Persatuan, Perlawanan terhadap Kezaliman, dan Jalan Menuju Peradaban
Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah umat manusia. Dengan kehadiran beliau, dunia yang diliputi kegelapan jahiliah memperoleh cahaya petunjuk, sementara manusia mendapatkan jalan menuju kesempurnaan spiritual, moral, dan sosial. Karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang sebuah peristiwa sejarah, melainkan untuk menghidupkan kembali misi yang beliau bawa: membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan, persaudaraan, dan penghambaan kepada Allah.
Dalam pesannya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ dan Pekan Persatuan tahun 1448 H, Sayyid Mujtaba Hosseini Khamenei mengajak umat Islam untuk melihat kembali pesan-pesan fundamental yang diwariskan Rasulullah. Pesan itu tidak hanya menyangkut ibadah dan spiritualitas individual, tetapi juga menyangkut kehidupan kolektif umat, hubungan antarsesama Muslim, serta sikap terhadap ketidakadilan yang masih berlangsung di berbagai penjuru dunia. Inti dari pesannya dapat diringkas dalam tiga kata kunci: persatuan, perlawanan terhadap kezaliman, dan pembangunan peradaban.
Bagi Sayyid Mujtaba, perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ dan para penerus beliau merupakan sekolah besar bagi umat manusia. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang ilmu dan amal, kejujuran dan amanah, kasih sayang dan ketegasan, keadilan dan kesetaraan, serta persatuan dan persaudaraan. Nilai-nilai itulah yang memungkinkan sebuah masyarakat mencapai kebahagiaan dan kemajuan yang hakiki. Semakin nilai-nilai tersebut dipahami dan diamalkan, semakin dekat manusia kepada kehidupan yang bermartabat dan sejahtera.
Namun pesan utama yang paling menonjol dalam peringatan tahun ini adalah pentingnya persatuan. Menurutnya, dunia Islam sedang berada pada sebuah fase sejarah yang menentukan. Setelah melewati berbagai ujian, konflik, dan perubahan besar selama berabad-abad, umat Islam kini memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan arah sejarah. Bahkan ia menyatakan bahwa peluang terwujudnya kemenangan kebenaran atas kebatilan saat ini lebih dekat dibandingkan banyak periode sebelumnya. Akan tetapi, syarat utama untuk mewujudkan peluang tersebut adalah persatuan umat Islam.
Dalam pandangannya, persatuan bukanlah sekadar slogan politik atau seruan moral yang bersifat sementara. Persatuan merupakan strategi Al-Qur’an dan salah satu ajaran mendasar Islam. Yang dimaksud dengan persatuan bukanlah penghapusan seluruh perbedaan, melainkan menjadikan titik-titik persamaan sebagai fondasi kehidupan bersama. Umat Islam dapat memiliki mazhab, tradisi, dan pandangan yang berbeda, tetapi mereka tetap memiliki akidah, kitab suci, kiblat, dan cita-cita bersama yang jauh lebih besar daripada berbagai perbedaan tersebut.
Karena itu, Sayyid Mujtaba mengingatkan bahwa berbagai perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk memecah belah umat. Ia bahkan memperingatkan bahwa musuh-musuh Islam selalu berusaha mengeksploitasi berbagai bentuk perbedaan, bukan hanya perbedaan mazhab dan keyakinan, tetapi juga perbedaan etnis, budaya, ekonomi, sosial, dan politik. Ketika umat larut dalam konflik internal, mereka kehilangan kekuatan yang sesungguhnya dan menjadi lebih mudah didominasi oleh pihak lain.
Namun persatuan yang dimaksud dalam pesan ini bukanlah persatuan yang pasif. Persatuan memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu membela kebenaran dan melawan kezaliman. Dalam salah satu bagian paling penting dari pesannya, Sayyid Mujtaba mengutip ayat Al-Qur’an yang menggambarkan para pengikut Rasulullah sebagai orang-orang yang tegas menghadapi pihak yang memusuhi dan penuh kasih sayang di antara sesama mereka. Prinsip inilah yang menurutnya harus menjadi landasan sikap umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan persatuan demi persatuan itu sendiri. Persatuan harus menjadi sarana untuk menegakkan keadilan dan melindungi kaum tertindas. Karena itu, Sayyid Mujtaba berulang kali mengaitkan pentingnya persatuan dengan nasib rakyat Palestina dan berbagai bangsa Muslim yang menghadapi tekanan dari kekuatan-kekuatan besar dunia. Ia mengajukan pertanyaan yang menggugah kesadaran: seandainya umat Islam benar-benar bersatu, apakah rakyat Palestina akan tetap mengalami penderitaan yang begitu panjang dan mendalam?
Di sinilah tampak bahwa Pekan Persatuan tidak hanya berbicara tentang hubungan antara Sunni dan Syiah atau hubungan antarkelompok Muslim. Pekan Persatuan juga merupakan seruan untuk membangun solidaritas yang lebih luas dalam menghadapi berbagai bentuk penindasan. Dalam pesannya, Sayyid Mujtaba secara terbuka menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang menurutnya paling berkepentingan terhadap perpecahan umat Islam. Ia menilai bahwa kekuatan-kekuatan hegemonik dunia memperoleh keuntungan ketika negara-negara Muslim saling berkonflik dan kehilangan kemampuan untuk bekerja sama.
Konteks pesan ini tidak dapat dipisahkan dari situasi yang sedang dihadapi Iran. Dalam berbagai pernyataan yang disampaikan sepanjang tahun 2026, Sayyid Mujtaba berulang kali menekankan pentingnya persatuan nasional setelah perang besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Dalam narasi resmi Iran, kemampuan negara itu bertahan menghadapi tekanan militer dan ekonomi dipandang sebagai buah dari solidaritas nasional serta keteguhan rakyatnya. Ia bahkan memperingatkan bahwa ketika musuh gagal mencapai tujuannya melalui konfrontasi langsung, mereka akan berusaha menciptakan perpecahan dari dalam.
Namun menariknya, kemenangan yang dibicarakan Sayyid Mujtaba tidak semata-mata dipahami sebagai kemenangan militer. Kemenangan yang lebih penting adalah kemenangan moral dan peradaban. Sebuah masyarakat dianggap menang ketika mampu mempertahankan martabatnya, menjaga kemerdekaannya, dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip keadilan di tengah tekanan yang besar. Karena itu, kemenangan sejati tidak hanya diukur dari medan perang, tetapi juga dari kemampuan suatu bangsa untuk menjaga persatuan, harapan, dan kepercayaan dirinya.
Lebih jauh lagi, Sayyid Mujtaba menghubungkan persatuan dengan proyek besar pembangunan peradaban Islam. Menurutnya, umat Islam tidak cukup hanya menghindari konflik. Mereka juga harus membangun kerja sama yang nyata dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, keamanan, teknologi, dan kebudayaan. Persatuan harus diterjemahkan menjadi kolaborasi yang menghasilkan kemajuan bersama. Inilah yang ia sebut sebagai jalan menuju lahirnya “peradaban Islam baru”—sebuah peradaban yang berdiri di atas ilmu, keadilan, solidaritas, dan kemerdekaan.
Pesan ini sesungguhnya mengingatkan kembali kepada teladan Nabi Muhammad ﷺ sendiri. Ketika beliau memulai dakwahnya, masyarakat Arab hidup dalam perpecahan suku, ketidakadilan sosial, dan dominasi kelompok-kelompok kuat atas yang lemah. Melalui ajaran Islam, Nabi berhasil membangun sebuah komunitas yang dipersatukan oleh iman dan nilai-nilai moral, bukan oleh kesukuan atau kepentingan sempit. Persatuan yang beliau bangun kemudian menjadi fondasi lahirnya sebuah peradaban yang dalam waktu singkat mampu memberikan kontribusi besar bagi dunia.
Karena itu, memperingati Maulid Nabi berarti memperbarui komitmen terhadap proyek besar tersebut. Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup diwujudkan melalui pujian dan perayaan semata. Cinta itu harus tampak dalam upaya memperkuat persaudaraan, mengurangi permusuhan, membela kaum tertindas, serta bekerja sama membangun masyarakat yang lebih adil dan bermartabat.
Pada akhirnya, pesan Pekan Persatuan tahun ini menghadirkan sebuah gagasan yang utuh dan relevan. Persatuan tanpa keberpihakan kepada keadilan akan kehilangan maknanya. Sebaliknya, perjuangan melawan kezaliman tanpa persatuan akan kehilangan kekuatannya. Keduanya harus berjalan bersama sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik, dominasi, dan ketimpangan, pesan tersebut mengingatkan bahwa jalan menuju kebangkitan umat dan kemajuan peradaban tetap sama seperti empat belas abad lalu: membangun persaudaraan, menegakkan keadilan, dan berdiri teguh menghadapi segala bentuk kezaliman.