Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Puasa dalam Perspektif Revolusioner Ali Shariati

Dari Ritual Individual Menuju Kesadaran Historis

Bagi Ali Syariati, Islam bukan agama yang datang untuk meninabobokan umat, tetapi untuk membangunkannya. Setiap ibadah adalah proyek pembentukan manusia sadar—manusia yang mengerti posisinya dalam sejarah dan memilih berpihak.

Puasa, dalam kerangka ini, bukan sekadar latihan spiritual, melainkan latihan ideologis.

Syariati membedakan antara agama yang membius dan agama yang membebaskan. Puasa bisa menjadi candu jika hanya dirayakan sebagai tradisi tanpa transformasi. Tetapi ia menjadi energi revolusioner jika melahirkan kesadaran sosial dan keberanian historis.

Ramadan adalah madrasah pembentukan manusia pemberontak terhadap ketidakadilan.


1. Melawan Perbudakan Konsumsi

Syariati melihat modernitas sebagai sistem yang mengubah manusia menjadi makhluk konsumtif. Kapitalisme tidak hanya menjajah tanah, tetapi juga menjajah kesadaran.

Puasa memotong rantai itu.

Ketika manusia menahan diri dari makan dan minum—kebutuhan paling dasar—ia sedang mendeklarasikan bahwa dirinya bukan budak pasar. Ia bukan mesin produksi dan konsumsi.

Puasa adalah tindakan simbolik yang radikal:
menolak tunduk pada logika materi.


2. Lapar sebagai Bahasa Kaum Tertindas

Dalam narasi besar Syariati tentang mustadh‘afin, sejarah selalu digerakkan oleh konflik antara yang menindas dan yang ditindas. Islam, baginya, berpihak pada yang kedua.

Lapar bukan sekadar sensasi biologis. Ia adalah pengalaman historis jutaan manusia yang dirampas haknya.

Jika seorang mukmin berpuasa tetapi tidak terusik oleh ketimpangan sosial, maka puasanya terputus dari realitas. Puasa seharusnya menjadikan kemiskinan bukan statistik, melainkan luka yang dirasakan.

Dari lapar lahir solidaritas.
Dari solidaritas lahir keberpihakan.
Dari keberpihakan lahir perjuangan.


3. Kritik terhadap Agama Istana

Syariati keras terhadap agama yang dijinakkan oleh kekuasaan. Ia menyebutnya agama istana: agama yang sibuk dengan ritual, tetapi diam terhadap tirani.

Ramadan yang penuh kemewahan, meja-meja iftar yang berlimpah, sementara kaum miskin tetap terpinggirkan—itulah ironi yang ia kritik.

Puasa bukan untuk mempercantik citra religius.
Puasa adalah perlawanan terhadap struktur ketidakadilan.

Jika puasa tidak melahirkan keberanian untuk berkata “tidak” kepada penindasan, maka ia telah kehilangan ruh ideologisnya.


4. Hijrah: Dari Pasif ke Aktif

Syariati sering berbicara tentang hijrah sebagai prinsip perubahan sejarah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi transformasi kesadaran.

Puasa adalah hijrah batin:

  • Dari egoisme menuju solidaritas
  • Dari kenyamanan menuju kepedulian
  • Dari ketakutan menuju keberanian

Ramadan adalah momen kolektif untuk mengubah umat dari massa pasif menjadi komunitas sadar.


5. Dari Masjid ke Sejarah

Bagi Syariati, masjid bukan ruang pelarian dari dunia, tetapi pusat pembentukan kader sejarah. Ibadah tidak boleh berhenti pada sajadah.

Puasa mendidik disiplin, ketahanan, dan kesadaran kolektif—kualitas yang dibutuhkan dalam perjuangan sosial.

Jika Ramadan berakhir hanya dengan gema takbir tanpa perubahan sosial, maka sejarah tetap berjalan tanpa kita. Tetapi jika Ramadan melahirkan generasi yang sadar dan berani, maka puasa telah menjadi energi revolusi.


Penutup: Ramadan sebagai Proyek Pembebasan

Dalam perspektif Ali Syariati, puasa adalah:

  • Deklarasi kemerdekaan dari perbudakan materi
  • Solidaritas nyata dengan kaum mustadh‘afin
  • Kritik terhadap agama yang dibekukan
  • Latihan pembentukan manusia ideologis

Ramadan bukan bulan untuk melarikan diri dari sejarah. Ia adalah bulan untuk masuk ke dalam sejarah—sebagai subjek, bukan objek.

Puasa yang sejati tidak hanya menahan lapar, tetapi membakar kesadaran. Ia tidak hanya membersihkan jiwa, tetapi juga mengguncang struktur.

Dari sajadah menuju masyarakat.
Dari lapar menuju perubahan.
Dari Ramadan menuju revolusi kesadaran.


Referensi

  • Hajj – Ali Shariati
  • On the Sociology of Islam – Ali Shariati
  • Kuliah-kuliah Husainiyah Ersyad (Teheran, 1960–1970-an).

Share Post
No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.