Kajian Al-Qur’an dan Pemikiran Allamah Thabathabai
Di tengah kemajuan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, manusia modern justru menghadapi sebuah paradoks yang menggelisahkan. Kita hidup pada zaman ketika informasi tersedia dalam hitungan detik, komunikasi melintasi benua berlangsung sekejap, dan berbagai kebutuhan material dapat dipenuhi lebih mudah dibanding generasi sebelumnya. Namun pada saat yang sama, semakin banyak manusia yang merasa hampa, kehilangan arah, dan tidak menemukan makna dalam kehidupannya.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya perasaan kesepian, kecemasan, depresi, dan krisis identitas yang melanda berbagai lapisan masyarakat. Banyak orang memiliki pekerjaan yang baik, rumah yang nyaman, dan kehidupan yang tampak sukses dari luar, tetapi di dalam dirinya tersimpan pertanyaan yang tidak kunjung terjawab: untuk apa semua ini? Mengapa saya hidup? Ke mana saya akan pergi setelah kematian?
Dalam pandangan Al-Qur’an, krisis terbesar manusia bukanlah kemiskinan, bukan pula kekurangan fasilitas hidup. Krisis terbesar manusia adalah ketika ia kehilangan makna keberadaannya. Ketika manusia tidak lagi memahami dari mana ia berasal, mengapa ia diciptakan, dan ke mana ia akan kembali, maka seluruh aktivitas hidupnya kehilangan arah dan tujuan.
Manusia yang Kehilangan Tujuan
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan secara sia-sia. Allah berfirman:
“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun [23]: 115).
Ayat ini menyentuh salah satu pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Jika hidup hanya dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian, maka seluruh perjuangan manusia pada akhirnya tidak memiliki makna yang kokoh. Kesuksesan, kekayaan, dan prestasi akan berakhir ketika ajal tiba.
Karena itu Al-Qur’an mengajarkan bahwa kehidupan manusia merupakan bagian dari perjalanan yang lebih besar. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tahap sementara dalam perjalanan menuju kehidupan yang lebih luas dan lebih abadi.
Menurut Allamah Muhammad Husain Thabathabai, salah satu akar penderitaan manusia modern adalah terputusnya hubungan antara kehidupan dunia dengan tujuan transendennya. Ketika manusia memandang dirinya hanya sebagai makhluk biologis yang lahir secara kebetulan dan mati tanpa tujuan, maka hidup kehilangan makna yang sesungguhnya.
Dalam Tafsir al-Mizan, Thabathabai menjelaskan bahwa fitrah manusia selalu mencari tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar kenikmatan material. Karena itu, meskipun seseorang berhasil mengumpulkan berbagai bentuk kesenangan duniawi, jiwanya tetap akan merasakan kekosongan apabila tidak menemukan hubungan dengan tujuan penciptaannya.
Kemajuan yang Tidak Menjamin Kebahagiaan
Manusia modern sering berasumsi bahwa kebahagiaan akan tercapai apabila kebutuhan material terpenuhi. Karena itu energi kehidupan dihabiskan untuk mengejar harta, status sosial, popularitas, dan berbagai simbol keberhasilan lainnya.
Namun pengalaman menunjukkan bahwa keberlimpahan materi tidak selalu melahirkan ketenangan. Banyak orang yang telah mencapai puncak karier justru mengalami kehampaan eksistensial. Banyak tokoh terkenal mengakui bahwa popularitas tidak mampu mengisi kekosongan batin mereka.
Al-Qur’an telah mengingatkan fenomena ini jauh sebelum lahirnya peradaban modern. Allah berfirman:
“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Ayat ini menunjukkan bahwa sumber ketenangan manusia tidak terletak pada benda-benda yang dimilikinya, melainkan pada hubungan spiritualnya dengan Allah. Harta dapat memenuhi kebutuhan fisik, tetapi tidak mampu mengisi kebutuhan terdalam ruh manusia.
Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa hati manusia memiliki orientasi yang melampaui dunia material. Oleh karena itu, ketika manusia mencoba memuaskan kebutuhan ruhani hanya melalui sarana-sarana duniawi, ia akan terus mengalami rasa lapar spiritual yang tidak pernah berakhir.
Kehilangan Makna dan Kehilangan Identitas
Salah satu gejala paling nyata dari krisis makna adalah hilangnya identitas. Banyak manusia modern tidak lagi mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Mereka mendefinisikan diri berdasarkan pekerjaan, jabatan, kekayaan, atau pengakuan sosial. Ketika semua itu hilang, mereka merasa kehilangan dirinya sendiri.
Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang berbeda. Manusia bukan sekadar tubuh, profesi, atau status sosial. Manusia adalah makhluk yang memiliki ruh dan diciptakan untuk mengenal Tuhannya.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).
Menurut Thabathabai, fitrah merupakan kecenderungan terdalam manusia untuk mencari kebenaran, kesempurnaan, dan Tuhan. Ketika fitrah ini diabaikan, manusia mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Ia mungkin mengenal dunia, tetapi tidak mengenal hakikat dirinya.
Akibatnya, manusia menjadi mudah kehilangan arah. Ia berpindah dari satu tujuan ke tujuan lain tanpa pernah menemukan kepuasan yang sejati.
Mengapa Kehidupan Terasa Hampa?
Dalam banyak ayat, Al-Qur’an menggambarkan manusia yang menjauh dari Allah sebagai manusia yang hidup dalam kesempitan meskipun secara lahiriah memiliki banyak hal.
Allah berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha [20]: 124).
Kesempitan yang dimaksud dalam ayat ini tidak selalu berarti kemiskinan ekonomi. Banyak orang kaya yang hidup dalam kegelisahan. Banyak orang berpengaruh yang tidak mampu menikmati hidupnya.
Menurut Thabathabai, kesempitan hidup dalam ayat tersebut adalah keadaan ketika jiwa kehilangan orientasi dan tujuan. Hati manusia menjadi terombang-ambing oleh berbagai keinginan yang tidak pernah selesai. Ia terus mengejar sesuatu, tetapi tidak pernah merasa sampai.
Karena itu krisis makna pada hakikatnya adalah krisis ruhani. Ia tidak dapat diselesaikan hanya dengan terapi material, hiburan, atau konsumsi yang lebih besar. Yang dibutuhkan adalah menemukan kembali hubungan antara manusia dengan sumber keberadaannya.
Kembali Menemukan Makna
Lalu bagaimana Al-Qur’an menawarkan jalan keluar?
Pertama, manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang sedang melakukan perjalanan menuju Allah.
Al-Qur’an menyatakan:
“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka engkau akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq [84]: 6).
Ayat ini memberikan makna mendalam bagi kehidupan. Setiap pengalaman, setiap ujian, setiap keberhasilan dan kegagalan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan menuju Allah.
Kedua, manusia perlu membangun kembali hubungan dengan Al-Qur’an. Dalam pandangan Thabathabai, Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum atau kitab ritual, melainkan petunjuk yang menjelaskan hakikat keberadaan manusia dan tujuan hidupnya.
Ketiga, manusia perlu melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Imam Ali a.s. berkata:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Pengenalan diri merupakan langkah awal untuk menemukan kembali makna hidup yang hilang.
Penutup
Krisis terbesar manusia modern bukanlah kurangnya teknologi, bukan pula minimnya fasilitas hidup. Krisis terbesar manusia modern adalah kehilangan makna hidup.
Ketika manusia melupakan asal-usulnya, mengabaikan fitrahnya, dan memutus hubungan dengan Allah, maka seluruh pencapaian duniawi tidak mampu menghilangkan kekosongan batin yang dirasakannya.
Pemikiran Allamah Thabathabai mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa tujuan. Di dalam dirinya terdapat kerinduan yang tidak akan terpuaskan oleh harta, kekuasaan, atau popularitas. Kerinduan itu adalah panggilan fitrah untuk kembali kepada Allah.
Karena itu, solusi atas krisis makna bukanlah memiliki lebih banyak hal, melainkan memahami mengapa kita ada. Sebab ketika manusia menemukan tujuan penciptaannya, ia akan menemukan arah hidupnya. Dan ketika ia menemukan Allah, ia akan menemukan dirinya sendiri.