Ada pesan seorang pemimpin yang tidak kehilangan relevansinya meskipun masa pengabdiannya telah berakhir. Pesan tersebut bahkan dapat memperoleh makna yang lebih mendalam ketika dibaca kembali oleh generasi berikutnya. Bukan semata-mata karena siapa yang menyampaikannya, melainkan karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya melampaui batas jabatan, waktu, dan situasi politik.
Hal itu dapat ditemukan dalam nasihat-nasihat terakhir Imam Sayyid Ali Khamenei kepada para pejabat pemerintahan. Dalam pertemuan dengan Presiden dan anggota kabinet pada 7 September 2025, Pemimpin Revolusi Islam yang kemudian gugur sebagai syahid tersebut menyampaikan sejumlah pesan penting mengenai tanggung jawab kepemimpinan. Nasihatnya mencakup pemanfaatan kesempatan mengabdi, penguatan produksi, pemenuhan kebutuhan pokok, pengendalian pemborosan, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Jika dicermati, pesan-pesan tersebut sesungguhnya berbicara tentang persoalan universal yang dihadapi setiap bangsa: bagaimana kekuasaan dijalankan, sumber daya dikelola, dan kepercayaan masyarakat dipelihara.
Kesempatan Mengabdi Tidak Datang Selamanya
Pesan pertama Imam Khamenei adalah agar para pejabat menghargai kesempatan untuk melayani masyarakat. Beliau mengingatkan bahwa tidak semua orang memperoleh kesempatan memegang tanggung jawab publik dan kesempatan tersebut tidak berlangsung selamanya.
“Hargailah kesempatan untuk melayani rakyat. Kesempatan ini, pertama, tidak diberikan kepada semua orang. Kedua, kesempatan ini tidak diberikan untuk selamanya.”
Pesan ini mengandung pemahaman mendasar tentang hakikat jabatan. Kekuasaan bukanlah keistimewaan untuk dinikmati, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, setiap waktu dalam masa pengabdian seharusnya dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Imam Khamenei juga mengingatkan agar para pejabat tidak terjebak dalam pekerjaan yang tumpang tindih, birokrasi yang tidak produktif, ataupun kesibukan yang tidak berkaitan dengan kepentingan publik. Sebab, keberhasilan kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sibuk seseorang menjalankan jabatannya, melainkan dari seberapa besar persoalan masyarakat dapat diselesaikan.
Produksi sebagai Fondasi Kemandirian
Pesan kedua berkaitan dengan pentingnya produksi. Imam Khamenei secara khusus menekankan bahwa persoalan produksi harus mendapatkan perhatian serius.
Produksi bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan salah satu fondasi kemandirian suatu bangsa. Negara yang terlalu bergantung pada pasokan dari luar akan lebih rentan menghadapi tekanan ekonomi maupun perubahan situasi internasional.
Karena itu, penguatan produksi harus menjadi agenda strategis melalui pengembangan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, peningkatan kapasitas industri, dan pemanfaatan potensi alam secara produktif. Produksi juga harus diarahkan pada penciptaan nilai tambah dan perluasan kesempatan kerja.
Pesan ini mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya yang dimilikinya, tetapi juga oleh kemampuannya mengelola dan mengembangkan sumber daya tersebut. Kemandirian tidak lahir dari ketergantungan, melainkan dari kemampuan menghasilkan sesuatu melalui kekuatan sendiri.
Menjamin Ketersediaan Kebutuhan Pokok
Selain produksi, Imam Khamenei menekankan pentingnya memastikan ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok secara tepat waktu dan dalam jumlah yang memadai.
Persoalan ini berkaitan langsung dengan tanggung jawab negara terhadap kehidupan masyarakat. Stabilitas ekonomi tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan atau indikator makro, tetapi juga harus terlihat dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketersediaan pangan, energi, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya membutuhkan perencanaan yang matang. Pemerintah harus memperhatikan keseimbangan antara tingkat kebutuhan, kapasitas produksi, persediaan, dan distribusi. Tanpa pengelolaan yang baik, kelimpahan barang di satu wilayah tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat di wilayah lain.
Nasihat tersebut juga relevan dalam menghadapi ketidakpastian global. Konflik internasional, gangguan jalur perdagangan, dan gejolak pasar dapat memengaruhi pasokan kebutuhan masyarakat. Karena itu, kemampuan mengantisipasi krisis merupakan bagian penting dari tanggung jawab kepemimpinan.
Menghentikan Pemborosan dalam Pengelolaan Sumber Daya
Pesan berikutnya adalah mengenai pemborosan. Imam Khamenei mengkritik penggunaan sumber daya yang tidak efisien dan mengingatkan bahwa pemerintah sendiri dapat menjadi pihak yang paling banyak melakukan pemborosan.
Beliau menegaskan bahwa ketika pemasukan terbatas, pengeluaran juga harus dikurangi.
Prinsip ini sesungguhnya berkaitan dengan etika pengelolaan amanah. Sumber daya publik bukan milik pribadi para pejabat, melainkan harus digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pengeluaran yang tidak memiliki urgensi, proyek yang tidak produktif, kegiatan seremonial berlebihan, dan penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk pemborosan yang harus dievaluasi.
Namun, efisiensi bukan berarti memangkas seluruh anggaran tanpa mempertimbangkan manfaatnya. Penghematan harus dilakukan berdasarkan prioritas, dengan tetap melindungi kebutuhan mendasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.
Jangan Menjadi Penyampai Keputusasaan
Di antara seluruh nasihat tersebut, terdapat satu pesan yang memperoleh penekanan khusus karena disampaikan Imam Khamenei sebanyak dua kali dalam pertemuan yang sama. Beliau mengingatkan para pejabat dan insan komunikasi publik agar tidak hanya menyampaikan kelemahan, tetapi juga memperlihatkan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki bangsanya.
Beliau menyatakan bahwa setiap negara tentu memiliki kekurangan dan keterbatasan. Namun, pada saat yang sama, setiap bangsa juga mempunyai potensi, kemampuan, dan pencapaian yang patut disampaikan kepada masyarakat.
Pesan ini tidak berarti bahwa kelemahan harus disembunyikan atau kritik harus dihentikan. Kritik, evaluasi, dan pengungkapan kesalahan tetap diperlukan agar kekuasaan berjalan secara bertanggung jawab. Akan tetapi, kritik yang sehat berbeda dari narasi yang terus-menerus membangun ketidakberdayaan.
Media, pejabat, akademisi, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi secara proporsional. Mengungkap persoalan harus disertai pemahaman terhadap potensi dan kemungkinan penyelesaiannya. Sebuah bangsa membutuhkan keberanian untuk mengakui kelemahan sekaligus kepercayaan diri untuk mengembangkan kekuatannya.
Optimisme tidak dibangun dengan menutupi kenyataan, tetapi dengan mengenali kemampuan yang benar-benar dimiliki dan menggunakannya untuk memperbaiki keadaan.
Pesan yang Melampaui Masa Jabatan
Lima pokok nasihat Imam Khamenei tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kepemimpinan dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Menghargai kesempatan mengabdi, memperkuat produksi, menjamin kebutuhan pokok, menghentikan pemborosan, dan membangun komunikasi publik yang sehat merupakan bagian dari satu kesatuan etika kepemimpinan.
Pesan-pesan itu tidak hanya relevan bagi pemerintah, tetapi juga bagi dunia usaha, lembaga pendidikan, media, organisasi masyarakat, dan setiap individu yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan bersama.
Pada akhirnya, kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk melayani. Kekuatan suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya yang dimilikinya, tetapi juga pada kesungguhan mengelolanya. Sementara masa depan tidak dibangun dengan memelihara keputusasaan, melainkan melalui keberanian menghadapi kenyataan dan keyakinan untuk memperbaikinya.
Masa pengabdian seorang pemimpin mungkin berakhir, tetapi nilai-nilai yang diwariskannya dapat terus hidup. Di situlah makna terdalam sebuah kepemimpinan: bukan sekadar meninggalkan kekuasaan, melainkan mewariskan prinsip-prinsip yang berguna bagi kehidupan manusia. [ABNA]