Meneladani Nabi Bukan Sekadar Mengagumi
Setiap Muslim mengakui bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia paling sempurna yang pernah hadir di muka bumi. Kita mencintai beliau, bershalawat kepada beliau, dan menyebut nama beliau dengan penuh penghormatan. Namun, Al-Qur’an tidak berhenti pada perintah untuk mencintai Rasulullah. Al-Qur’an menghendaki sesuatu yang lebih jauh: menjadikan beliau sebagai teladan hidup.
Allah Swt berfirman:
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah, hari akhir, dan banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat ini sering dibaca sebagai perintah umum untuk mengikuti Nabi. Akan tetapi, jika dicermati lebih dalam, ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang keteladanan Rasulullah, melainkan juga menjelaskan siapa yang benar-benar mampu mengambil manfaat dari keteladanan itu.
Dalam Tafsir Al-Mizan karya Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, ayat ini menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dalam meneladani Rasulullah sangat ditentukan oleh orientasi spiritual yang dimilikinya. Rasulullah adalah teladan bagi semua manusia, tetapi hanya orang-orang dengan kesiapan ruhani tertentu yang mampu menjadikan beliau sebagai model kehidupan.
Al-Qur’an menyebut tiga kriteria tersebut secara eksplisit: mengharap Allah, mengharap hari akhir, dan banyak mengingat Allah.
Mengharap Allah: Orientasi Tertinggi Kehidupan
Kriteria pertama adalah yarjullāh (mengharap Allah).
Dalam pandangan Al-Qur’an, harapan bukan sekadar keinginan pasif. Harapan adalah arah hidup. Seseorang yang mengharapkan Allah berarti menjadikan keridaan-Nya sebagai tujuan utama seluruh aktivitasnya. Ia tidak menimbang amal berdasarkan keuntungan duniawi semata, melainkan berdasarkan kedekatannya kepada Allah.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara orang yang hanya mengagumi Nabi dan orang yang benar-benar meneladani beliau.
Banyak orang mengagumi keberanian Rasulullah saw, kejujuran beliau, atau kecerdasan beliau dalam memimpin masyarakat. Namun kekaguman semata belum tentu melahirkan keteladanan. Keteladanan lahir ketika seseorang memahami bahwa seluruh tindakan Nabi bersumber dari orientasi tauhid yang murni.
Dalam literatur Ahlulbait as, Rasulullah digambarkan sebagai manusia yang seluruh keberadaannya terarah kepada Allah. Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah berulang kali menggambarkan Nabi sebagai sosok yang berpaling dari gemerlap dunia dan mengarahkan manusia menuju Tuhan. Bahkan Imam Ali as menyatakan bahwa beliau mengikuti Rasulullah sebagaimana anak unta mengikuti induknya, dan setiap hari Nabi menunjukkan kepadanya satu bagian dari akhlak mulia untuk diteladani.
Karena itu, seseorang tidak akan mampu meneladani Nabi secara utuh apabila orientasi hidupnya masih didominasi kepentingan duniawi. Meneladani Nabi berarti belajar melihat dunia sebagaimana Nabi melihatnya: sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan akhir.
Mengharap Hari Akhir: Perspektif yang Mengubah Segalanya
Kriteria kedua adalah mengharap hari akhir.
Dalam banyak ayat Al-Qur’an, iman kepada akhirat selalu dikaitkan dengan pembentukan karakter manusia. Hal ini karena keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian mengubah cara seseorang memandang seluruh realitas hidup.
Orang yang meyakini akhirat tidak menilai keberhasilan berdasarkan ukuran sesaat. Ia memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah satu fase dalam perjalanan yang lebih panjang.
Nabi Muhammad saw merupakan contoh sempurna dari orientasi akhirat ini. Seluruh perjuangan beliau—baik ketika dihina di Makkah, diboikot oleh kaum Quraisy, maupun menghadapi berbagai peperangan—dilandasi oleh keyakinan yang kokoh terhadap janji Allah dan kehidupan akhirat.
Dalam tafsir ayat Al-Ahzab ini dijelaskan bahwa Rasulullah menjadi teladan terutama dalam situasi-situasi sulit. Ayat tersebut turun dalam konteks Perang Ahzab, ketika kaum Muslim berada dalam tekanan yang sangat berat. Pada saat sebagian orang mulai dilanda ketakutan, Rasulullah tetap teguh, sabar, dan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah.
Keteguhan itu lahir karena beliau melihat realitas melampaui dunia yang tampak. Beliau melihat akhirat.
Dalam perspektif Ahlulbait as, salah satu penyebab utama kegagalan manusia dalam mengikuti jalan para nabi adalah dominasi pandangan duniawi. Ketika dunia menjadi tujuan utama, maka pengorbanan Nabi akan tampak berat dan sulit diteladani. Namun ketika akhirat menjadi tujuan, seluruh pengorbanan Nabi menjadi masuk akal dan bahkan terasa indah.
Karena itu, Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa Rasulullah adalah teladan bagi semua orang secara otomatis. Rasulullah adalah teladan bagi mereka yang mengharapkan hari akhir, yakni mereka yang melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih luas daripada sekadar keuntungan duniawi.
Banyak Mengingat Allah: Fondasi Keteladanan
Kriteria ketiga adalah banyak mengingat Allah (dzakarallāha katsīrā).
Ini merupakan syarat yang sering kali dilupakan.
Banyak orang ingin memiliki akhlak Nabi, tetapi tidak ingin menempuh jalan spiritual yang ditempuh Nabi. Padahal akhlak Rasulullah merupakan buah dari hubungan yang sangat mendalam dengan Allah.
Dalam tradisi Syiah, zikir bukan sekadar aktivitas lisan. Zikir adalah kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah dalam seluruh dimensi kehidupan. Seseorang yang selalu mengingat Allah akan lebih mudah mengendalikan hawa nafsu, menjaga niat, dan mempertahankan integritas moralnya.
Sebaliknya, ketika hati lalai dari Allah, manusia mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat.
Imam Ali as menegaskan bahwa seluruh kesempurnaan manusia berawal dari hubungan yang benar dengan Allah. Karena itu, tidak mengherankan apabila Al-Qur’an menjadikan banyak berzikir sebagai salah satu syarat utama untuk meneladani Rasulullah. Tanpa hubungan spiritual yang kuat, keteladanan Nabi hanya akan menjadi slogan yang indah tetapi sulit diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dalam kehidupan Rasulullah sendiri, zikir bukanlah aktivitas yang terpisah dari kehidupan sosial. Beliau berzikir ketika beribadah, ketika memimpin masyarakat, ketika berperang, bahkan ketika menghadapi musuh-musuhnya. Seluruh hidup beliau merupakan manifestasi dari kesadaran ilahiah yang terus-menerus.
Cara Pandang yang Benar terhadap Nabi
Tiga kriteria yang disebutkan Al-Qur’an sesungguhnya membentuk satu kerangka pandang yang utuh.
Mengharap Allah memberikan arah hidup.
Mengharap akhirat memberikan perspektif hidup.
Banyak mengingat Allah memberikan kekuatan hidup.
Ketiganya menjadi fondasi yang memungkinkan seseorang memahami Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya.
Dalam pandangan mazhab Ahlulbait, masalah terbesar umat bukanlah kurangnya informasi tentang Nabi, melainkan sering kali kurang tepatnya cara memandang Nabi. Sebagian melihat beliau hanya sebagai tokoh sejarah, sebagian sebagai pemimpin politik, sebagian lagi hanya sebagai figur spiritual. Padahal Rasulullah adalah manifestasi sempurna dari penghambaan kepada Allah.
Karena itu, semakin benar cara pandang seseorang terhadap Rasulullah, semakin dekat ia kepada jalan lurus yang dibawa beliau. Sebaliknya, kesalahan dalam memandang Nabi akan berujung pada kesalahan dalam memahami agama itu sendiri.
Al-Qur’an telah memberikan petunjuk yang sangat jelas. Jika kita ingin menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai teladan dalam arti yang sesungguhnya, maka kita harus membangun tiga kualitas yang disebutkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21: mengharap Allah, mengharap hari akhir, dan memperbanyak zikir kepada-Nya.
Dengan tiga bekal inilah keteladanan Rasulullah tidak lagi berhenti sebagai konsep yang dikagumi, melainkan berubah menjadi jalan hidup yang nyata.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Ahzab [33]: 21.
- Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, tafsir QS. Al-Ahzab: 21.
- Nahjul Balaghah, khususnya Khutbah 192 (Al-Qashi’ah) dan Surat 45.
- Mustafa Assel & Rasul Bahnam, “A Study of the Educational Conduct of Prophet Muhammad in Nahj Al-Balagha,” Kufa Journal of Arts (2022).
- Murtadha Muthahhari, Insan Kamil dan berbagai kajian tentang keteladanan Rasulullah dalam perspektif Ahlulbait.