Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Jabir bin Abdullah al-Anshari: Peziarah Pertama Arbain dan Sahabat Nabi yang Menjaga Warisan Ahlulbait

“Ya Husain… Ya Husain…”

Dengan tubuh renta dan mata yang telah kehilangan cahaya, seorang lelaki tua meraba gundukan tanah di hadapannya. Tangannya bergetar ketika menyentuh pusara cucu Rasulullah saw. Tangisnya pecah hingga ia jatuh tak sadarkan diri. Dialah Jabir bin Abdullah al-Anshari, sahabat agung Rasulullah saw. yang menjadi manusia pertama menziarahi makam Imam Husain a.s. pada hari Arbain, empat puluh hari setelah tragedi Karbala. Perjalanan itu bukan sekadar ziarah, melainkan awal dari sebuah tradisi agung yang terus hidup hingga kini dan diikuti puluhan juta pecinta Ahlulbait setiap tahunnya. (Bisyārat al-Muṣṭafā, hlm. 74–77; Bihār al-Anwār, jil. 98, hlm. 329–331).

Sahabat Nabi yang Hidup Bersama Cahaya Kenabian

Jabir bin Abdullah bin Amr al-Anshari berasal dari kabilah Khazraj di Madinah. Ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram, termasuk sahabat Rasulullah saw. yang gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud. Sejak kecil Jabir tumbuh dalam keluarga yang mencintai Islam dan rela berkorban demi agama Allah. Setelah ayahnya syahid, Rasulullah saw. memberikan perhatian khusus kepada Jabir dan keluarganya, bahkan membantu menyelesaikan persoalan hutang yang ditinggalkan ayahnya. Kedekatan inilah yang menjadikan Jabir termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan sabda Nabi. (al-Irsyād, Syaikh al-Mufid, jil. 2; Rijāl al-Kashshī, hlm. 52–54; Bihār al-Anwār, jil. 22).

Dalam literatur Syiah, Jabir dipandang sebagai sahabat yang tidak hanya meriwayatkan hadis, tetapi juga menjaga wasiat Rasulullah mengenai Ahlulbait. Ia termasuk saksi peristiwa Ghadir Khum dan meriwayatkan sabda Nabi tentang wilayah Amirul Mukminin Imam Ali a.s. Selain itu, Jabir adalah perawi Hadis Lauh, yaitu riwayat tentang papan bercahaya yang berada di rumah Sayidah Fatimah az-Zahra a.s. dan memuat nama-nama dua belas Imam. Riwayat tersebut kemudian dicatat oleh Syaikh al-Kulaini dalam al-Kāfī dan menjadi salah satu dalil penting mengenai kesinambungan Imamah. (al-Kāfī, jil. 1, Bab al-Nash ‘ala al-A’immah; Basā’ir al-Darajāt, hlm. 152–156).

Mengapa Jabir Tidak Berada di Karbala?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika Jabir begitu mencintai Imam Husain a.s., mengapa ia tidak hadir membela beliau di Karbala?

Literatur Syiah tidak pernah menyebut bahwa Jabir berpaling dari Imam Husain atau sengaja meninggalkan beliau. Sebaliknya, para ulama menjelaskan bahwa pada tahun 61 H Jabir telah berusia sekitar sembilan puluh tahun. Penglihatannya telah hilang dan kondisi fisiknya sangat lemah. Dalam keadaan seperti itu, mustahil baginya menempuh perjalanan panjang dari Madinah menuju Irak untuk bergabung dengan Imam Husain. Karena itulah, ketiadaannya di Karbala dipahami sebagai uzur yang nyata, bukan bentuk kelalaian atau pengkhianatan. (Bihār al-Anwār, jil. 46, hlm. 107; Rijāl al-Kashshī, hlm. 52; al-Irsyād, jil. 2).

Justru karena tidak mampu hadir di Karbala, Jabir merasakan penyesalan yang mendalam. Ketika mendengar kabar gugurnya Imam Husain beserta keluarga dan para sahabatnya, kesedihan itu terus menyertainya hingga ia memutuskan melakukan perjalanan menuju Karbala pada hari keempat puluh setelah Asyura. Perjalanan tersebut menjadi bentuk kesetiaan terakhir yang dapat ia persembahkan kepada cucu Rasulullah saw. (Bisyārat al-Muṣṭafā, hlm. 74–77; Bihār al-Anwār, jil. 98, hlm. 329).

Peziarah Pertama Arbain

Pada tanggal 20 Safar 61 H, Jabir berangkat menuju Karbala bersama muridnya, ‘Athiyyah al-‘Aufi. Setibanya di tepi Sungai Efrat, Jabir meminta dituntun menuju air. Ia mandi, mengenakan pakaian yang bersih, memakai wewangian, lalu berjalan perlahan menuju makam Imam Husain sambil berzikir kepada Allah.

Ketika sampai di sisi pusara, ia berkata kepada ‘Athiyyah:

“Letakkan tanganku di atas makam Husain.”

Begitu tangannya menyentuh tanah makam, ia berseru:

“Ya Husain… Ya Husain…”

Tangisnya pecah hingga tubuhnya lemas dan jatuh pingsan. Setelah sadar, ia mengucapkan salam:

“Assalamu ‘alaikum ya āla Allāh, assalamu ‘alaikum ya ṣafwata Allāh…”

Kemudian ia berkata kepada para syuhada:

“Aku bersaksi bahwa kalian menegakkan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf, mencegah yang mungkar, berjihad melawan kaum musyrik hingga keyakinan datang kepada kalian.”

Peristiwa inilah yang menjadi asal-usul tradisi ziarah Arbain dalam sejarah Syiah Imamiyah. (Bisyārat al-Muṣṭafā, hlm. 74–77; Bihār al-Anwār, jil. 98, hlm. 329–331; Kāmil al-Ziyārāt, Bab Fadhl Ziyārat al-Husain).

Pertemuan Mengharukan dengan Imam Zainal Abidin a.s.

Tidak lama setelah Jabir berziarah, datanglah rombongan Ahlulbait yang dipimpin oleh Imam Ali Zainal Abidin a.s. bersama para wanita keluarga Rasulullah. Ketika mendengar suara Imam, Jabir berdiri meskipun tubuhnya telah renta dan matanya buta. Ia memeluk Imam sambil menangis tersedu-sedu.

Jabir berkata:

“Wahai putra Rasulullah, semoga Allah melipatgandakan pahala kalian atas musibah yang tiada bandingnya ini.”

Imam Sajjad a.s. menjawab dengan penuh kesabaran, menceritakan bagaimana ayahnya dibunuh dengan kejam, bagaimana kepala-kepala para syuhada diarak di atas tombak, dan bagaimana para perempuan Ahlulbait digiring sebagai tawanan dari Kufah hingga Syam. Mendengar kisah itu, Jabir kembali menangis dan memohon kepada Allah agar membangkitkannya bersama Imam Husain dan para syuhada Karbala. Pertemuan itu menjadi simbol bersatunya duka para sahabat Nabi dengan keluarga Rasulullah serta mengabadikan hari Arbain sebagai hari kesetiaan kepada Ahlulbait. (Bisyārat al-Muṣṭafā, hlm. 77–80; Bihār al-Anwār, jil. 45, hlm. 146–148; al-Luhūf, Sayyid Ibn Thawus).

Amanat Rasulullah kepada Imam al-Baqir

Keutamaan Jabir tidak berhenti pada peristiwa Arbain. Bertahun-tahun sebelumnya Rasulullah saw. pernah bersabda kepadanya:

“Wahai Jabir, engkau akan hidup hingga bertemu seorang anak dari keturunanku yang bernama Muhammad bin Ali. Ia akan membelah ilmu sebagaimana tanah dibelah. Apabila engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya.” (al-Kāfī, jil. 1, Bab Mawlid Abī Ja’far; al-Irsyād, jil. 2; Basā’ir al-Darajāt).

Puluhan tahun kemudian, ketika Imam Muhammad al-Baqir a.s. masih belia, Jabir datang ke rumah beliau. Setelah memastikan bahwa anak itu adalah Muhammad bin Ali, ia mencium kepala dan kedua tangan Imam seraya berkata:

“Wahai putra Rasulullah, kakekmu Rasulullah menyampaikan salam kepadamu.”

Imam al-Baqir a.s. menjawab:

“Salam atas Rasulullah selama langit dan bumi masih ada. Salam pula atasmu wahai Jabir, karena engkau telah menyampaikan amanah beliau.” (al-Kāfī, jil. 1; al-Irsyād, jil. 2; Bihār al-Anwār, jil. 46).

Peristiwa ini memiliki makna yang sangat dalam. Jabir menjadi saksi hidup yang menghubungkan masa kenabian dengan masa Imamah. Di tangannya tersampaikan amanat Rasulullah kepada Imam kelima, sebuah kehormatan yang tidak dimiliki sahabat lain.

Akhir Hayat Sang Peziarah Pertama

Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, Jabir telah kehilangan penglihatan sepenuhnya. Meski demikian, ia tetap mengajarkan hadis-hadis Rasulullah dan keutamaan Ahlulbait kepada generasi tabi’in. Para ulama rijal Syiah seperti al-Kashshi, al-Najasyi, dan Syaikh ath-Thusi sepakat menilainya sebagai perawi yang tsiqah, jujur, dan memiliki kedudukan yang agung di sisi Ahlulbait. (Rijāl al-Kashshī, hlm. 52–55; Rijāl al-Najāshī, hlm. 128; Fihrist ath-Thusi).

Jabir wafat di Madinah sekitar tahun 78 Hijriah dalam usia lebih dari sembilan puluh tahun. Ia wafat secara alami, bukan sebagai syahid. Namun, kehidupannya telah menjadi saksi perjalanan luar biasa: menyertai Rasulullah saw., mengenal Amirul Mukminin Imam Ali a.s., mencintai Imam Hasan dan Imam Husain a.s., bertemu Imam Zainal Abidin a.s., serta menyampaikan salam Rasulullah kepada Imam Muhammad al-Baqir a.s. Tidak banyak manusia dalam sejarah Islam yang memperoleh kemuliaan demikian. (Bihār al-Anwār, jil. 46; Rijāl al-Kashshī; al-Irsyād).

Warisan yang Tak Pernah Padam

Nama Jabir bin Abdullah al-Anshari akan selalu dikenang sebagai peletak tradisi ziarah Arbain. Ketika usia renta dan kebutaan menghalanginya mengangkat pedang bersama Imam Husain, ia memilih menempuh perjalanan menuju Karbala sebagai ungkapan kesetiaan yang tak pernah pudar. Dari langkah-langkah seorang sahabat tua itulah lahir sebuah syiar yang kini diikuti jutaan pecinta Ahlulbait dari seluruh dunia setiap tahun.

Kisah Jabir mengajarkan bahwa nilai seorang mukmin tidak hanya diukur dari kemampuannya hadir di medan jihad, tetapi juga dari keteguhannya menjaga janji kepada Allah dan hujjah-Nya hingga akhir hayat. Oleh sebab itu, setiap langkah peziarah Arbain pada hakikatnya adalah melanjutkan langkah pertama yang pernah ditempuh oleh Jabir bin Abdullah al-Anshari menuju pusara Sayyidusy Syuhada, Imam Husain bin Ali a.s. (Kāmil al-Ziyārāt, Bab Fadhl Ziyārat al-Husain; Bihār al-Anwār, jil. 98; Bisyārat al-Muṣṭafā).

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT