Setiap tahun dunia menyaksikan Olimpiade. Empat tahun sekali perhatian dunia tertuju pada Piala Dunia. Jutaan orang mengikuti berbagai festival budaya dan keagamaan di berbagai negara. Namun, ada sebuah peristiwa yang justru menghadirkan lebih banyak manusia dibanding hampir semua perhelatan tahunan tersebut, tetapi hanya sedikit mendapat sorotan media internasional.
Peristiwa itu bernama Arbain.

Selama puluhan tahun, jutaan manusia berjalan kaki menuju Kota Karbala, Irak, untuk mengenang empat puluh hari syahadah cucu Nabi Muhammad saw, Imam Husain as. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah peziarah secara konsisten berada di kisaran 20–22 juta orang, menjadikannya salah satu pertemuan tahunan terbesar di dunia. Reuters, ITV News, dan berbagai media internasional secara rutin meliput besarnya arus peziarah yang memenuhi jalan-jalan menuju Karbala setiap tahun. (Reuters Connect)
Namun, angka sebesar itu bukanlah inti dari Arbain.
Yang menjadikannya luar biasa adalah alasan mengapa jutaan orang rela berjalan.

Lebih dari Sekadar Ziarah
Perjalanan menuju Karbala bukan sekadar perpindahan fisik dari Najaf ke Karbala sejauh sekitar 80 kilometer. Bagi jutaan peziarah, setiap langkah adalah napak tilas perjuangan Imam Husain as yang menolak tunduk kepada kekuasaan Yazid pada tahun 680 M.
Di Karbala, Imam Husain as tidak berperang demi wilayah, kekuasaan, ataupun ambisi politik. Ia berdiri mempertahankan prinsip bahwa manusia tidak boleh menyerahkan kehormatannya kepada kezaliman. Karena itulah, pesan Karbala terus hidup melampaui ruang dan waktu.
Bagi para peziarah, perjalanan kaki menjadi simbol bahwa nilai-nilai kebenaran membutuhkan pengorbanan. Mereka berjalan bukan karena diwajibkan syariat, melainkan karena dorongan cinta.

Pemandangan yang Sulit Dijelaskan dengan Kata-kata
Sepanjang rute Najaf–Karbala, ribuan tenda berdiri di sisi jalan.
Tidak ada tarif.
Tidak ada kasir.
Tidak ada promosi.
Setiap peziarah diperlakukan sebagai tamu.

Makanan disajikan tanpa dipungut biaya. Air minum tersedia sepanjang perjalanan. Rumah-rumah warga dibuka bagi orang yang belum pernah mereka kenal. Klinik kesehatan, tempat beristirahat, hingga layanan pijat kaki disediakan secara cuma-cuma.
Semua diberikan tanpa syarat.
Bukan oleh pemerintah.
Bukan oleh perusahaan.
Melainkan oleh masyarakat Irak sendiri.

Media international menggambarkan bagaimana para sukarelawan menyediakan makanan, minuman, tempat istirahat, dan berbagai kebutuhan peziarah sebagai bentuk kecintaan kepada Imam Husain as, sementara ribuan keluarga membuka rumah mereka bagi orang-orang asing yang datang dari berbagai negara. (Reuters Connect)
Di sinilah dunia menyaksikan sebuah ekonomi yang bekerja bukan karena transaksi, tetapi karena pengabdian.
Semua Berjalan Bersama

Yang menarik, Arbain bukan hanya diikuti Muslim Syiah.
Di antara jutaan peziarah terdapat Muslim Sunni, Kristen, Yazidi, bahkan orang-orang yang datang semata karena ingin menyaksikan fenomena kemanusiaan tersebut.
Anak-anak didorong menggunakan stroller.
Lansia berjalan dengan tongkat atau kursi roda.
Orang kaya dan miskin tidur di tempat yang sama.
Profesor berjalan berdampingan dengan petani.
Semua kehilangan identitas sosialnya.
Yang tersisa hanyalah identitas sebagai peziarah.
ITV News bahkan menyoroti bahwa peziarah datang dari berbagai negara, usia, dan latar belakang, sementara keramahan masyarakat Irak menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi mereka yang mengikuti perjalanan tersebut. (ITVX)
Mengapa Dunia Jarang Membicarakannya?
Ironisnya, peristiwa yang melibatkan lebih dari dua puluh juta manusia ini jarang menjadi berita utama media internasional.
Sebagian besar pemberitaan hanya muncul ketika terjadi isu keamanan atau kondisi cuaca ekstrem.
Padahal, setiap tahun dunia sebenarnya menyaksikan eksperimen sosial terbesar yang hampir mustahil ditemukan di tempat lain: jutaan orang bergerak tanpa kepanikan massal, saling melayani tanpa transaksi ekonomi, dan bertahan dalam perjalanan panjang karena keyakinan bersama.
Arbain menunjukkan bahwa solidaritas bukan sekadar slogan.
Ia benar-benar dapat diwujudkan.
Pesan Universal Karbala
Arbain bukan hanya milik kaum Syiah.
Pesan Imam Husain as jauh melampaui batas mazhab.
Ia berbicara tentang keberanian melawan tirani.
Tentang menjaga martabat manusia.
Tentang membela kebenaran meskipun harus membayar harga yang sangat mahal.
Karena itu, jutaan orang terus datang.
Mereka tidak sekadar mengenang sejarah.
Mereka memperbarui janji bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain as tidak boleh berhenti di Karbala.
Selama masih ada ketidakadilan, Karbala akan tetap hidup.
Selama masih ada manusia yang memilih kebenaran daripada kenyamanan, perjalanan menuju Karbala akan selalu menemukan para pejalannya.
Dan selama jutaan langkah itu terus terdengar setiap bulan Safar, dunia akan terus diingatkan bahwa cinta, pengorbanan, dan keberanian dapat menyatukan manusia jauh lebih kuat daripada kekuasaan.
Referensi
- Reuters, Despite high temperatures, crowds of pilgrims commemorate Arbaeen in Iraq’s Karbala (2025). (Reuters Connect)
- Reuters, For Shi’ite pilgrims in Iraq’s deserts, suffering strengthens faith (2025). (Investing.com)
- ITV News, Extreme heat as pilgrims commemorate Arbaeen – the world’s largest annual peaceful gathering (2025). (ITVX)
- Reuters Photo, Shi’ite Muslims gather during the Shi’ite ritual of Arbaeen in Karbala (2025). (Reuters Connect)
- Reuters Photo, Pilgrims Journey to Karbala for Arbaeen Ritual (2025). (Reuters Connect)
.