Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Peran Puasa Dalam Tazkiyah Nafs (6)

Diriwayatkan bahwa Imam Jakfar al-Shadiq as berkata; “Bagi orang yang berpuasa terdapat dua gembira; gembira ketika berbuka, dan gembira ketika berjumpa Allah.”[1] Dalam  riwayat lain disebutkan bahwa dia berkata; “Bagi orang yang berpuasa terdapat dua gembira; gembira ketika berbuka, dan gembira ketika bertemu dengan Tuhannya.”[2]

Dalam Doa Sahar disebutkan;

اللَّهُمَّ إِنِّی أَسْأَلُکَ مِنْ جَمَالِکَ بِأَجْمَلِهِ وَ کُلُّ جَمَالِکَ جَمِیلٌ.

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu dengan keindahanMu yang terindah, dan setiap keindahanMu sangatlah indah.”[3]

Dalam Kisah Qais (Majnun) dan Laila telah dilukiskan dengan sangat indah bagaimana manusia tidak seharusnya menambatkan hatinya kepada makhluk yang rentan dan mudah mati. Dikisahkan bahwa ketika akan menghembus nafas terakhirnya karena sakit, Laila berpesan kepada ibunya untuk disampaikan kepada Majnun; “Jika kamu hendak mencintai seseorang maka janganlah menyintai orang yang karena demam saja dia binasa.”

Pesan ini mengatakan betapa naifnya manusia ketika alih-alih menyintai Sang Maha Kuasa malah menyintai dirinya dan menyintai segala sesuatu yang mudah berubah dan binasa. Segala sesuatu selainNya hanyalah kebinasaan dan ketiadaan sehingga tidak mungkin dapat memberikan kebahagiaan yang diidam-idamkan siang dan malam.

Doa Sahar mengajak manusia supaya di waktu sahur bulan suci Ramadhan hendaknya memohon untuk mendapatkan keindahan yang mutlak. Betapa agungnya kedudukan manusia apabila dia khusyuk berdoa seperti yang disebutkan dalam Doa Sahar;

اللَّهُمَّ إِنِّی أَسْأَلُکَ مِنْ نُورِکَ بِأَنْوَرِهِ وَ کُلُّ نُورِکَ نَیِّرٌ .

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cahayaMu dengan cahaya-cahayanya, dan setiap cahayaMu adalah terang benderang.”

Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang berpuasa memang layak memohon demikian, atau berdoa;

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُکَ مِنْ جَلالِکَ بِاَجَلِّهِ وَکُلُّ جَلالِکَ جَلیلٌ.

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu keagunganMu dengan yang teragungnya, dan setiap keagunganMu adalah sangatlah agung.”[4]

Kalimat-kalimat mutiara dalam Doa Sahar ini tidak lagi berbicara buah-buahan, “anak-anak muda yang tetap muda” (wildan al-mukhalladun), atau sungai-sungai yang mengalir, melainkan tentang kesempurnaan-kesempurnaan maknawi, dan bahwa kedudukan yang sedemikian agung ini memang tersedia bagi manusia. Seandainya manusia biasa seperti kita tidak berpotensi untuk meraih kedudukan ini tentu tidak akan ada anjuran bagi kita untuk membaca doa demikian.

Nilai Manusia

Al-Kulaini meriwayat bahwa Imam Musa al-Kadhim as berkata; “Sesungguhnya ragamu tak dapat dinilai kecuali dengan surga maka janganlah menjualnya dengan selainnya.”[5]

Muhaqqiq Damad berkomentar bahwa riwayat ini mengacu pada hakikat ruhani yang melampaui surga. Ruh harus mencapai “jannat al-liqa’” , yaitu surga berupa perjumpaan dengan Yang Maha Kuasa. Ruh harus berada “di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.”[6] Ruh harus ditempa dengan puasa untuk meniti jalan menuju kedudukan “inda Allahi” (keberadaan di sisi Allah).[7]

Hakikat puasa akan menampak dalam bentuk perjumpaan dengan Allah, dan bagi manusia tak ada kepentingan yang lebih besar daripada perjumpaan denganNya, sebab manusia adalah wujud yang abadi dan tidak akan musnah. Manusia mati hanya untuk pindah dari alam sementara kepada alam keabadian. Jika manusia dapat mencapai hakikat puasa maka hasilnya adalah keterhubungan denganNya, tanpa ada derita kejenuhan atas keabadian. Derita ini bahkan tak berlaku lagi saat itu, termasuk ketika manusia menikmati surga ragawi. Saat itu tidak ada lagi rasa takut, kuatir, kesepian, haus dan lapar seperti yang dialami manusia di dunia. Alam surgawi sepenuhnya berbeda dengan alam dunia.

(Bersambung)

 

[1] Al-Wasa’il, jilid 10, hal. 403.

[2] Raudhat al-Muttaqin, jilid 3. Hal. 226, dan Wasa’il, jilid 10, hal. 400.

[3] Mafatih al-Jinan, Doa Sahar.

[4] Ibid.

[5] Al-Kafi, juz 1, hal. 19, hadis 12.

[6] QS. Al-Qamar [54]: 55.

[7] Ta’liqeh e Mirdamad bar Ushul Kafi, hal. 38.

No comments

LEAVE A COMMENT