Ketika Para Penguasa Takut kepada Sebuah Ziarah
Sejarah mencatat bahwa tidak ada ziarah keagamaan yang mengalami tekanan politik sedemikian panjang seperti ziarah Imam Husain a.s. Sejak tragedi Karbala pada tahun 61 Hijriah hingga era modern, berbagai penguasa silih berganti berusaha memadamkan cahaya Arbain. Mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga rezim Ba’ath Irak, larangan demi larangan diberlakukan, makam diratakan, jalan menuju Karbala ditutup, bahkan para peziarah dihukum mati.
Namun, semakin keras penindasan dilakukan, semakin kuat pula kecintaan kaum mukmin kepada Imam Husain a.s. Fenomena ini menjadi bukti kebenaran firman Allah:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya…” (QS. ash-Shaff [61]: 8).
Bagi para ulama Ahlulbait, sejarah pelarangan ziarah Arbain bukan sekadar catatan politik, melainkan bagian dari kesinambungan perjuangan antara kebenaran dan kezaliman yang dimulai di Karbala.
Masa Bani Umayyah: Menghapus Jejak Karbala
Sesaat setelah tragedi Asyura tahun 61 H, Dinasti Umayyah menyadari bahwa makam Imam Husain berpotensi menjadi pusat kesadaran umat. Karena itu, pengawasan terhadap Karbala segera diperketat.
Pada masa Yazid bin Muawiyah, pengunjung makam Imam Husain diawasi secara ketat. Setelah Yazid tewas, tekanan memang sempat mereda, tetapi para penguasa Umayyah berikutnya tetap memandang kecintaan kepada Ahlulbait sebagai ancaman politik.
Meski demikian, kecintaan kaum mukmin tidak dapat dibendung. Riwayat menyebutkan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari menjadi peziarah pertama Imam Husain pada hari Arbain tahun 61 H. Sejak saat itu, tradisi ziarah terus hidup dari generasi ke generasi.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. bahkan menganjurkan para pengikutnya untuk terus berziarah meskipun harus menghadapi bahaya. Dalam Kamil al-Ziyarat, Ibn Qulawayh meriwayatkan banyak hadis yang menjanjikan pahala besar bagi orang yang menziarahi Imam Husain, sekalipun harus menempuh perjalanan penuh risiko.
Masa Abbasiyah: Penindasan yang Lebih Sistematis
Jika Umayyah memusuhi Ahlulbait secara terbuka, maka Dinasti Abbasiyah melakukannya dengan cara yang lebih sistematis. Walaupun mereka naik ke tampuk kekuasaan dengan slogan membela keluarga Nabi, kenyataannya banyak khalifah Abbasiyah justru menjadi penindas berat para pengikut Ahlulbait.
Puncak penindasan terjadi pada masa Khalifah al-Mutawakkil (memerintah 232–247 H). Para sejarawan Syiah maupun Sunni mencatat bahwa al-Mutawakkil memandang makam Imam Husain sebagai pusat perlawanan moral terhadap kekhalifahannya.
Karena itu, ia memerintahkan:
- penghancuran makam Imam Husain,
- perataan bangunan di sekitarnya,
- pembajakan tanah makam dengan air dan bajak,
- pelarangan total ziarah,
- penempatan pasukan untuk menangkap para peziarah.
Sejarawan besar Syiah, Syaikh al-Mufid dalam al-Irsyad, serta Allamah al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, meriwayatkan bahwa siapa pun yang tertangkap berziarah dapat dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh.
Namun, larangan tersebut tidak pernah berhasil. Para peziarah datang secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, menempuh padang pasir, bahkan menggunakan penunjuk arah alami agar tidak diketahui tentara Abbasiyah.
Hadis-Hadis yang Menguatkan Para Peziarah
Mengapa kaum mukmin tetap datang meskipun nyawa menjadi taruhannya?
Jawabannya terdapat dalam hadis-hadis Ahlulbait.
Imam Muhammad al-Baqir a.s. bersabda:
“Perintahkanlah para pengikut kami untuk menziarahi makam Husain bin Ali. Sesungguhnya meninggalkan ziarah kepada beliau termasuk bentuk kelalaian terhadap hak Rasulullah saw.”
(Kamil al-Ziyarat, bab Fadhl Ziyarat al-Husain).
Dalam riwayat lain, Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. bersabda:
“Barang siapa menziarahi Husain karena mengenal haknya, Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”
(Kamil al-Ziyarat).
Hadis-hadis inilah yang menjadi sumber keteguhan kaum Syiah selama berabad-abad menghadapi tekanan penguasa.
Masa Kesultanan dan Dinasti-Dinasti Islam
Setelah melemahnya Abbasiyah, kondisi ziarah mengalami pasang surut. Pada masa Buwaihiyah (Dinasti Buyid), syiar Asyura dan Arbain kembali memperoleh ruang yang luas. Para penguasa Buyid mendukung pembangunan makam Imam Husain dan memfasilitasi peziarah.
Sebaliknya, pada masa-masa tertentu di bawah sebagian penguasa Seljuk dan Utsmani, pembatasan kembali terjadi, meskipun tidak sekeras era al-Mutawakkil. Faktor keamanan, konflik politik, dan ketegangan mazhab sering kali memengaruhi kebebasan berziarah.
Meskipun demikian, tradisi Arbain tidak pernah benar-benar terputus. Para ulama terus menghidupkannya melalui kitab-kitab doa seperti Misbah al-Mutahajjid karya Syaikh ath-Thusi, al-Iqbal karya Sayyid Ibn Thawus, dan Mafatih al-Jinan karya Syaikh Abbas al-Qummi.
Rezim Saddam Hussein: Larangan di Era Modern
Pelarangan paling keras pada zaman modern terjadi di bawah rezim Ba’ath pimpinan Saddam Hussein.
Setelah tahun 1977, pemerintah Irak melarang secara total prosesi jalan kaki Najaf–Karbala. Larangan ini muncul setelah ribuan peziarah tetap berjalan menuju Karbala meskipun telah diperingatkan aparat keamanan.
Demonstrasi damai tersebut kemudian dikenal sebagai Intifadah Safar.
Ratusan peziarah ditangkap. Banyak ulama dipenjara, sementara sejumlah peserta dieksekusi. Di bawah pemerintahan Saddam, berjalan kaki menuju Arbain dianggap sebagai tindakan subversif terhadap negara.
Pos-pos militer didirikan di sepanjang jalan Najaf–Karbala. Para peziarah yang tertangkap dapat dipenjara selama bertahun-tahun, disiksa, bahkan dihukum mati.
Meski demikian, sebagian masyarakat Irak tetap berziarah secara diam-diam. Mereka berjalan melewati kebun kurma pada malam hari, menghindari jalan raya, bahkan menyembunyikan pakaian ihram atau perlengkapan ziarah agar tidak dicurigai aparat.
Banyak keluarga Syiah Irak masih menyimpan kisah anggota keluarganya yang dipenjara atau gugur karena mempertahankan tradisi Arbain.
Kebangkitan Arbain Pasca-2003
Jatuhnya rezim Saddam Hussein pada tahun 2003 menjadi titik balik sejarah Arbain.
Larangan yang telah berlangsung puluhan tahun berakhir. Jalan Najaf–Karbala kembali dipenuhi peziarah. Dalam waktu singkat, jumlah peserta Arbain meningkat dari ratusan ribu menjadi puluhan juta orang.
Kini, Arbain dikenal sebagai salah satu pertemuan tahunan terbesar di dunia. Puluhan juta peziarah datang dari Irak, Iran, Lebanon, Pakistan, India, Afghanistan, Teluk, Eropa, Afrika, Asia Tenggara, hingga Amerika.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penindasan selama lebih dari seribu tahun justru memperkuat ikatan spiritual umat kepada Imam Husain.
Pandangan Ulama Kontemporer
Imam Khomeini menegaskan bahwa Karbala adalah sekolah kebangkitan umat. Menurut beliau, selama nama Imam Husain tetap hidup di tengah masyarakat, Islam akan selalu memiliki kekuatan untuk melawan tirani.
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyebut Arbain sebagai “media terbesar penyebaran budaya Ahlulbait.” Menurut beliau, jutaan manusia yang berjalan tanpa komando politik merupakan mukjizat sosial yang lahir dari kecintaan kepada Imam Husain.
Sementara itu, Ayatullah Sayyid Ali al-Sistani menekankan bahwa Arbain bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan pendidikan akhlak. Beliau berulang kali mengingatkan agar para peziarah menjaga salat, menghormati sesama, membantu orang lain, dan menjadikan perjalanan menuju Karbala sebagai sarana penyucian jiwa.
Penutup
Sejarah pelarangan ziarah Arbain membuktikan bahwa para penguasa tiran memahami satu kenyataan: Karbala bukan sekadar sebuah makam, melainkan simbol perlawanan terhadap kezaliman. Karena itulah mereka berusaha menghancurkan makam, membatasi perjalanan, dan menebarkan ketakutan.
Namun, sejarah justru menunjukkan kebalikannya. Semakin keras larangan diberlakukan, semakin luas pula syiar Imam Husain menyebar ke seluruh dunia. Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari yang berjalan seorang diri menuju Karbala hingga puluhan juta peziarah yang memenuhi jalan Najaf–Karbala pada masa kini, Arbain menjadi bukti bahwa cinta kepada Ahlulbait tidak dapat dipadamkan oleh pedang, penjara, ataupun kekuasaan.
Sebagaimana diyakini oleh para pecinta Ahlulbait, cahaya Karbala akan terus bersinar sepanjang sejarah, menghidupkan semangat keadilan, pengorbanan, dan kesetiaan kepada Allah melalui jalan yang telah ditunjukkan oleh Sayyidusy Syuhada, Imam Husain bin Ali a.s.