Manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan untuk memahami dunia, tetapi juga pandangan yang memberinya arah dan tujuan hidup. Dalam perspektif Islam, tauhid bukan sekadar keyakinan tentang keesaan Tuhan, melainkan fondasi untuk memahami alam semesta, hakikat manusia, dan makna keberadaannya.
Manusia dan Kebutuhan akan Pandangan Dunia
Setiap manusia memiliki cara tertentu dalam memandang kehidupan. Cara seseorang memahami Tuhan, alam semesta, manusia, dan tujuan keberadaannya akan memengaruhi sikap, pilihan, serta tindakan yang diambilnya. Pandangan tersebut tidak selalu disadari, tetapi menjadi dasar bagi seseorang dalam menentukan apa yang dianggap penting, benar, dan layak diperjuangkan.
Murtadha Muthahhari, dalam Pandangan-Dunia Tauhid, menjelaskan bahwa pandangan dunia bukan sekadar kumpulan keyakinan. Ia merupakan fondasi pemikiran yang memberikan orientasi bagi kehidupan manusia. Sebuah pandangan dunia yang baik, menurutnya, harus memenuhi sejumlah kriteria: dapat dibuktikan melalui penalaran, memberikan makna kehidupan, membangkitkan idealisme, memperkuat tujuan sosial, serta menumbuhkan komitmen dan tanggung jawab.
Lima kriteria tersebut menunjukkan bahwa pandangan dunia memiliki konsekuensi praktis. Ia tidak cukup hanya memberikan jawaban mengenai asal-usul kehidupan, tetapi juga harus mampu menjelaskan untuk apa manusia hidup dan bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupannya.
Tanpa pandangan yang memberikan tujuan, kehidupan berisiko dipahami sebagai perjalanan tanpa arah. Manusia mungkin memiliki banyak pengetahuan dan kemampuan, tetapi tidak mengetahui untuk apa seluruh potensi tersebut digunakan.
Tauhid sebagai Pandangan Dunia
Dalam pemikiran Muthahhari, pandangan dunia tauhid merupakan pandangan yang mampu memenuhi kriteria tersebut. Tauhid tidak hanya berarti mengakui bahwa Tuhan itu Esa, tetapi juga memahami seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan keberadaan yang bersumber dari Allah dan kembali kepada-Nya.
Muthahhari menjelaskan bahwa alam semesta tercipta melalui kehendak Tuhan Yang Mahabijaksana. Keberadaan segala sesuatu tidak berlangsung secara sia-sia, melainkan berada dalam suatu tatanan yang memiliki tujuan. Alam bergerak dalam sistem yang harmonis menuju satu pusat, yakni Allah.
Ia menulis:
“Arti pandangan-dunia tauhid ialah pemahaman bahwa alam dapat maujud melalui suatu kehendak bijak, dan bahwa tatanan kemaujudan berdiri di atas dasar kebaikan dan rahmat, agar maujud-maujud dapat mencapai kesempurnaan mereka.” (hlm. 19)
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tauhid memberikan cara pandang menyeluruh terhadap realitas. Alam bukan kumpulan benda yang berdiri sendiri tanpa hubungan, melainkan ciptaan yang memiliki keteraturan, keterkaitan, dan tujuan.
Dalam perspektif ini, kehidupan tidak dapat dilepaskan dari Tuhan sebagai sumber keberadaan. Alam berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Prinsip tersebut sejalan dengan QS. al-Baqarah [2]: 156, yang menyatakan bahwa manusia adalah milik Allah dan kepada-Nya akan kembali.
Dengan demikian, tauhid bukan hanya keyakinan teologis, tetapi juga kerangka untuk memahami keseluruhan kehidupan.
Alam Semesta Tidak Diciptakan dengan Sia-sia
Pandangan dunia tauhid juga mengubah cara manusia memandang alam. Jika seluruh keberadaan merupakan ciptaan Tuhan Yang Mahabijaksana, maka alam tidak mungkin dipahami sebagai sesuatu yang hadir tanpa tujuan.
Muthahhari menjelaskan bahwa alam semesta bergerak dalam sistem yang harmonis dan diatur melalui norma-norma Ilahi. Setiap makhluk memiliki kedudukan dalam tatanan tersebut. Tidak ada sesuatu yang diciptakan tanpa tujuan, sementara manusia memiliki kedudukan khusus karena dibekali kemampuan untuk mengembangkan dirinya dan bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pandangan dunia tauhid didukung oleh kekuatan logika, ilmu, dan nalar. Keteraturan alam menjadi salah satu tanda keberadaan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana. Dengan mengamati alam, manusia dapat menemukan petunjuk mengenai kebijaksanaan yang mendasari penciptaannya.
Pandangan ini juga memberikan landasan bagi manusia untuk menghargai kehidupan. Alam bukan sekadar objek yang dapat dimanfaatkan tanpa batas, melainkan bagian dari tatanan ciptaan yang memiliki keteraturan dan tujuan.
Tuhan, Manusia, dan Makna Kehidupan
Dalam pembahasan mengenai pandangan dunia Islam, Muthahhari menempatkan Tuhan sebagai pusat seluruh keberadaan. Allah tidak menyerupai sesuatu pun, Mahakaya, Maha Mengetahui, dan Mahakuasa. Keberadaan alam semesta senantiasa bergantung pada kehendak dan pemeliharaan-Nya.
Al-Qur’an menggambarkan hubungan tersebut melalui berbagai ayat. Salah satunya QS. Qaf [50]: 16, yang menjelaskan bahwa Allah mengetahui bisikan hati manusia dan lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Dalam kerangka tauhid, manusia bukan makhluk yang terpisah dari Tuhan, tetapi juga bukan makhluk yang kehilangan kedudukan dan tanggung jawabnya. Ia hidup dalam tatanan ciptaan yang memiliki tujuan dan diberi kemampuan untuk menentukan bagaimana menjalani kehidupannya.
Muthahhari menjelaskan bahwa pandangan dunia tauhid memberikan ruh, tujuan, dan makna kepada kehidupan. Pandangan ini membangkitkan kekuatan batin, memberikan idealisme, serta mendorong manusia untuk berkorban demi tujuan yang luhur.
Di sinilah tauhid memiliki dimensi sosial. Keyakinan kepada Tuhan seharusnya tidak berhenti sebagai urusan individual, tetapi melahirkan komitmen terhadap kehidupan bersama.
Qadha dan Qadar: Ketetapan Tuhan dan Kebebasan Manusia
Salah satu persoalan penting dalam pandangan dunia tauhid adalah hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia. Jika seluruh alam berada dalam ketetapan Allah, apakah manusia masih memiliki kebebasan untuk menentukan tindakannya?
Muthahhari menjelaskan bahwa kehendak Allah bekerja melalui norma dan hukum tertentu dalam alam semesta. Hukum-hukum tersebut menjadi dasar berlangsungnya hubungan sebab dan akibat. Setiap peristiwa memiliki sebab, dan setiap tindakan menghasilkan konsekuensi.
Namun, ketetapan Ilahi tidak berarti manusia kehilangan kebebasannya. Justru dalam tatanan tersebut manusia diberi kemampuan untuk memilih, bertindak, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Muthahhari menulis:
“Manusia, sesuai dengan qadha dan qadar, adalah makhluk yang bebas, berwewenang dan bertanggung jawab atas serta dapat menentukan nasibnya sendiri.” (hlm. 23)
Gagasan ini memiliki hubungan dengan pembahasan Sayyid Abul Qasim Al-Khu’i dalam Menuju Islam Rasional. Al-Khu’i juga menekankan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan harus bertanggung jawab atas tindakannya. Pengakuan terhadap kebebasan tersebut menjadi penting agar prinsip keadilan, pahala, dan hukuman memiliki landasan moral.
Dengan demikian, kehendak Tuhan dan kebebasan manusia tidak harus dipertentangkan. Manusia hidup dalam tatanan hukum Ilahi, tetapi tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan dan menerima konsekuensi dari perbuatannya.
Muthahhari mengibaratkan hubungan kehidupan dunia dan akhirat seperti masa menanam dan masa menuai. Apa yang dilakukan manusia di dunia akan menentukan apa yang diperolehnya kelak. Kehidupan dunia bukan sesuatu yang terpisah dari akhirat, melainkan kelanjutan dari perjalanan manusia menuju pertanggungjawaban.
Tauhid sebagai Orientasi Kehidupan
Pandangan dunia tauhid pada akhirnya mengajarkan bahwa kehidupan memiliki sumber, arah, dan tujuan. Manusia tidak hidup dalam alam yang kosong dari makna, melainkan berada dalam tatanan ciptaan yang mengandung kebijaksanaan.
Keyakinan tersebut seharusnya melahirkan kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap dirinya, sesama, dan alam. Kebebasan bukan alasan untuk bertindak tanpa batas, sementara kehidupan bukan sekadar kesempatan memenuhi kepentingan material.
Sebagaimana dijelaskan Muthahhari, pandangan dunia yang baik harus mampu memberikan makna sekaligus membangkitkan komitmen dan tanggung jawab. Tauhid memenuhi tuntutan tersebut karena menempatkan kehidupan manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan tujuan penciptaan.
Pada akhirnya, memahami tauhid berarti memahami kehidupan secara menyeluruh. Ia bukan hanya pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa, tetapi juga kesadaran bahwa seluruh keberadaan memiliki hubungan dengan-Nya. Dari kesadaran itulah manusia menemukan alasan untuk hidup secara bermakna, bertindak secara bertanggung jawab, dan mengarahkan seluruh potensinya menuju kebaikan.
Referensi
- Muthahhari, Murtadha. Pandangan-Dunia Tauhid. Diterjemahkan oleh Agus Effendi, disunting oleh Ilyas Hasan. Bandung: Yayasan Muthahhari, cetakan pertama 1989, cetakan kedua 1993, hlm. 18–23.
- Al-Khu’i, Sayyid Abul Qasim. Menuju Islam Rasional: Sebuah Alternatif Memahami Islam. Diterjemahkan oleh Dede Azwar N. Jakarta: Hawra Publisher, 2003, hlm. 15–17 dan 35–36.