Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Doa-Doa Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa; Doa untuk Ibadah, Qanaah, dan Rezeki (Bagian Kedua)

Rezeki, Kecukupan, dan Ketergantungan kepada Allah

Selain perhatian terhadap keselamatan para pengikut Syiah, doa-doa Sayyidah Fatimah az-Zahra juga memuat permohonan yang berkaitan dengan persoalan ekonomi. Di dalamnya terdapat doa untuk mengatasi kesulitan keuangan, pelunasan utang, memperoleh kelapangan rezeki, serta memohon agar Allah menganugerahkan sifat qanaah.

Persoalan ekonomi dalam doa-doa tersebut tidak dipandang semata-mata sebagai urusan memperoleh kekayaan atau terbebas dari kemiskinan. Ada dimensi spiritual yang menyertainya, yakni kesadaran bahwa manusia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah, keharusan mencari rezeki yang halal, serta pentingnya memiliki sifat qanaah dan rasa syukur. Kecukupan, dalam kerangka ini, bukan hanya berkaitan dengan jumlah harta yang dimiliki, tetapi juga dengan kemampuan menjaga diri agar tidak diperbudak oleh keinginan dan ketergantungan kepada sesama manusia.

Salah satu doa yang memperlihatkan hubungan antara kebutuhan hidup dan kesadaran spiritual tersebut diriwayatkan sebagai Doa Hari Kamis. Di dalamnya, Sayyidah Fatimah memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan. Beliau juga mengajarkan sebuah bentuk permohonan yang menghubungkan kelemahan manusia dengan kekuatan Allah, kemiskinan dengan kekayaan-Nya, serta keterbatasan pengetahuan manusia dengan keluasan ilmu dan kelembutan-Nya.

Doa tersebut berbunyi:

«اَللّهُمَّ اِنّی اَسْاَلُکَ الْهُدی وَالتُّقی وَ الْعِفافَ وَالْغِنی وَ الْعَمَلَ بِما تُحِبُّ وَتَرْضی، اَللّهُمَّ اِنّی اَسْاَلُکَ مِنْ قُوَّتِکَ لِضَعْفِنا وَ مِنْ غِناکَ لِفَقْرِنا وَ فاقَتِنا وَ مِنْ حِلْمِکَ وَ عِلْمِکَ لِجَهْلِنا، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَالِ مُحَمَّدٍ، وَاَعِنّا عَلی شُکْرِکَ وَذِکْرِکَ وَطاعَتِکَ وَعِبادَتِکَ، بِرَحْمَتِکَ یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ».

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, kecukupan, serta kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan ridai.

Ya Allah! Aku memohon kekuatan-Mu untuk mengatasi kelemahan kami, kekayaan-Mu untuk mengatasi kemiskinan dan kekurangan kami, serta kelembutan dan ilmu-Mu untuk mengatasi kebodohan kami.

Ya Allah! Limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Bantulah kami agar senantiasa bersyukur kepada-Mu, mengingat-Mu, menaati-Mu, dan beribadah kepada-Mu, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa permohonan kecukupan dalam doa tersebut ditempatkan bersama petunjuk, ketakwaan, dan kesucian diri. Artinya, kecukupan materi tidak dipisahkan dari pembentukan kualitas spiritual seseorang. Bahkan, doa itu ditutup dengan permohonan agar Allah senantiasa memberikan pertolongan untuk bersyukur, mengingat, menaati, dan beribadah kepada-Nya.

Dengan demikian, kecukupan yang diharapkan bukanlah kekayaan yang berdiri sendiri, melainkan keadaan yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik tanpa kehilangan orientasi penghambaan kepada Allah.

Qanaah: Merasa Cukup atas Rezeki Allah

Selain memohon kecukupan, doa-doa Sayyidah Fatimah az-Zahra juga memperlihatkan perhatian terhadap sifat qanaah. Dalam pengertian ini, qanaah bukan berarti mengabaikan kebutuhan hidup atau berhenti berusaha, melainkan kemampuan menerima dan merasa cukup atas rezeki yang telah ditetapkan Allah, tanpa membiarkan keinginan yang berlebihan menguasai diri.

Dalam doa yang bertema permohonan kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana tercantum dalam kitab Muhaj ad-Da’awat dan Bihar al-Anwar, Sayyidah Fatimah memohon agar Allah menganugerahkan sifat tersebut. Doanya berbunyi:

«اَللّهُمَّ قَنِّعْنی بِما رَزَقْتَنی وَ اسْتُرْنی وَعافِنی اَبَدا ما اَبْقَیْتَنی، اَللّهُمَّ لاتُعْیِنی فی طَلَبِ ما لَمْ تُقَدِّرْلی، وَما قَدَّرْتَهُ عَلَیَّ فَاجْعَلْهُ مُیَسَّرا سَهْلاً».

“Ya Allah! Jadikanlah aku merasa cukup dengan rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Tutuplah aibku dan berikanlah kesehatan serta keselamatan kepadaku selama Engkau masih memberiku kehidupan.

Ya Allah! Janganlah biarkan aku bersusah payah mengejar sesuatu yang tidak Engkau takdirkan untukku. Adapun segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan bagiku, jadikanlah ia mudah dan ringan untuk kuperoleh.”

Doa ini memuat dua permohonan yang saling berkaitan. Pertama, permohonan agar dianugerahi kemampuan untuk merasa cukup dengan rezeki yang telah diberikan Allah. Kedua, permohonan agar tidak dibebani oleh usaha mengejar sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk diperoleh.

Di dalamnya terkandung kesadaran tentang keterbatasan manusia dalam mengendalikan hasil kehidupannya. Manusia dapat berusaha, merencanakan, dan bekerja, tetapi tidak seluruh keinginannya akan terwujud. Karena itu, seorang hamba membutuhkan qanaah agar tidak terus-menerus terjebak dalam ketidakpuasan terhadap apa yang telah dimilikinya.

Doa tersebut juga mengandung permohonan agar segala sesuatu yang telah ditakdirkan Allah menjadi mudah untuk diperoleh. Dengan demikian, qanaah tidak berdiri sendiri sebagai sikap menerima keadaan, tetapi berjalan bersama harapan akan kemudahan, kesehatan, keselamatan, dan perlindungan Allah.

Rezeki Halal, Rasa Syukur, dan Kemandirian

Tema serupa ditemukan dalam doa Sayyidah Fatimah az-Zahra yang diriwayatkan sebagai Doa Hari Sabtu. Dalam doa ini, beliau memohon agar Allah membukakan perbendaharaan rahmat-Nya, menganugerahkan rezeki yang halal dan baik, serta menjauhkan manusia dari ketergantungan kepada selain-Nya.

Doa tersebut berbunyi:

«اَللّهُمَّ افْتَحْ لَنا خَزائِنَ رَحْمَتِکَ وَ هَبْ لَنَا اللّهُمَّ رَحْمَةً لاتُعَذِّبُنا بَعْدَها فِی الدُّنْیا وَالاْخِرَةِ، وَارْزُقْنا مِنْ فَضْلِکَ الْواسِعِ رِزْقا حَلالاً طَیِّبا وَ لا تُحْوِجْنا وَ لاتُفْقِرْنا اِلی اَحَدٍ سِواکَ وَ زِدْنا بذلِکَ شُکْرا وَاِلَیْکَ فَقْرا وَفاقَةً وَ بِکَ عَمَّنْ سِواکَ غِنیً وَ تَعَفُّفا. اَللّهُمَّ وَسِّعْ عَلَیْنا فِی الدُّنْیا، اَللّهُمَّ اِنّا نَعُوذُ بِکَ اَنْ تَزْوِیَ وَجْهَکَ عَنّا فی حالٍ وَ نَحْنُ نَرْغَبُ اِلَیْکَ فیهِ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَالِ مُحَمَّدٍ، وَ اَعْطِنا ما تُحِبُّ وَ اجْعَلْهُ لَنا قُوَّةً فیما تُحِبُّ، یا اَرْحَمَ الرّاحِمینَ».

“Ya Allah! Bukakanlah bagi kami perbendaharaan rahmat-Mu. Ya Allah! Anugerahkanlah kepada kami rahmat yang dengannya Engkau tidak lagi mengazab kami di dunia maupun di akhirat.

Karuniakanlah kepada kami dari keluasan anugerah-Mu rezeki yang halal dan baik. Janganlah Engkau menjadikan kami membutuhkan atau bergantung kepada siapa pun selain Engkau.

Dengan anugerah tersebut, tambahkanlah rasa syukur kami kepada-Mu, perbesar pula kesadaran kami akan kefakiran dan kebutuhan kami kepada-Mu. Dengan pertolongan-Mu, anugerahkanlah kepada kami kecukupan dan kemampuan menjaga kehormatan diri sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu.

Ya Allah! Lapangkanlah kehidupan kami di dunia.

Ya Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keadaan ketika Engkau memalingkan wajah-Mu dari kami, padahal kami senantiasa berharap kepada-Mu.

Ya Allah! Limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Anugerahkanlah kepada kami segala sesuatu yang Engkau cintai dan jadikanlah anugerah tersebut sebagai kekuatan bagi kami untuk melaksanakan segala sesuatu yang Engkau cintai.

Wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Doa Hari Sabtu ini memperlihatkan hubungan yang erat antara permohonan rezeki dan tujuan spiritual. Sayyidah Fatimah tidak hanya memohon agar Allah melapangkan kehidupan dan menganugerahkan rezeki yang halal serta baik. Beliau juga memohon agar anugerah tersebut tidak menjadikan manusia bergantung kepada orang lain, melainkan semakin meningkatkan rasa syukur dan kesadaran akan kebutuhannya kepada Allah.

Di sini terdapat satu hal penting: semakin besar anugerah yang diterima, semakin besar pula kesadaran seseorang bahwa dirinya tetap merupakan hamba yang membutuhkan Allah. Kekayaan tidak seharusnya melahirkan kesombongan atau perasaan tidak membutuhkan siapa pun, tetapi justru memperkuat rasa syukur dan penghambaan.

Permohonan agar tidak bergantung kepada selain Allah juga memperlihatkan dimensi kemandirian dalam kehidupan. Rezeki yang halal dan baik diharapkan menjadi jalan bagi seseorang untuk menjaga kehormatan diri, memenuhi kebutuhannya, serta tidak terpaksa menggantungkan kehidupannya kepada pihak lain.

Bagian akhir doa tersebut juga menghubungkan anugerah Allah dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang dicintai-Nya. Sayyidah Fatimah memohon agar Allah memberikan segala sesuatu yang dicintai-Nya dan menjadikan pemberian tersebut sebagai kekuatan untuk melaksanakan amal yang juga dicintai-Nya.

Permohonan ini memperlihatkan bahwa rezeki dan kelapangan hidup bukanlah tujuan akhir. Keduanya diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat penghambaan. Manusia tidak hanya memohon agar kebutuhannya terpenuhi, tetapi juga agar segala sesuatu yang diterimanya dapat digunakan untuk melakukan kebaikan yang diridai Allah.

Doa sebagai Cerminan Kasih Sayang dan Kesadaran Spiritual

Jika keseluruhan riwayat tersebut dibaca secara beriringan, tampak bahwa doa-doa Sayyidah Fatimah az-Zahra memiliki cakupan yang luas. Di satu sisi, doa-doa itu memuat pengenalan terhadap Allah, kenabian, dan imamah, serta berbagai permohonan yang berkaitan dengan kebutuhan materi dan spiritual. Di sisi lain, terdapat perhatian yang kuat terhadap keluarga, keturunan, umat Rasulullah, dan para pengikut Syiah.

Khusus mengenai para pengikut Syiah, sejumlah riwayat menggambarkan bagaimana Sayyidah Fatimah memohonkan rahmat, ampunan, dan keselamatan bagi mereka. Bahkan, terdapat riwayat yang menghubungkan doa beliau dengan syafaat pada hari kiamat. Hal ini menjadi salah satu aspek penting dalam memahami kedudukan doa-doa tersebut di dalam tradisi hadis Syiah.

Sementara itu, doa-doa mengenai persoalan ekonomi memperlihatkan bahwa kebutuhan materi tidak pernah dipisahkan dari pembentukan kualitas spiritual. Manusia diperbolehkan memohon kelapangan rezeki, kecukupan, dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, semua itu perlu disertai qanaah, rasa syukur, kemampuan menjaga kehormatan diri, dan kesadaran bahwa pada hakikatnya manusia senantiasa bergantung kepada Allah.

Dengan demikian, doa-doa Sayyidah Fatimah az-Zahra tidak hanya menyampaikan permohonan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga memperlihatkan keluasan perhatian beliau terhadap keselamatan umat dan kualitas kehidupan manusia. Kasih sayang itu menjangkau para pengikut dan pencinta Ahlulbait, sementara tuntunan spiritualnya menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana memperoleh rezeki, menyikapi kecukupan, menjaga diri dari ketergantungan, dan tetap bersyukur dalam berbagai keadaan.

Doa-doa tersebut pada akhirnya menghadirkan gambaran tentang kehidupan spiritual yang menyeluruh. Hubungan dengan Allah tidak terpisah dari kepedulian terhadap sesama, sebagaimana kebutuhan materi tidak seharusnya menjauhkan manusia dari penghambaan. Inilah salah satu kekayaan pesan yang dapat ditelusuri melalui doa-doa yang diriwayatkan dari Sayyidah Fatimah az-Zahra. (ABNA)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT