Kajian Al-Qur’an dan Nahjul Balaghah tentang Ujian Sejarah
Setiap kali menyaksikan kezaliman merajalela, korupsi menggurita, peperangan berkecamuk, atau para penguasa yang tampak kebal dari hukuman, pertanyaan yang sama sering muncul di benak manusia: Jika Allah Maha Adil, mengapa Dia membiarkan orang-orang zalim berkuasa?
Pertanyaan ini bukan hanya milik manusia modern. Sejak dahulu, para nabi, orang-orang saleh, dan kaum beriman juga menghadapi kegelisahan yang sama. Mereka menyaksikan Fir’aun menguasai Mesir, Namrud memerintah dengan tangan besi, Bani Umayyah mengubah kekhalifahan menjadi kerajaan, dan para tiran silih berganti mengendalikan nasib manusia. Namun Al-Qur’an dan Ahlulbait mengajarkan bahwa sejarah tidak pernah berjalan tanpa hikmah. Di balik kekuasaan para zalim terdapat ujian besar yang menentukan arah kehidupan manusia dan nasib sebuah masyarakat.
Kezaliman Bukan Tanda Kemenangan
Kesalahan yang sering dilakukan manusia adalah menganggap kekuasaan sebagai bukti kebenaran. Ketika seseorang memiliki tentara, kekayaan, media, atau pengaruh besar, banyak orang mengira bahwa ia pasti berada di pihak yang benar. Padahal Al-Qur’an berulang kali membantah cara berpikir semacam itu.
Fir’aun adalah contoh paling jelas. Ia menguasai negeri yang kuat, memiliki pasukan besar, dan mampu mengendalikan kehidupan rakyatnya. Namun kekuasaannya tidak pernah menjadi bukti bahwa ia diridai Allah. Sebaliknya, Al-Qur’an menjadikannya simbol kesombongan dan kezaliman sepanjang zaman.
Allah berfirman:
“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan orang zalim di panggung kekuasaan bukan berarti Allah tidak mengetahui atau tidak peduli. Yang terjadi adalah Allah memberi waktu. Dalam bahasa Al-Qur’an, penundaan bukanlah pembiaran, melainkan bagian dari sunnatullah dalam sejarah.
Dunia Adalah Arena Ujian, Bukan Tempat Penghakiman Akhir
Untuk memahami mengapa orang zalim bisa berkuasa, kita harus memahami hakikat dunia menurut Al-Qur’an.
Banyak manusia secara tidak sadar memperlakukan dunia seolah-olah ia adalah tempat akhir segala sesuatu. Mereka berharap seluruh keadilan harus terwujud di sini dan sekarang. Ketika melihat kenyataan yang berbeda, mereka mulai meragukan kebijaksanaan Tuhan.
Padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa dunia adalah medan ujian.
Allah berfirman:
“Dia yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Jika dunia adalah ruang ujian, maka keberadaan orang baik dan orang jahat, keadilan dan kezaliman, merupakan bagian dari mekanisme ujian tersebut. Tanpa pilihan, tanpa tantangan, dan tanpa godaan, tidak ada makna bagi kebebasan manusia.
Dalam perspektif ini, keberadaan penguasa zalim bukan hanya ujian bagi dirinya sendiri, tetapi juga ujian bagi masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya. Apakah mereka akan diam? Apakah mereka akan berkompromi? Apakah mereka akan menjual prinsip demi kenyamanan? Ataukah mereka akan berdiri membela kebenaran meski harus menanggung risiko?
Imam Ali dan Ujian Kekuasaan
Nahjul Balaghah memberikan perspektif yang sangat mendalam tentang fenomena ini. Imam Ali a.s. menjelaskan bahwa kekuasaan bukanlah kemuliaan pada dirinya sendiri. Kekuasaan hanyalah amanah yang dapat menjadi jalan menuju keselamatan atau kehancuran.
Dalam salah satu khutbahnya, Imam Ali menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang menipu banyak manusia. Mereka melihat kilau kekuasaan, tetapi tidak melihat tanggung jawab dan hisab yang menyertainya.
Beliau berkata:
“Sesungguhnya dunia adalah rumah yang dikelilingi ujian dan dikenal dengan tipu dayanya.”
Karena itu, seseorang tidak dapat diukur dari seberapa tinggi jabatannya, tetapi dari bagaimana ia menggunakan kekuasaan tersebut. Dalam pandangan Imam Ali, seorang penguasa zalim sesungguhnya sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri meskipun secara lahiriah tampak kuat dan berjaya.
Istidraj: Ketika Kenikmatan Menjadi Jebakan
Salah satu konsep penting dalam Al-Qur’an adalah istidraj, yaitu ketika Allah membiarkan seseorang terus memperoleh kekuasaan, kekayaan, atau keberhasilan, sementara ia semakin tenggelam dalam kesombongan dan dosa.
Allah berfirman:
“Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf: 182)
Dalam pandangan para mufasir, termasuk Allamah Thabathabai dalam Al-Mizan, ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua keberhasilan merupakan tanda keberuntungan. Ada kalanya keberhasilan justru menjadi ujian yang mempercepat kehancuran moral seseorang.
Karena itu, ketika melihat orang zalim memperoleh kekuasaan lebih besar, seorang mukmin tidak serta-merta menyimpulkan bahwa mereka sedang menang. Bisa jadi mereka sedang bergerak menuju titik kehancuran yang telah ditentukan oleh hukum sejarah.
Karbala: Ketika Kebenaran Tampak Kalah
Peristiwa Karbala adalah salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana Allah membiarkan orang zalim berkuasa untuk sementara waktu.
Secara lahiriah, Yazid memiliki seluruh instrumen kekuasaan. Ia memiliki tentara, aparat, propaganda, dan kekuatan politik yang jauh melampaui Imam Husain a.s. Dari sudut pandang duniawi, hasil pertempuran sudah dapat diprediksi.
Namun sejarah menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Yazid memenangkan perang, tetapi kehilangan legitimasi moral. Imam Husain kehilangan nyawa dan keluarganya, tetapi memenangkan hati umat manusia selama berabad-abad.
Karbala mengajarkan bahwa kemenangan dan kekalahan tidak selalu diukur oleh hasil jangka pendek. Dalam banyak kasus, Allah membiarkan kezaliman mencapai puncaknya agar wajah aslinya terlihat jelas di hadapan manusia.
Jika Fir’aun tidak diberi kekuasaan, manusia tidak akan melihat kesombongan yang menghancurkannya. Jika Yazid tidak berkuasa, sejarah tidak akan menyaksikan keberanian Imam Husain dalam bentuk yang paling agung.
Mengapa masyarakat ikut bertanggung jawab?
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang para penguasa zalim. Ia juga berbicara tentang masyarakat yang membiarkan kezaliman tumbuh.
Dalam banyak ayat, Allah menjelaskan bahwa perubahan sosial berkaitan erat dengan perubahan moral masyarakat.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan para zalim sering kali tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari budaya kompromi terhadap kebatilan, ketakutan untuk menyuarakan kebenaran, serta kecenderungan masyarakat mengutamakan kepentingan pribadi di atas keadilan.
Karena itu, pertanyaan “Mengapa Allah membiarkan orang zalim berkuasa?” juga harus diiringi dengan pertanyaan lain yang lebih sulit: “Apa yang telah dilakukan masyarakat sehingga kezaliman memperoleh ruang untuk tumbuh?”
Harapan Selalu Menjadi Bagian dari Sejarah
Meski Al-Qur’an mengakui keberadaan kezaliman, kitab suci itu tidak pernah mengajarkan keputusasaan.
Allah berfirman:
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka pewaris.” (QS. Al-Qashash: 5)
Dalam pandangan Islam, sejarah bukanlah kisah kemenangan para tiran. Sejarah adalah kisah panjang pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, di mana kebatilan sesekali tampak berjaya, tetapi tidak pernah memiliki masa depan yang abadi.
Penutup
Allah tidak membiarkan orang zalim berkuasa karena menyukai kezaliman. Kekuasaan mereka adalah bagian dari ujian sejarah yang mengungkap kualitas manusia, memisahkan para pencari kebenaran dari para pemburu kepentingan, serta memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan sikapnya.
Al-Qur’an dan Nahjul Balaghah mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan bagaimana ia menghadap Allah ketika seluruh kekuasaan itu berakhir. Fir’aun, Namrud, Yazid, dan para tiran lainnya pernah menguasai dunia, tetapi mereka tidak mampu menguasai sejarah.
Pada akhirnya, yang bertahan bukanlah singgasana, melainkan kebenaran yang diperjuangkan dengan kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan kepada Allah. Sebab sejarah boleh berada di tangan para penguasa, tetapi makna sejarah selalu berada di tangan mereka yang membela kebenaran.