Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Puasa dalam Perspektif Imam Khomeini

Dalam pandangan Imam Khomeini, puasa bukanlah ritual formal yang berhenti pada lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ilahiah—sekolah ketuhanan—yang mendidik manusia untuk kembali kepada fitrahnya. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan penyucian dan transformasi eksistensial.

Dalam banyak pidato Ramadan dan karya irfaninya seperti Adab al-Shalat dan Jihad al-Akbar, beliau menekankan bahwa seluruh ibadah memiliki dimensi lahir dan batin. Puasa yang hanya berhenti pada dimensi lahir belum menyentuh hakikatnya.


1. Puasa dan Tazkiyatun Nafs

Bagi Imam Khomeini, inti puasa adalah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Manusia terhijab oleh ego, kesombongan, cinta dunia, dan ambisi kekuasaan. Puasa adalah sarana meruntuhkan tirani ego itu.

Beliau sering menekankan:

“Jika puasa hanya menahan lapar, maka hewan pun bisa melakukannya. Hakikat puasa adalah menahan anggota badan dan hati dari maksiat.”

Artinya, puasa sejati mencakup:

  • Puasa mata dari pandangan haram
  • Puasa lisan dari dusta dan ghibah
  • Puasa hati dari riya dan kesombongan

Tanpa dimensi batin ini, puasa kehilangan ruhnya.


2. Ramadan sebagai Bulan Tajalli Ilahi

Dalam kerangka irfan (mistisisme Islam) yang beliau warisi dari para arif besar, Ramadan adalah bulan turunnya rahmat dan cahaya Ilahi. Malam Lailatul Qadar bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi momentum kosmis ketika takdir manusia ditata ulang.

Puasa mempersiapkan jiwa untuk menerima tajalli (manifestasi cahaya Tuhan). Lapar melembutkan hati. Diam memperdalam kontemplasi. Qiyamullail membuka pintu ma‘rifah.

Ramadan, dalam perspektif beliau, adalah kesempatan emas untuk hijrah batin.


3. Puasa dan Dimensi Sosial-Politik

Sebagai pemimpin Revolusi Islam, Imam Khomeini tidak memisahkan spiritualitas dari perjuangan sosial. Puasa membentuk manusia yang sabar, disiplin, dan tahan tekanan—karakter yang dibutuhkan dalam perlawanan terhadap kezaliman.

Beliau melihat Ramadan sebagai bulan solidaritas umat. Lapar menyatukan si kaya dan si miskin. Masjid menjadi pusat kesadaran kolektif. Doa menjadi energi perlawanan.

Puasa bukan pelarian dari realitas sosial, melainkan persiapan spiritual untuk menegakkan keadilan.


4. Puasa dan Jihad Akbar

Dalam konsep beliau tentang jihad akbar—perang melawan diri sendiri—puasa adalah latihan utama. Musuh terbesar manusia bukanlah kekuatan eksternal, melainkan nafsu internal.

Jika seseorang mampu mengalahkan hawa nafsunya, ia akan mampu menghadapi tirani apa pun di luar dirinya. Revolusi sejati dimulai dari revolusi batin.

Dengan demikian, puasa menjadi fondasi pembentukan manusia mujahid—manusia yang teguh secara spiritual dan sosial.


5. Dari Individu ke Peradaban

Imam Khomeini memandang Islam sebagai proyek peradaban. Puasa melahirkan individu bertakwa; individu bertakwa membangun masyarakat adil; masyarakat adil melahirkan peradaban ilahiah.

Ramadan adalah laboratorium peradaban itu. Jika nilai-nilai puasa—kejujuran, disiplin, empati, dan kesadaran Ilahi—berlanjut setelah Syawal, maka transformasi sosial menjadi mungkin.

Namun jika Ramadan berlalu tanpa perubahan batin, maka ia hanya menjadi tradisi musiman.


Penutup: Puasa sebagai Revolusi Ruhani

Dalam perspektif Imam Khomeini, puasa adalah:

  • Jalan penyucian jiwa
  • Sarana mendekat kepada Allah
  • Latihan kebebasan dari ego
  • Fondasi perjuangan melawan kezaliman

Puasa bukan sekadar ibadah individual, tetapi proyek pembentukan manusia ilahiah. Dari pengendalian diri lahir ketakwaan; dari ketakwaan lahir keberanian; dari keberanian lahir perlawanan terhadap tirani.

Ramadan adalah undangan untuk kembali kepada Allah—dan sekaligus panggilan untuk membangun dunia yang lebih adil.


Referensi

  1. Adab al-Shalat – Ruhollah Khomeini
  2. Jihad al-Akbar – Ruhollah Khomeini
  3. Kumpulan pidato Ramadan Imam Khomeini (Sahifeh-ye Imam).

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.