Dunia yang Tampak Besar, Tetapi Sebenarnya Sementara
Tidak ada manusia yang hidup tanpa berhubungan dengan dunia. Setiap hari manusia bekerja, belajar, membangun keluarga, mencari nafkah, mengejar cita-cita, dan berusaha meraih kebahagiaan. Dunia menjadi ruang tempat manusia mengukir sejarah hidupnya. Namun menariknya, Al-Qur’an justru berulang kali menggambarkan dunia dengan istilah yang mengejutkan: permainan, senda gurau, dan perhiasan yang menipu.
Allah Swt. berfirman:
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 64)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian dan berlomba dalam memperbanyak harta dan anak…” (QS. Al-Hadid [57]: 20)
Sekilas ayat-ayat ini menimbulkan pertanyaan. Jika dunia hanya permainan, mengapa Allah menciptakannya? Mengapa para nabi diutus ke dunia? Mengapa manusia diperintahkan bekerja, menikah, berdagang, membangun masyarakat, bahkan mendirikan peradaban?
Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat lebih dalam bagaimana Al-Qur’an memandang dunia dan posisi manusia di dalamnya.
Dunia Tidak Buruk, Tetapi Tidak Boleh Menjadi Tujuan
Banyak orang memahami ayat-ayat tentang dunia secara keliru. Mereka mengira Islam mengajarkan manusia untuk membenci dunia. Padahal Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan sikap anti-dunia.
Rasulullah saw. hidup di dunia. Beliau berdagang, memimpin masyarakat, membangun pasar, mengatur pemerintahan, dan membina keluarga. Imam Ali a.s. juga hidup di tengah masyarakat, bekerja di kebun kurma, menggali sumur, serta memimpin sebuah negara yang luas.
Karena itu, yang dicela oleh Al-Qur’an bukanlah dunia sebagai ciptaan Allah. Yang dicela adalah keterikatan berlebihan kepada dunia sehingga manusia melupakan tujuan hidupnya.
Allamah Muhammad Husain Thabathabai menjelaskan bahwa dunia menjadi tercela ketika manusia menjadikannya sebagai tujuan akhir, bukan sebagai sarana menuju kesempurnaan ruhani dan kedekatan kepada Allah. Dunia pada dirinya adalah salah satu ayat Allah, tetapi ketika manusia tenggelam di dalamnya dan melupakan akhirat, dunia berubah menjadi hijab yang menutupi pandangan batin. (Tafsir al-Mizan, tafsir QS. Al-Hadid: 20)
Mengapa Disebut Permainan?
Kata la’ib yang digunakan Al-Qur’an berarti permainan. Permainan biasanya membuat seseorang terlibat secara emosional. Anak-anak bermain dengan penuh kesungguhan. Mereka tertawa ketika menang dan menangis ketika kalah. Namun ketika permainan itu berakhir, semua kegembiraan dan kesedihan tadi kehilangan nilainya.
Al-Qur’an menggunakan istilah ini untuk menggambarkan banyak aktivitas manusia di dunia. Manusia sering menghabiskan hidupnya untuk sesuatu yang pada akhirnya harus ditinggalkan.
Seseorang menghabiskan puluhan tahun mengejar jabatan.
Orang lain mengorbankan seluruh energinya demi kekayaan.
Sebagian lagi hidup demi popularitas dan pujian manusia.
Mereka berkompetisi, bertengkar, bahkan bermusuhan demi sesuatu yang tidak akan mereka bawa ketika meninggal dunia.
Ketika kematian datang, semua yang selama ini tampak besar dan penting tiba-tiba terlihat kecil. Harta tetap tinggal. Jabatan berpindah tangan. Rumah diwariskan kepada orang lain. Nama perlahan dilupakan.
Dari sudut pandang akhirat, banyak hal yang dianggap sangat penting dalam kehidupan ternyata tidak lebih dari permainan yang sementara.
Dunia adalah Ujian, Bukan Tujuan
Al-Qur’an tidak hanya menyebut dunia sebagai permainan. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga menyebut dunia sebagai tempat ujian.
Allah berfirman:
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)
Di sinilah letak keseimbangan pandangan Islam. Dunia memang sementara, tetapi bukan berarti tidak penting. Dunia adalah arena ujian yang menentukan nasib manusia di akhirat.
Seorang siswa mungkin hanya menghabiskan dua jam untuk mengikuti ujian. Waktunya singkat. Namun hasil ujian itu dapat menentukan masa depannya selama bertahun-tahun.
Begitu pula dunia. Dibandingkan kehidupan akhirat yang abadi, usia manusia sangatlah singkat. Namun kehidupan yang singkat ini menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan yang tidak berkesudahan.
Karena itu dunia tidak boleh dianggap sebagai tujuan, tetapi juga tidak boleh diremehkan. Dunia adalah ladang tempat manusia menanam amal untuk dipanen di akhirat.
Mengapa Manusia Sulit Melepaskan Dunia?
Jika dunia hanya sementara, mengapa manusia begitu sulit melepaskan keterikatannya kepada dunia?
Syahid Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa salah satu karakteristik manusia adalah memiliki keinginan yang tidak terbatas. Manusia selalu menginginkan lebih banyak daripada yang dimilikinya.
Ketika miskin, ia ingin kaya.
Ketika kaya, ia ingin lebih kaya.
Ketika terkenal, ia ingin lebih terkenal.
Ketika berkuasa, ia ingin kekuasaan yang lebih besar.
Masalahnya, dunia bersifat terbatas, sedangkan jiwa manusia memiliki kerinduan yang tidak terbatas. Karena itu dunia tidak pernah mampu memuaskan manusia secara sempurna.
Menurut Muthahhari, kegelisahan manusia modern justru muncul ketika ia mencoba memuaskan kebutuhan ruhani dengan benda-benda material. Padahal ruh manusia diciptakan untuk mengenal Allah, bukan sekadar mengumpulkan kenikmatan duniawi.
Pelajaran dari Nahjul Balaghah
Imam Ali a.s. memberikan gambaran yang sangat indah tentang dunia dalam Nahjul Balaghah.
Beliau berkata:
“Sesungguhnya dunia sedang pergi meninggalkan kalian, sedangkan akhirat sedang datang mendekati kalian.” (Nahjul Balaghah, Hikmah 28)
Dalam khutbah lain, Imam Ali menggambarkan dunia seperti bayangan yang bergerak dan tidak pernah tetap. Orang yang mengejarnya tidak akan pernah berhasil menangkapnya secara sempurna.
Pandangan Imam Ali tidak mengajak manusia meninggalkan kehidupan. Sebaliknya, beliau mengajarkan agar manusia memanfaatkan dunia tanpa diperbudak olehnya.
Seseorang boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai hartalah yang memiliki dirinya.
Seseorang boleh memegang kekuasaan, tetapi jangan sampai kekuasaan menguasai hatinya.
Seseorang boleh menikmati nikmat dunia, tetapi jangan sampai melupakan Sang Pemberi Nikmat.
Karbala: Bukti Nyata bahwa Dunia Bukan Segalanya
Peristiwa Karbala merupakan salah satu pelajaran terbesar tentang hakikat dunia.
Pasukan Yazid memilih kekuasaan, keamanan, dan keuntungan duniawi. Mereka rela mengorbankan kebenaran demi mempertahankan posisi mereka.
Sebaliknya, Imam Husain a.s. dan para sahabatnya memilih mempertahankan prinsip meskipun harus kehilangan seluruh kenikmatan dunia.
Secara lahiriah mereka kalah. Namun sejarah menunjukkan bahwa kemenangan moral dan spiritual berada di pihak Imam Husain.
Nama beliau terus hidup selama berabad-abad, sedangkan banyak penguasa yang dahulu tampak kuat kini hanya menjadi catatan sejarah.
Karbala mengajarkan bahwa dunia memang penting, tetapi tidak cukup penting untuk dibeli dengan harga kebenaran.
Kehidupan yang Sesungguhnya
Al-Qur’an menyebut akhirat sebagai al-hayawan—kehidupan yang sesungguhnya.
Mengapa?
Karena seluruh kenikmatan dunia bercampur dengan kekurangan. Kesehatan bercampur dengan penyakit. Kebahagiaan bercampur dengan kesedihan. Pertemuan selalu diikuti perpisahan. Kehidupan selalu berakhir dengan kematian.
Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang tidak mengenal kefanaan. Di sanalah segala sesuatu mencapai bentuknya yang sempurna.
Karena itu orang-orang beriman memandang dunia sebagai jembatan, bukan rumah abadi. Mereka hidup di dunia, bekerja di dunia, dan membangun dunia, tetapi hati mereka tidak terikat kepada dunia.
Penutup
Ketika Al-Qur’an menyebut dunia sebagai permainan, bukan berarti dunia tidak penting. Yang ingin diajarkan Al-Qur’an adalah proporsi yang benar. Dunia harus digunakan, bukan disembah. Dunia harus dimanfaatkan, bukan dijadikan tujuan akhir.
Orang yang memahami hakikat dunia akan bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak diperbudak oleh hasilnya. Ia akan menikmati nikmat Allah, tetapi tidak melupakan akhirat. Ia akan hidup di bumi dengan kedua kakinya, tetapi hatinya tetap tertuju kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, yang tersisa bukanlah berapa banyak yang kita miliki, melainkan apa yang telah kita persembahkan untuk kebenaran, kemanusiaan, dan keridhaan-Nya.
Dan ketika tabir dunia tersingkap, manusia akan menyadari bahwa apa yang selama ini diperebutkan hanyalah permainan yang sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai.