Di antara seluruh tradisi ziarah dalam Islam, Arba’in Imam Husain a.s. menempati kedudukan yang sangat istimewa. Setiap tanggal 20 Safar, tepat empat puluh hari setelah tragedi Asyura, jutaan pecinta Ahlulbait dari berbagai penjuru dunia memadati Karbala. Fenomena ini bukan sekadar pertemuan keagamaan terbesar di dunia, melainkan perwujudan kesetiaan terhadap risalah Nabi Muhammad saw. yang diwariskan melalui pengorbanan Imam Husain a.s.
Dalam perspektif Syiah Imamiyah, Arbain bukan hanya momentum mengenang kesyahidan cucu Rasulullah saw., tetapi juga sarana memperbarui baiat kepada jalan kebenaran, keadilan, dan perjuangan melawan kezaliman. Karena itu, para Imam Ahlulbait memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ziarah Arbain hingga menjadikannya salah satu syiar utama kaum mukmin.
Sejarah Arbain
Kata Arba’in berarti “empat puluh”. Dalam tradisi Islam, angka empat puluh memiliki makna spiritual yang mendalam. Nabi Musa a.s. bermunajat selama empat puluh malam di Bukit Sinai, Nabi Muhammad saw. diangkat menjadi rasul pada usia empat puluh tahun, dan berbagai riwayat menunjukkan bahwa empat puluh hari merupakan masa penyempurnaan ruhani seseorang.
Arbain Imam Husain diperingati pada tanggal 20 Safar tahun 61 H, yaitu empat puluh hari setelah kesyahidan beliau di Karbala pada 10 Muharam.
Menurut riwayat yang masyhur di kalangan ulama Syiah, peziarah pertama makam Imam Husain adalah sahabat agung Nabi saw., Jabir bin Abdullah al-Anshari. Meski telah lanjut usia dan kehilangan penglihatan, beliau menempuh perjalanan menuju Karbala bersama muridnya, ‘Athiyyah al-‘Aufi. Sesampainya di makam Imam Husain, Jabir memanggil nama beliau dengan penuh haru lalu jatuh pingsan karena kesedihan. Peristiwa inilah yang dipandang sebagai ziarah Arbain pertama dalam sejarah.
Sebagian riwayat klasik juga menyebutkan bahwa rombongan tawanan Ahlulbait yang dipimpin Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan Sayidah Zainab s.a. singgah di Karbala pada hari Arbain ketika kembali dari Syam menuju Madinah. Riwayat ini diterima oleh sejumlah ulama seperti Sayyid Ibn Thawus dalam al-Luhuf, meskipun sebagian ulama lain memandangnya sebagai persoalan historis yang masih diperdebatkan. Namun, seluruh ulama sepakat bahwa tanggal 20 Safar merupakan hari ziarah Imam Husain yang memiliki keutamaan khusus.
Ziarah Arbain sebagai Tanda Keimanan
Keutamaan terbesar Arbain terdapat dalam hadis masyhur dari Imam Hasan al-Askari a.s.:
“Tanda-tanda seorang mukmin ada lima: mengerjakan salat lima puluh satu rakaat, berziarah Arbain, memakai cincin di tangan kanan, meletakkan dahi di atas tanah ketika sujud, dan mengeraskan bacaan Bismillahirrahmanirrahim.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Syaikh ath-Thusi dalam Tahdzib al-Ahkam dan Misbah al-Mutahajjid, kemudian dinukil oleh para ulama setelahnya hingga menjadi salah satu hadis paling terkenal mengenai Arbain.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ziarah Arbain bukan sekadar amalan mustahab biasa, melainkan termasuk identitas spiritual seorang mukmin. Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan ziarah Arbain bersama salat, sujud di atas tanah, dan syiar-syiar ibadah lainnya menunjukkan bahwa kecintaan kepada Imam Husain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesempurnaan iman.
Keutamaan Arbain Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq a.s.
Salah satu sumber utama mengenai Arbain adalah Ziarah Arbain yang diajarkan Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. kepada Safwan al-Jammal. Doa ini diriwayatkan oleh Syaikh ath-Thusi dan kemudian dicantumkan oleh Syaikh Abbas al-Qummi dalam Mafatih al-Jinan.
Dalam ziarah tersebut Imam Husain digambarkan sebagai:
“…hamba pilihan Allah, kekasih-Nya, serta orang yang telah mengorbankan darahnya demi menyelamatkan manusia dari kebodohan, kesesatan, dan kebingungan.”
Ungkapan ini memperlihatkan bahwa syahadah Imam Husain bukan sekadar tragedi sejarah, melainkan pengorbanan kosmis demi menjaga agama dari penyimpangan.
Pandangan Ulama Klasik
1. Syaikh al-Mufid (w. 413 H)
Dalam al-Mazar, beliau memasukkan ziarah Imam Husain pada hari Arbain sebagai salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Menurut beliau, hari tersebut memiliki kekhususan tersendiri karena merupakan puncak masa berkabung atas Sayyidusy Syuhada.
2. Syaikh ath-Thusi (w. 460 H)
Ath-Thusi memberikan perhatian besar terhadap Arbain dengan meriwayatkan hadis Imam Hasan al-Askari serta teks lengkap Ziarah Arbain dalam Misbah al-Mutahajjid dan Tahdzib al-Ahkam. Periwayatan beliau menjadi rujukan utama generasi-generasi ulama setelahnya.
3. Ibn Qulawayh (w. 368 H)
Dalam kitab monumental Kamil al-Ziyarat, Ibn Qulawayh menghimpun ratusan hadis mengenai keutamaan ziarah Imam Husain. Meskipun pembahasan khusus tentang Arbain belum tersusun sebagai bab tersendiri, kitab ini menjadi fondasi utama seluruh literatur Syiah mengenai pahala dan kedudukan ziarah Imam Husain.
4. Allamah al-Majlisi (w. 1111 H)
Dalam Bihar al-Anwar, beliau mengumpulkan berbagai riwayat mengenai Asyura, Arbain, perjalanan Ahlulbait, serta keutamaan berziarah. Menurut al-Majlisi, menjaga syiar Husaini merupakan salah satu cara mempertahankan agama dari kepunahan.
Pandangan Ulama Kontemporer
Imam Khomeini
Imam Khomeini memandang bahwa setiap langkah menuju Karbala merupakan deklarasi penolakan terhadap seluruh bentuk kezaliman. Menurut beliau, selama semangat al-Husain a.s. hidup di tengah umat, Islam tidak akan pernah dapat dihancurkan oleh kekuatan apa pun.
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Almarhum Pemimpin Revolusi Islam Iran berulang kali menyatakan bahwa ziarah Arbain merupakan media kebangkitan spiritual umat Islam. Beliau menilai jutaan manusia yang berjalan menuju Karbala tanpa komando politik merupakan bukti bahwa kecintaan kepada Imam Husain mampu menyatukan bangsa, bahasa, dan mazhab dalam satu poros ketakwaan.
Ayatullah Sayyid Ali al-Sistani
Marja’ Agung Irak ini secara konsisten mendorong kaum mukmin untuk menjaga akhlak selama perjalanan Arbain. Beliau menekankan bahwa pelayanan kepada para peziarah (khidmah) merupakan ibadah besar yang nilainya tidak kalah dengan ziarah itu sendiri.
Hikmah Berjalan Kaki Menuju Karbala
Tradisi berjalan kaki menuju Karbala telah dikenal sejak masa Jabir bin Abdullah al-Anshari dan terus dipelihara sepanjang sejarah, meskipun pernah mengalami pembatasan keras pada masa Bani Umayyah, Abbasiyah, hingga rezim Ba’ath Saddam Hussein. Setelah tumbangnya rezim tersebut, tradisi ini kembali berkembang hingga menjadi salah satu perjalanan keagamaan terbesar di dunia.
Para ulama menjelaskan bahwa berjalan kaki memiliki makna tarbiah ruhani. Setiap langkah merupakan latihan kesabaran, pengorbanan, kerendahan hati, serta pelepasan diri dari kenyamanan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah melalui kecintaan kepada wali-Nya.
Dalam berbagai riwayat Ahlulbait disebutkan bahwa setiap langkah peziarah dicatat sebagai kebaikan, menghapus dosa, serta mengangkat derajat di sisi Allah. Riwayat-riwayat semacam ini banyak dihimpun dalam Kamil al-Ziyarat karya Ibn Qulawayh, yang oleh para ulama Imamiyah dipandang sebagai salah satu sumber primer tentang fadilah ziarah Imam Husain.
Arbain sebagai Peradaban Cinta
Arbain bukan sekadar ritual mengenang masa lalu. Ia adalah peradaban yang dibangun di atas cinta, pelayanan, dan solidaritas. Selama perjalanan menuju Karbala, jutaan manusia saling melayani tanpa membedakan bangsa, bahasa, warna kulit, ataupun status sosial. Rumah-rumah dibuka untuk orang asing, makanan dibagikan tanpa pamrih, dan seluruh pelayanan diberikan semata-mata sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Husain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pesan Karbala tidak berhenti pada ratapan, tetapi melahirkan masyarakat yang dibangun atas dasar kasih sayang dan pengorbanan. Karena itu, Arbain merupakan bukti hidup bahwa ajaran Ahlulbait mampu melahirkan peradaban spiritual yang mengedepankan persaudaraan dan kemanusiaan.
Penutup
Ziarah Arbain merupakan salah satu syiar terbesar dalam tradisi Syiah Imamiyah. Sejarahnya berakar pada kecintaan para sahabat Nabi kepada Imam Husain, diteguhkan oleh hadis-hadis para Imam Maksum, dipelihara oleh para ulama klasik, dan terus dihidupkan oleh para marja’ kontemporer hingga hari ini.
Lebih dari sekadar perjalanan fisik, Arbain adalah perjalanan ruhani menuju Allah melalui kecintaan kepada hujjah-Nya. Setiap langkah menuju Karbala mengingatkan bahwa perjuangan Imam Husain bukan hanya peristiwa sejarah tahun 61 Hijriah, melainkan misi abadi untuk menjaga kemurnian Islam, menegakkan keadilan, dan menolak segala bentuk kezaliman. Selama semangat Arbain tetap hidup, pesan Karbala akan terus menerangi hati umat manusia dan menjadi saksi bahwa darah para syuhada tidak pernah tertumpah sia-sia.