Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pekan Persatuan Islam di Iran: Sejarah, Prosesi, dan Pesan Persaudaraan Umat

Setiap tahun, ketika bulan Rabiul Awal tiba, Republik Islam Iran menyelenggarakan sebuah peringatan yang memiliki makna khusus bagi dunia Islam, yaitu Pekan Persatuan Islam (Islamic Unity Week atau Haftah-ye Wahdat). Perayaan ini berlangsung sejak tanggal 12 hingga 17 Rabiul Awal, rentang waktu antara tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw menurut mayoritas Sunni dan tanggal kelahiran beliau menurut tradisi Syiah. Di tengah berbagai perbedaan mazhab yang berkembang dalam sejarah Islam, Pekan Persatuan hadir sebagai simbol bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw jauh lebih besar daripada perbedaan-perbedaan yang ada.

Bagi sebagian pengamat luar, Pekan Persatuan mungkin dipandang sebagai agenda seremonial negara. Namun bagi banyak ulama dan cendekiawan Muslim, peringatan ini merupakan salah satu upaya paling serius dan berkelanjutan untuk membangun dialog serta kerja sama antara berbagai mazhab Islam. Selama lebih dari empat dekade, acara ini telah menjadi ruang pertemuan para ulama, akademisi, pemimpin organisasi Islam, aktivis, dan tokoh masyarakat dari berbagai negara Muslim maupun komunitas Muslim di Barat.

Latar Belakang Sejarah

Gagasan Pekan Persatuan berakar pada kesadaran bahwa perbedaan tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw sering kali dijadikan alasan untuk memperbesar jarak antara Sunni dan Syiah. Mayoritas Sunni memperingati maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal, sedangkan banyak kalangan Syiah memperingatinya pada 17 Rabiul Awal. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Imam Ruhullah Khomeini memandang perbedaan tersebut bukan sebagai sumber pertentangan, melainkan peluang untuk membangun persaudaraan. Beliau kemudian menetapkan rentang waktu antara kedua tanggal tersebut sebagai Pekan Persatuan Islam.

Menariknya, menurut penuturan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, ide awal untuk merayakan rentang waktu antara 12 dan 17 Rabiul Awal sebenarnya telah muncul sebelum Revolusi Islam. Ketika berada di kawasan Sistan dan Baluchestan yang mayoritas penduduknya Sunni, beliau bersama sejumlah ulama Sunni menggagas perayaan bersama sebagai simbol persatuan umat. Gagasan itu kemudian berkembang dan memperoleh bentuk resmi setelah Revolusi Islam.

Sejak saat itu, Pekan Persatuan menjadi salah satu agenda keagamaan dan intelektual paling penting di Iran. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun mendalam: umat Islam dapat tetap berbeda dalam persoalan fikih dan tradisi, tetapi harus bersatu dalam menghadapi tantangan bersama yang menimpa dunia Islam.

Konferensi Internasional yang Mengundang Tokoh Dunia

Puncak kegiatan Pekan Persatuan adalah Konferensi Internasional Persatuan Islam (International Islamic Unity Conference) yang diselenggarakan setiap tahun di Teheran. Konferensi ini pertama kali digelar pada tahun 1987 dan hingga kini terus berlangsung secara rutin. Penyelenggaranya adalah World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought (Majma’ Taqrib baina al-Madzahib al-Islamiyyah), sebuah lembaga yang didirikan untuk mempererat hubungan antarmazhab Islam.

Setiap tahun ratusan tokoh dari berbagai negara hadir dalam konferensi ini. Mereka berasal dari kalangan ulama Sunni dan Syiah, menteri negara-negara Muslim, rektor universitas, pemimpin organisasi Islam, cendekiawan, serta aktivis sosial. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu persatuan umat bukan hanya persoalan teologis, melainkan juga kebutuhan strategis bagi masa depan dunia Islam.

Dalam beberapa tahun terakhir, konferensi ini dihadiri peserta dari puluhan negara Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Pada konferensi ke-39 tahun 2025 misalnya, lebih dari 350 tokoh ilmiah dan keagamaan dari berbagai negara berkumpul di Teheran untuk membahas tema “Nabi Rahmat dan Persatuan Umat”.

Tidak sedikit tokoh Indonesia yang turut berpartisipasi. Beberapa ulama, akademisi, dan pimpinan organisasi Islam Indonesia pernah menjadi pembicara atau peserta dalam konferensi tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat persatuan yang diusung Iran mendapat perhatian luas di berbagai negara Muslim.

Prosesi dan Kegiatan Tahunan

Pekan Persatuan tidak hanya berupa konferensi formal. Selama satu minggu penuh berbagai kegiatan diselenggarakan di seluruh Iran.

Di masjid-masjid dan pusat keagamaan diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw dengan menghadirkan ulama dari berbagai mazhab. Di sejumlah kota yang memiliki populasi Sunni dan Syiah, acara dilaksanakan secara bersama-sama sebagai simbol persaudaraan. (Press TV)

Di universitas dan lembaga pendidikan berlangsung seminar ilmiah yang membahas sejarah peradaban Islam, tantangan kontemporer umat, dialog antarmazhab, dan strategi menghadapi ekstremisme. Berbagai makalah akademik dipresentasikan dan diterbitkan sebagai bagian dari upaya memperkaya khazanah pemikiran Islam.

Salah satu agenda yang paling dinanti adalah pertemuan peserta konferensi dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran. Dalam kesempatan tersebut biasanya disampaikan pandangan mengenai kondisi dunia Islam serta pentingnya menjaga ukhuwah di tengah berbagai konflik dan tekanan global.

Selain itu, berbagai program budaya juga digelar, mulai dari pameran buku, festival seni Islam, hingga pertemuan organisasi masyarakat Muslim dari berbagai negara. Pada masa pandemi COVID-19, kegiatan ini bahkan tetap berlangsung secara virtual, menunjukkan komitmen penyelenggara untuk menjaga tradisi dialog dan persatuan umat.

Makna Pekan Persatuan bagi Umat Islam

Pekan Persatuan tidak bertujuan menghapus identitas mazhab atau menyeragamkan keyakinan keagamaan. Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan dalam bingkai persaudaraan Islam. Para peserta konferensi secara terbuka mendiskusikan berbagai perbedaan pandangan, tetapi mereka juga menegaskan adanya wilayah yang jauh lebih luas untuk bekerja sama demi kepentingan umat.

Bagi komunitas Syiah, Pekan Persatuan juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa ajaran Ahlulbait tidak bertentangan dengan semangat ukhuwah Islamiyah. Sebaliknya, kecintaan kepada Ahlulbait justru mengajarkan penghormatan terhadap seluruh kaum Muslimin dan penolakan terhadap permusuhan sektarian.

Di era ketika konflik mazhab sering dieksploitasi untuk kepentingan politik, Pekan Persatuan memberikan pesan yang relevan: musuh terbesar umat Islam bukanlah perbedaan internal, melainkan kebodohan, fanatisme sempit, kemiskinan, penjajahan, dan perpecahan yang melemahkan kekuatan umat. Karena itu, memperingati maulid Rasulullah saw tidak cukup hanya dengan ungkapan cinta, tetapi juga dengan meneladani misi beliau sebagai pemersatu manusia.

Lebih dari empat puluh tahun sejak pertama kali dicanangkan, Pekan Persatuan Islam di Iran tetap menjadi salah satu simbol paling nyata dari upaya membangun jembatan antara Sunni dan Syiah. Meskipun tantangan dunia Islam terus berubah, pesan yang dibawanya tetap sama: umat yang berpegang teguh pada tali Allah dan menjunjung persaudaraan akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan zaman daripada umat yang tenggelam dalam perpecahan.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT