Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

24 Zulhijah: Hari Kemenangan Hujah dan Wilayah

Di antara hari-hari agung dalam kalender Islam yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Syiah adalah Idul Mubahalah, yang diperingati setiap tanggal 24 Zulhijah. Hari ini mengenang sebuah peristiwa monumental ketika Rasulullah saw berhadapan dengan delegasi Nasrani Najran dalam sebuah dialog teologis mengenai hakikat Nabi Isa as. Ketika seluruh argumentasi telah disampaikan dan kebenaran telah dijelaskan, Allah Swt memerintahkan Nabi untuk melakukan mubahalah, yaitu memohon kepada Allah agar laknat-Nya ditimpakan kepada pihak yang berdusta. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu bukti paling jelas tentang kebenaran risalah Nabi Muhammad saw sekaligus keutamaan luar biasa Ahlulbait as.(QS. Ali Imran ayat 61; Syaikh ath-Thabarsi, Majma’ al-Bayan, jil. 2, hlm. 452; Syaikh al-Mufid, Al-Irsyad, jil. 1, hlm. 155)

Mubahalah bermula ketika delegasi besar kaum Nasrani dari Najran datang ke Madinah untuk berdialog dengan Rasulullah saw. Mereka memperdebatkan posisi Nabi Isa as dan menolak penjelasan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Isa adalah hamba dan nabi Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan. Setelah berbagai hujah disampaikan dan mereka tetap bersikeras pada keyakinannya, turunlah ayat Mubahalah yang memerintahkan Nabi untuk mengajak mereka berdoa bersama agar Allah mengutuk pihak yang berdusta. Perintah ini menunjukkan keyakinan mutlak Rasulullah saw terhadap kebenaran risalah yang beliau bawa.(Syaikh ath-Thusi, Al-Amali, majlis 2; Allamah Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, jil. 3, hlm. 257-262; QS. Ali Imran ayat 59-61)

Ayat Mubahalah berbunyi: “Maka siapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah: Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian, kemudian kita bermubahalah dan memohon agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (QS. Ali Imran: 61).

Ayat ini bukan sekadar tantangan debat, melainkan deklarasi ilahiah tentang siapa saja yang mewakili kebenaran Islam secara sempurna bersama Rasulullah saw. (Fakhruddin ar-Razi, Tafsir al-Kabir, jil. 8, hlm. 85; Allamah Thabathaba’i, Al-Mizan, jil. 3, hlm. 267)

Ketika hari yang dijanjikan tiba, Rasulullah saw tidak datang bersama para sahabat atau tokoh-tokoh kabilah Arab. Beliau hanya membawa empat orang: Imam Ali as, Sayidah Fatimah az-Zahra as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as. Melihat pemandangan tersebut, para pemuka Nasrani Najran diliputi ketakutan. Mereka menyadari bahwa seorang nabi yang membawa keluarga tercintanya ke medan mubahalah pasti sangat yakin akan kebenaran dirinya. Karena itu mereka mengurungkan niat untuk bermubahalah dan memilih berdamai dengan Rasulullah saw. (Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Fadha’il ash-Shahabah, hadis Mubahalah; Syaikh al-Mufid, Al-Irsyad, jil. 1, hlm. 156; Syaikh ath-Thabarsi, Ihtijaj, jil. 1, hlm. 50)

Bagi mazhab Ahlulbait, peristiwa Mubahalah memiliki makna yang jauh melampaui kemenangan dalam sebuah dialog agama. Ayat ini secara eksplisit memperkenalkan lima pribadi suci yang dikenal sebagai Ashabul Kisa atau Ahlul Kisa. Hasan dan Husain as tampil sebagai representasi “anak-anak kami”, Sayidah Fatimah as sebagai representasi “wanita-wanita kami”, sedangkan Imam Ali as tampil dalam posisi “anfusana” atau “diri-diri kami”. Kedudukan Imam Ali as dalam ayat ini menjadi sangat istimewa karena Allah menempatkannya sebagai representasi diri Rasulullah saw, kecuali dalam aspek kenabian. (Syarif al-Murtadha, Asy-Syafi fi al-Imamah, jil. 2, hlm. 25; Syaikh al-Mufid, Al-Fushul al-Mukhtarah, hlm. 38; Allamah al-Hilli, Nahj al-Haqq, hlm. 173.

Imam Ali ar-Ridha as pernah menjelaskan bahwa ayat Mubahalah merupakan salah satu dalil Al-Qur’an yang paling agung mengenai keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Ketika Al-Ma’mun bertanya tentang keutamaan terbesar Imam Ali dalam Al-Qur’an, beliau menjawab dengan ayat Mubahalah. Sebab tidak ada seorang pun dari umat Islam yang disandingkan dengan Rasulullah saw dalam ungkapan “diri kami” selain Ali bin Abi Thalib as. Dengan demikian, ayat ini menjadi salah satu fondasi penting dalam argumentasi imamah menurut mazhab Syiah. (Syaikh ash-Shaduq, ‘Uyun Akhbar ar-Ridha, jil. 1, hlm. 81; Syaikh al-Mufid, Al-Fushul al-Mukhtarah, hlm. 38)

Selain menunjukkan keutamaan Imam Ali as, Mubahalah juga menegaskan kemuliaan Sayidah Fatimah az-Zahra as. Di antara seluruh perempuan Muslim pada masa itu, hanya beliau yang dipilih untuk mewakili seluruh kaum perempuan dalam peristiwa yang menentukan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Fatimah as merupakan teladan kesucian dan keimanan yang tidak tertandingi. Kehadirannya dalam Mubahalah menjadi salah satu dalil penting mengenai kedudukan spiritual beliau dalam Islam. (llamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jil. 21, hlm. 342; Syaikh al-Mufid, Al-Irsyad, jil. 1, hlm. 157)

Demikian pula Imam Hasan as dan Imam Husain as memperoleh kedudukan yang sangat agung melalui ayat ini. Rasulullah saw memperkenalkan mereka sebagai “anak-anak kami”, padahal secara biologis mereka adalah cucu beliau. Al-Qur’an dengan demikian menegaskan bahwa hubungan spiritual dan nasab Ahlulbait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah. Ayat ini sekaligus menjadi salah satu dalil Qur’ani tentang kemuliaan kedua cucu Rasulullah saw tersebut. (Syaikh ath-Thabarsi, Majma’ al-Bayan, jil. 2, hlm. 455; Allamah Thabathaba’i, Al-Mizan, jil. 3, hlm. 269)

Dalam tradisi Syiah, Idul Mubahalah bukan hanya peringatan sejarah, tetapi momentum untuk memperbarui komitmen terhadap wilayah dan kepemimpinan Ahlulbait as. Peristiwa ini mengingatkan umat bahwa kebenaran tidak hanya diukur dari banyaknya pengikut atau kekuatan politik, melainkan dari kedekatan kepada Allah dan kemurnian iman. Ketika Rasulullah saw memilih Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain as sebagai wakil Islam, beliau sedang menunjukkan kepada umat siapa pewaris sejati risalah setelah dirinya. (Syaikh al-Mufid, Al-Irsyad, jil. 1, hlm. 158; Syaikh ath-Thusi, Misbah al-Mutahajjid, hlm. 758)

Karena itu, Idul Mubahalah adalah hari kemenangan hujah atas kesesatan, kemenangan cahaya atas kegelapan, dan kemenangan Ahlulbait atas seluruh klaim yang berusaha menyingkirkan mereka dari pusat kehidupan umat. Ia menjadi pengingat bahwa jalan keselamatan selalu terkait dengan kecintaan, pengenalan, dan keteladanan kepada keluarga suci Rasulullah saw. Di tengah berbagai tantangan zaman, semangat Mubahalah mengajarkan keberanian untuk membela kebenaran dengan ilmu, akhlak, dan keyakinan yang kokoh sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya yang suci. (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jil. 35, hlm. 247; Syaikh ath-Thusi, Al-Amali, majlis 4; Syaikh al-Qummi, Mafatih al-Jinan, a’mal 24 Zulhijah)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT