Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Melempar Jumrah: Refleksi Spiritualitas dan Perlindungan dari Godaan Setan

Dalam tradisi Islam, melontar jumrah adalah salah satu ritus yang dilakukan selama ibadah haji. Namun, melontar jumrah bukanlah sekadar melempar batu. Ia mengandung makna spiritual yang lebih dalam, yaitu simbol perlawanan terhadap godaan setan dan pencarian perlindungan kepada Allah SWT. Ayatullah Jawadi Amuli dalam bukunya Makna Haji memberikan pandangan mendalam tentang pentingnya mencari perlindungan dari setan dan memahami makna sejati dari melontar jumrah.

Manusia dan Serangan Setan

Manusia selalu menjadi sasaran empuk bagi serangan dan bisikan jahat setan. Setan menggunakan hawa nafsu sebagai alat untuk menyesatkan kita. Allah SWT telah memperingatkan bahwa setan akan mendatangi kita dari berbagai penjuru, setiap saat. Oleh karena itu, kita harus selalu berlindung kepada Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Dan jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. Al-A’raf: 200)

Godaan setan tidak hanya datang saat kita dalam keadaan lemah, tetapi juga saat kita berusaha mendekatkan diri kepada Allah, misalnya ketika hendak berdoa. Setan akan mencari berbagai jalan untuk menyerang dan menyesatkan kita. Saat kita merasakan serangan tersebut, penting untuk segera mencari perlindungan kepada Allah.

Perlindungan yang Sejati

Mengucapkan “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk” adalah langkah awal yang penting. Namun, sekadar ucapan tidak cukup. Memohon perlindungan dengan kata-kata, meskipun merupakan ibadah, tidak akan membawa hasil tanpa diiringi dengan tindakan nyata. Ketika merasakan datangnya bahaya, kita harus segera mencari tempat perlindungan yang aman dan kuat.

Bayangkan jika seseorang melihat bahaya datang dan hanya berdiri seraya berkata, “Aku berlindung kepada Allah.” Bahaya tersebut tetap akan menimpanya. Oleh karena itu, lebih baik jika mendengar datangnya bahaya, seseorang segera berlari mencari perlindungan yang aman. Ini menunjukkan bahwa tindakan nyata diperlukan selain doa.

Setiap kali kita menemukan adanya kecenderungan dan khayalan untuk melakukan dosa, itu adalah bahaya besar yang memerlukan tindakan segera. Kita mungkin merasa lemah dan tak berdaya, sehingga perlindungan yang kuat dan tak memiliki kelemahan sangat diperlukan. Perlindungan tersebut hanya bisa didapatkan dari Allah. Tidak ada tempat berlindung bagi manusia selain kepada-Nya:

“Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain Dia.” (QS. Al-Kahfi: 27)

Makna Melontar Jumrah

Melontar jumrah dalam ibadah haji adalah tindakan simbolis yang mengingatkan kita akan perlindungan Allah dari setan. Di zaman jahiliah, melontar jumrah juga dilakukan, tetapi tanpa memahami makna spiritualnya. Sampai sekarang, setan manusia juga melakukan hal yang sama, melempar batu tanpa makna sejati. Jelas sekali, setan tidak akan terusir dengan tujuh lemparan batu semata. Hanya dengan memohon perlindungan kepada Allah, kita dapat mengusir setan.

Allah berfirman, apabila kita menjadikan-Nya sebagai tempat perlindungan, maka Dia akan melindungi kita. Benar, Allah adalah tempat perlindungan tertinggi. Ketika kita selesai melakukan amal ibadah haji di Mina dan merasakan bahwa ketakwaan amal ini telah sampai kepada Allah, serta diri telah mencapai tingkat yang tinggi, kita harus memeriksa hasil-hasil perbuatan kita. Ini adalah momen refleksi yang mendalam untuk menilai sejauh mana ibadah kita membawa perubahan dalam hidup kita.

Ayatullah Jawadi Amuli melalui pandangannya mengajak kita untuk memahami makna sejati dari melontar jumrah. Melontar jumrah bukan hanya sekadar ritual melempar batu, tetapi simbol perlawanan terhadap godaan setan dan pencarian perlindungan sejati kepada Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu waspada terhadap serangan setan dan berusaha mencari perlindungan kepada Allah melalui doa dan tindakan nyata.

Melalui refleksi mendalam ini, kita diingatkan bahwa perlindungan sejati hanya bisa didapatkan dari Allah. Kita diajak untuk memperkuat iman dan ketakwaan, serta selalu mencari perlindungan kepada-Nya dalam menghadapi berbagai godaan dan bahaya yang datang. Hanya dengan cara ini, kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berada di bawah perlindungan Allah SWT.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT