Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Hijab Kebodohan yang Menutupi Cahaya Kebenaran

Dalam perjalanan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), keyakinan menempati kedudukan yang sangat mendasar. Ia bukan sekadar pengakuan lisan terhadap kebenaran, melainkan kemantapan hati yang lahir dari pengetahuan dan pengenalan mendalam kepada Allah, hari akhir, serta ajaran para Imam Suci Ahlulbait. Keyakinan menjadi fondasi bagi seluruh amal dan perilaku manusia. Seseorang yang memilikinya tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi tekanan kehidupan, godaan dunia, maupun berbagai ujian zaman.

Namun, keyakinan memiliki sejumlah musuh yang dapat melemahkannya secara perlahan. Kebodohan, angan-angan kosong, dan keraguan merupakan penyakit batin yang bukan hanya mengganggu kejernihan berpikir, tetapi juga dapat menghalangi manusia dalam mengenali kebenaran. Ketiganya menjadi penghambat utama dalam perjalanan spiritual menuju kesempurnaan.

Kebodohan, Pangkal Keterpurukan Spiritual

Dalam terminologi Islam, kebodohan dikenal dengan istilah jahl. Ia merupakan salah satu bentuk kekurangan mendasar dalam diri manusia. Dalam kehidupan beragama, kebodohan menjadi persoalan serius apabila seseorang membiarkan dirinya tidak memahami ajaran agama, padahal kesempatan untuk belajar terbuka luas.

Tradisi Ahlulbait memberikan perhatian besar terhadap kedudukan ilmu. Salah satu riwayat dari Imam Ja’far Shadiq as menggambarkan bagaimana ilmu dapat mengangkat kedudukan seseorang melampaui usia maupun status sosialnya.

Dalam sebuah majelis yang dihadiri bangsawan Quraisy dan tokoh Bani Hasyim, Imam Ja’far Shadiq as mempersilakan Hisyam bin Hakam, seorang pemuda, duduk di dekat beliau. Ketika sebagian orang mempertanyakan keputusan tersebut, Imam menjelaskan:

“Ini adalah penolong kami dengan hati, lidah, dan tangannya.”

Beliau kemudian membacakan firman Allah:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11).

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh usia, keturunan, atau kedudukan sosial. Ilmu merupakan salah satu ukuran utama keutamaan seseorang.

Dalam pembahasan mengenai kebodohan dikenal istilah jahl basith, yaitu ketidaktahuan sederhana. Seseorang berada dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu yang semestinya dapat dipelajari. Misalnya, tidak memahami dasar-dasar agama, tata cara ibadah, atau hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari.

Setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, berkewajiban mempelajari pengetahuan agama yang diperlukan dalam kehidupannya. Pengetahuan tentang salat, wudu, puasa, haid, najis, serta berbagai ketentuan ibadah lainnya tidak semestinya diabaikan. Demikian pula kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar. Sebab, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk memperoleh pahala, melainkan sumber petunjuk yang harus dipahami dan dijadikan pedoman kehidupan.

Ilmu: Kewajiban Sepanjang Hayat

Islam tidak membatasi pencarian ilmu pada usia atau jenjang pendidikan tertentu. Rasulullah saw bersabda, “Mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.” Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda, “Carilah ilmu dari buaian hingga liang kubur.”

Kedua pesan tersebut menegaskan bahwa belajar merupakan proses sepanjang kehidupan. Manusia dituntut terus memperluas pengetahuan, memperbaiki pemahaman, dan meningkatkan kualitas dirinya.

Bahkan, perhatian Islam terhadap pendidikan spiritual telah diperlihatkan sejak awal kehidupan manusia. Tradisi mengumandangkan azan dan iqamah di telinga bayi mengandung pesan bahwa kalimat tauhid dan kesaksian atas kerasulan Nabi Muhammad saw diperkenalkan sejak seseorang mengawali kehidupannya.

Sebaliknya, berpaling dari petunjuk Allah dapat membawa manusia pada kehidupan batin yang sempit. Al-Qur’an menyatakan:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124).

Penghidupan yang sempit tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan materi. Ia juga dapat menggambarkan kegelisahan, kehilangan ketenteraman, dan kekosongan spiritual akibat jauhnya manusia dari petunjuk Allah.

Karena itu, keberhasilan pendidikan formal semestinya berjalan beriringan dengan pendidikan agama. Gelar akademik dan pencapaian duniawi memang bernilai, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan pengetahuan yang menjadi fondasi kehidupannya sebagai seorang Muslim.

Keraguan dan Rapuhnya Keyakinan

Selain kebodohan, keraguan merupakan ancaman bagi kemantapan iman. Keraguan terhadap tauhid, Islam, hari akhir, maupun ajaran para Imam Ahlulbait dapat menjadi persoalan serius apabila tidak diikuti usaha mencari pemahaman yang benar.

Pada dasarnya, pertanyaan dan keraguan dapat menjadi bagian dari proses pencarian intelektual. Seseorang mungkin mengalami kebingungan ketika berhadapan dengan persoalan yang belum dipahaminya. Namun, keraguan akan menjadi penyakit batin apabila dibiarkan berkembang tanpa pencarian ilmu dan refleksi yang mendalam.

Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang-orang yang mengalami perubahan iman secara berulang:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekufurannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka.” (QS. an-Nisa’: 137).

Ayat ini memperlihatkan keadaan manusia yang tidak memiliki kemantapan dalam menentukan sikap terhadap kebenaran. Ketika iman tidak berakar pada pengetahuan dan pemahaman, seseorang menjadi mudah berubah karena pengaruh keadaan, tekanan sosial, maupun berbagai godaan.

Imam Ja’far Shadiq as menggambarkan seorang mukmin sebagai gunung yang kokoh dan tidak tergoyahkan oleh badai. Dalam riwayat lain, mukmin diibaratkan seperti tangkai gandum yang dapat condong ke kanan dan kiri ketika diterpa angin, tetapi akarnya tetap tertanam kuat di tanah.

Kedua gambaran tersebut menunjukkan bahwa keteguhan iman bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi kesulitan atau pergulatan batin. Seorang mukmin dapat bersikap lentur menghadapi perubahan keadaan, tetapi tidak kehilangan pijakan prinsip dan keyakinannya.

Kematian: Ujian Terakhir Keyakinan

Salah satu ujian paling mendalam dalam perjalanan spiritual manusia adalah menghadapi kematian. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali bin Abi Thalib as berkata kepada Harits Hamadani:

“Wahai Harits, setiap manusia akan melihatku saat sakaratul maut.”

Riwayat ini mengandung pesan spiritual mengenai hubungan manusia dengan Amirul Mukminin ketika menghadapi akhir kehidupannya. Sakaratul maut menjadi pengingat bahwa keyakinan tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi harus tertanam dalam hati.

Pada saat kematian mendekat, keterikatan terhadap dunia, kecemasan, dan godaan setan dapat menjadi ujian bagi keteguhan iman. Karena itu, manusia perlu senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan akhir kehidupan yang baik:

“Ya Allah, jadikanlah akhir urusan kami dalam kebaikan, dan jangan jadikan akhir hidup kami dalam keburukan.”

Jangan sampai kebodohan dan keraguan yang dibiarkan selama puluhan tahun justru menjadi penghalang ketika manusia menghadapi kematian. Jangan sampai seseorang menghabiskan hidupnya dengan mengucapkan kecintaan kepada Amirul Mukminin, tetapi tidak pernah berusaha memperkuat kecintaan itu melalui ilmu, pengenalan, dan penghayatan terhadap ajaran beliau.

Menjadi Kokoh dalam Keyakinan

Pesan ini terutama penting bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi dan beragam pandangan yang saling berhadapan, kemampuan menjaga kemantapan keyakinan menjadi kebutuhan mendasar.

Mencintai Ahlulbait harus disertai pengetahuan dan argumentasi. Mendukung suatu perjuangan tidak berarti menutup mata terhadap kekeliruan individu-individu di dalamnya. Demikian pula, keimanan tidak seharusnya dibangun di atas fanatisme tanpa pemahaman, melainkan melalui pengenalan mendalam terhadap prinsip-prinsip kebenaran.

Karena itu, belajar merupakan jalan yang tidak boleh ditinggalkan. Memahami risalah amaliah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, mendalami usuluddin, serta mempelajari hadis dan riwayat Ahlulbait merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi spiritual.

Pada akhirnya, kebodohan bukan sekadar ketidaktahuan. Ia dapat menjadi hijab yang menghalangi hati untuk mengenali kebenaran. Sebaliknya, ilmu membuka jalan bagi tumbuhnya keyakinan. Keyakinan yang berakar pada ilmu akan melahirkan keteguhan, sementara keteguhan membantu manusia tetap istiqamah menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Sebagaimana firman Allah, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11).

Iman dan ilmu merupakan dua unsur yang saling menguatkan. Keduanya menjadi bekal agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan kesadaran, menjaga kemurnian keyakinan, dan mengakhiri perjalanan dunia dalam keadaan yang diridai Allah.


Disarikan dari buku karya Ayatullah Husain Mazhahiri, Membentuk Pribadi Menguatkan Ruhani.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT