Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Air Mata Karbala dan Ketangguhan Para Pencinta Husain as

*Ditranskrip dari ceramah Ustadz Husein Alkaff pada peringatan Malam Duka Muharam

Setiap kali bulan Muharam tiba, hati para pecinta Ahlulbait as kembali diselimuti duka. Mereka mengenang tragedi Karbala, peristiwa paling menyayat dalam sejarah Islam, ketika Imam Husain bin Ali as beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya gugur sebagai syuhada demi mempertahankan agama Allah dan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi sebagian orang, peringatan Asyura identik dengan tangisan, ratapan, dan kesedihan. Bahkan tidak sedikit yang mencibir tradisi tersebut sebagai bentuk kelemahan atau sikap berlebihan. Padahal, jika ditelaah secara mendalam, tangisan dalam ajaran Islam justru merupakan ekspresi fitrah manusia yang sehat, bahkan dalam banyak keadaan dianjurkan dan dipuji oleh Allah Swt.

Islam dan Fitrah Kemanusiaan

Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad saw dan diteruskan oleh para Imam Ahlulbait as adalah agama yang selaras dengan fitrah manusia. Allah Swt berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. ar-Rum: 30)

Fitrah manusia mencakup kemampuan untuk mencintai, berempati, bersimpati, dan merasakan penderitaan sesama. Manusia yang sehat jiwanya akan terenyuh ketika menyaksikan kezaliman, ketidakadilan, atau penderitaan orang lain. Sebaliknya, hati yang keras adalah hati yang kehilangan sensitivitas terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu manifestasi empati adalah tangisan. Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya, menyaksikan tragedi, atau merasakan kehadiran Ilahi yang begitu kuat, air mata menjadi bahasa hati yang paling jujur. Oleh karena itu, menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati nurani.

Al-Qur’an Memuji Orang-Orang yang Menangis

Al-Qur’an tidak pernah mencela tangisan yang lahir dari keimanan dan ketulusan. Sebaliknya, banyak ayat yang memuji orang-orang yang menangis karena tersentuh oleh kebenaran.

Allah Swt berfirman:

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. al-Isra’: 109)

Ayat ini berbicara tentang orang-orang berilmu yang ketika mendengar ayat-ayat Allah, mereka bersujud sambil menangis. Tangisan mereka bukanlah kelemahan, melainkan bukti kedalaman iman dan kekhusyukan.

Demikian pula dalam Surah Maryam:

“Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan Yang Maha Pengasih, mereka menyungkur bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)

Ayat ini bahkan menyebut para nabi dan hamba-hamba pilihan Allah. Salah satu karakter mereka adalah mudah tersentuh oleh ayat-ayat Tuhan hingga menangis dalam sujud.

Al-Qur’an juga menceritakan sekelompok sahabat Nabi yang pulang sambil menangis karena tidak mendapatkan kesempatan untuk ikut berjuang di jalan Allah:

“Mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, sebab mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. at-Taubah: 92)

Tangisan mereka dipuji karena lahir dari kecintaan kepada amal saleh dan perjuangan.

Dengan demikian, Al-Qur’an menunjukkan bahwa tangisan dapat menjadi tanda keimanan, kekhusyukan, dan kemuliaan hati.

Tangisan yang Dicintai Allah

Dalam riwayat Ahlulbait as, tangisan juga memiliki kedudukan yang sangat agung.

Imam Ja‘far ash-Shadiq as meriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as:

“Tidak ada sesuatu yang digunakan hamba-hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada tiga perkara: zuhud terhadap dunia, meninggalkan maksiat, dan menangis karena takut kepada-Ku.”

Menariknya, dalam lanjutan riwayat tersebut disebutkan bahwa orang yang menangis karena takut kepada Allah akan memperoleh kedudukan yang sangat tinggi di sisi-Nya.

Artinya, air mata yang mengalir karena kesadaran akan kebesaran Allah dan kelemahan diri bukanlah sesuatu yang hina. Sebaliknya, ia termasuk amal yang sangat dicintai Allah Swt.

Dalam riwayat lain, Imam Ja‘far ash-Shadiq as mengajarkan bahwa ketika seseorang memiliki hajat atau kebutuhan, hendaknya ia memulai dengan memuji Allah, bershalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya, lalu berusaha menangis walaupun hanya setetes air mata.

Ini menunjukkan bahwa tangisan merupakan salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah dan melunakkan hati manusia.

Rasulullah saw dan Tangisan atas Para Syuhada

Mereka yang menganggap tangisan sebagai sesuatu yang tercela sering kali melupakan fakta bahwa Rasulullah saw sendiri adalah sosok yang lembut dan penuh kasih sayang.

Beliau menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Beliau menangis ketika menyaksikan penderitaan umat. Bahkan beliau menangis saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam peristiwa Perang Uhud, banyak syuhada gugur di medan jihad. Keluarga para syuhada datang dan menangisi orang-orang yang mereka cintai. Rasulullah saw tidak melarang mereka.

Ketika beliau melihat bahwa tidak ada seorang pun yang menangisi Sayyidina Hamzah, paman beliau yang gugur secara tragis, Rasulullah saw mengajak para wanita Madinah untuk menangisi Hamzah.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa menangisi orang saleh dan para syuhada bukanlah bid‘ah ataupun penyimpangan. Ia memiliki akar yang kuat dalam sunnah Rasulullah saw sendiri.

Mengapa Imam Husain as Ditangisi?

Jika para syuhada Uhud layak ditangisi, maka lebih layak lagi Imam Husain as ditangisi.

Imam Husain as bukan hanya cucu Rasulullah saw, tetapi juga pemimpin para pemuda surga dan simbol perjuangan melawan kezaliman sepanjang sejarah.

Beliau tidak gugur dalam peperangan biasa. Beliau dibantai bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam kondisi haus, terasing, dan dikepung oleh ribuan pasukan. Bahkan anak-anak dan keluarga beliau pun tidak luput dari penderitaan.

Karena itu, para pecinta Ahlulbait as memandang tangisan atas Imam Husain as sebagai bentuk kesetiaan kepada nilai-nilai yang beliau perjuangkan.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw telah menangisi Imam Husain as bahkan sebelum tragedi Karbala terjadi. Malaikat Jibril memberitahukan kepada beliau tentang musibah yang akan menimpa cucunya itu, dan Nabi pun menangis.

Dengan demikian, Imam Husain as ditangisi sebelum Asyura, saat Asyura terjadi, dan setelah Asyura sepanjang sejarah.

Tangisan yang Melahirkan Keberanian

Salah satu tuduhan yang sering diarahkan kepada para pecinta Ahlulbait adalah bahwa mereka terlalu banyak menangis dan larut dalam kesedihan.

Namun sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Mereka yang setiap tahun menangisi Imam Husain as justru melahirkan generasi-generasi pemberani yang berdiri di garis depan melawan kezaliman. Dari Iran, Lebanon, Irak, hingga Yaman, semangat Karbala telah menginspirasi jutaan manusia untuk menolak penindasan dan mempertahankan kehormatan.

Tangisan Asyura bukan tangisan yang melemahkan. Ia adalah tangisan yang membangkitkan kesadaran. Air mata yang mengalir di majelis Husain as bukanlah simbol kekalahan, melainkan sumpah untuk melanjutkan perjuangan beliau.

Seseorang yang belajar dari Karbala memahami bahwa nyawa bukanlah nilai tertinggi. Yang lebih tinggi adalah kebenaran, keadilan, dan pengorbanan di jalan Allah.

Karena itu, tangisan kepada Imam Husain as tidak menghasilkan manusia yang pengecut. Justru ia melahirkan manusia-manusia yang siap berkorban demi agama dan kemanusiaan.

Menjaga Api Karbala Tetap Menyala

Muharam bukan sekadar bulan kesedihan. Ia adalah sekolah spiritual yang mengajarkan empati, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Ketika seorang mukmin menangisi Imam Husain as, sesungguhnya ia sedang memperbarui janjinya kepada Allah bahwa dirinya tidak akan berpihak kepada kezaliman. Ia sedang menghidupkan kembali nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para syuhada Karbala.

Oleh karena itu, janganlah malu untuk menangis atas Imam Husain as. Jangan takut dicap lemah atau cengeng. Tangisan itu adalah warisan para nabi, para wali Allah, Rasulullah saw, dan Ahlulbait as.

Semoga pada malam-malam duka Abu Abdillah al-Husain as ini, Allah melembutkan hati kita, memperkuat empati kita terhadap penderitaan umat manusia, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang setia kepada jalan Karbala hingga akhir hayat.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT