dengan Imam Mahdi kecil mengenai kesesatan paham tafwidh dan hakikat kehendak Ilahi. Dalam dialog itu Imam Mahdi menegaskan bahwa para imam adalah bejana kehendak Allah, bukan pencipta atau pemberi rezeki secara independen.
Rujukan: al-Mahajjat al-Baidha’, hlm. 346; Yanabi‘ al-Mawaddah, juz 3, hlm. 123.

Kesaksian serupa datang dari Isa bin Mahdi al-Jawahiri, az-Zuhri, Ali bin Ibrahim al-Azdi, Muhammad bin Ismail bin Musa, Ibrahim bin Idris, hingga rombongan dari Qum. Mereka menyaksikan Imam Mahdi sebelum masa kegaiban, baik dalam bentuk perjumpaan langsung maupun kepemimpinan beliau dalam salat jenazah Imam Hasan al-Askari as.
(al-Kafi, jil. 1, hlm. 330–331; al-Irsyad, hlm. 329–330; Yaum al-Khalas, hlm. 103–111)

Imamah dan Kepemimpinan Ilahi

Banyaknya saksi mata dan konsistensi riwayat tentang kelahiran Imam Mahdi as menunjukkan bahwa polemik seputar kelahirannya bukanlah persoalan ilmiah, melainkan akibat ketidaktahuan atau kepentingan ideologis. Sejarah membuktikan bahwa bumi tidak pernah kosong dari hujjah Allah, dan imamah tidak pernah diserahkan kepada musyawarah manusia semata. (I‘lam al-Wara’, hlm. 395; Yanabi‘ al-Mawaddah, juz 3, hlm. 124)

Tanpa kepemimpinan ilahi, manusia akan terjebak dalam ambisi, perebutan kekuasaan, dan kekacauan nilai. Karena itu, kelahiran Imam Mahdi as adalah jaminan keberlangsungan hidayah Ilahi bagi umat manusia hingga hari kiamat.

Penutup

Kelahiran Imam al-Mahdi as merupakan kebenaran historis yang ditopang oleh puluhan saksi, ratusan riwayat, dan literatur klasik Syiah yang otoritatif. Menafikan kelahirannya berarti menafikan sistem imamah yang telah ditegakkan Rasulullah saw. Sementara menanti kemunculannya dengan kesadaran, kesiapan moral, dan komitmen terhadap keadilan adalah tugas ideologis setiap pecinta Ahlulbait as.


Disarikan dari buku karya Sayid Husain Mazahiri – Imam Mahdi Figur Keadilan

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.