Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Menyambut Muharam: Nasihat Ayatullah Bahjat untuk Menyiapkan Hati Bersama Imam Husain as

Setiap tahun Muharam datang membawa suasana yang berbeda, majelis-majelis Husaini kembali digelar, dan jutaan hati bersiap mengenang tragedi Karbala. Namun di balik seluruh syiar dan tradisi tersebut, terdapat sebuah pertanyaan penting: bagaimana seharusnya seorang mukmin mempersiapkan diri menyambut Muharam?

Ayatullah Muhammad Taqi Bahjat ra, seorang ulama arif yang dikenal karena kedalaman spiritualnya, memberikan jawaban yang sederhana sekaligus mendalam. Dalam berbagai nasihatnya, beliau mengingatkan bahwa Muharam bukan sekadar musim berkabung, melainkan kesempatan untuk mendekat kepada Allah melalui pintu Imam Husain as.

Menurut Ayatullah Bahjat, banyak orang menghadiri majelis Imam Husain as, meneteskan air mata, dan mengenang peristiwa Karbala setiap tahun. Namun keberhasilan Muharam tidak diukur dari banyaknya majelis yang dihadiri atau derasnya air mata yang mengalir. Yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi dalam diri seseorang setelah berjumpa dengan pesan Karbala. Jika Muharam mampu membuat seseorang lebih dekat kepada Allah, lebih taat, dan lebih berhati-hati terhadap dosa, maka ia telah memperoleh bagian dari berkah Imam Husain as.
(Dar Mahzar Bahjat, jilid 1)

Karena itu, persiapan pertama yang perlu dilakukan sebelum Muharam adalah muhasabah atau introspeksi diri. Ayatullah Bahjat sering mengingatkan bahwa manusia lebih mengetahui kekurangan dirinya dibanding orang lain. Menjelang Muharam, setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: dosa apa yang masih belum ditinggalkan, hak siapa yang belum ditunaikan, dan kewajiban apa yang masih sering diabaikan. Karbala bukan hanya kisah tentang pengorbanan para syuhada, tetapi juga panggilan untuk memperbaiki diri. Muharam menjadi saat yang tepat untuk membuka lembaran baru melalui taubat dan tekad yang lebih kuat dalam menjalankan perintah Allah.
(Nasihat-ha-ye Amali)

Di antara seluruh nasihat Ayatullah Bahjat, ada satu perkara yang berulang kali beliau tekankan, yaitu menjaga salat tepat waktu. Beliau memandang salat sebagai kunci utama perjalanan spiritual seorang mukmin. Tidak mengherankan jika peristiwa salat Zuhur Asyura selalu menjadi salah satu pelajaran terbesar dari Karbala. Di tengah kepungan musuh dan hujan panah, Imam Husain as tetap mendirikan salat. Peristiwa itu menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah tidak boleh dikalahkan oleh keadaan apa pun.

Karena itu, Muharam seharusnya tidak hanya membuat seseorang lebih rajin menghadiri majelis, tetapi juga lebih disiplin menjaga salatnya. Tidaklah cukup menangisi Imam Husain as jika pesan yang beliau pertahankan hingga akhir hayat justru diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
(Faryadgar Tawhid)

Ayatullah Bahjat juga memiliki pandangan yang sangat indah tentang air mata untuk Imam Husain as. Beliau meyakini bahwa tangisan yang tulus memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati dan menarik rahmat Allah. Akan tetapi, beliau mengingatkan bahwa nilai air mata tidak terletak pada tangisan itu sendiri. Air mata yang sejati adalah air mata yang melahirkan perubahan.

Seseorang mungkin menangis saat mendengar kisah Ali Akbar as yang gugur di hadapan ayahnya, atau saat mengenang kesyahidan Abbas as di tepi Efrat. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah majelis itu berakhir? Jika air mata tersebut membuat seseorang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih taat kepada Allah, maka ia telah memahami pesan yang terkandung dalam tangisan Husaini.
(Guftarhaye Bargozideh)

Dalam nasihat lainnya, Ayatullah Bahjat menegaskan pentingnya menjaga keikhlasan dalam seluruh aktivitas Muharam. Beliau sangat menghormati majelis Imam Husain as dan memandangnya sebagai salah satu karunia terbesar bagi umat Islam. Namun beliau juga mengingatkan agar syiar Husaini tidak dicampuri oleh riya, persaingan, atau kepentingan duniawi.

Majelis yang sederhana tetapi ikhlas jauh lebih bernilai daripada kegiatan besar yang kehilangan ruh penghambaan kepada Allah. Karena itu, baik panitia, pembicara, pelantun ratapan, maupun peserta majelis hendaknya selalu memperbarui niat mereka. Tujuan utama dari seluruh kegiatan Muharam adalah menghidupkan pesan Karbala dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan mencari pujian manusia.
(Dar Mahzar Bahjat, jilid 2)

Pada akhirnya, Ayatullah Bahjat mengajarkan bahwa kecintaan kepada Imam Husain as harus tampak dalam kehidupan sehari-hari. Karbala bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun, melainkan madrasah yang mendidik manusia sepanjang zaman. Muharam yang sejati adalah Muharam yang melahirkan manusia yang lebih baik: lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih teguh membela kebenaran.

Karena itu, menjelang datangnya Muharam, persiapan terbaik bukan hanya menghias majelis atau mengenakan pakaian duka. Persiapan terbaik adalah membersihkan hati, memperbaiki salat, memperbanyak taubat, dan menata niat agar seluruh langkah kita berada di jalan yang diridhai Allah. Dengan cara itulah, Muharam tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali semangat Imam Husain as dalam diri kita.

Sumber utama: Dar Mahzar Bahjat, Faryadgar Tawhid, Nasihat-ha-ye Amali, dan Guftarhaye Bargozideh karya Ayatullah Muhammad Taqi Bahjat ra.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT